Home / Agama / Antara Jilbab dan Cadar di Indonesia
Antara Jilbab dan Cadar

Antara Jilbab dan Cadar di Indonesia

Antara Jilbab dan Cadar.

25 tahun yang lalu saya berpeluh, bergelantungan di bis di pagi hari, menembus belantara Jakarta yang asing bagi saya waktu itu, menuju kanor Depdikbud di Senayan. Tujuan saya (waktu itu bersama 2 orang teman) memprotes langkah Depdikbud yang melarang siswi memakai jilbab di sekolah. Setelah ke Depdikbud kami pergi menemui Ketua MUI waktu itu, KH Hasan Basri. Lalu kami juga pergi menemui media untuk mendapat pemberitaan.

Apa alasan pemerintah waktu itu?
1. Ini seragam yang telah ditetapkan. Patuhi.
2. Berjilbab itu membuat Anda susah dikenali, karena rambut yang tidak terlihat itu membuat orang tampak berbeda.
3. Jilbab itu terkait dengan Islam radikal.

Konyolnya, sekarang, setelah 25 tahun alasan-alasan itu dipakai untuk melarang pemakaian cadar, di sebuah kampus universitas Islam negeri. Banyak yang mendukungnya, termasuk yang istrinya berjilbab. Tidakkah mereka sadar bahwa mereka sangat Orde Baru?

Oh, cadar itu bukan syariat Islam, kata mereka. Sama, dulu juga jilbab dianggap bukan syariat Islam oleh sebagian ulama. Makanya sebelum tahun 80-an kita tak melihat ada istri ulama manapun yang berjilbab. Sekarang pun, meski minor, ada saja ulama yang berpendapat jilbab itu tidak wajib.

Salah satu dalil yang dipakai orang untuk mewajibkan jilbab adalah hadis Nabi yang merupakan nasihat beliau kepada Asma binti Abubakar,”…jangan terlihat anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini.” Sambil berkata, Nabi menunjuk ke muka dan telapak tangan. Atas dasar itu ulama menetapkan bahwa aurat perempuan adalah selain muka dan telapak tangan. Tapi ada sebagian yang menafsirnya berbeda. Nabi menunjuk ke mata, bukan muka. Atas alasan itu mereka berpendapat wajib bagi perempuan untuk bercadar.

Sadarkah Anda bahwa pendapat yang mewajibkan jilbab sama kuatnya dengan yang mewajibkan cadar? Kecuali tentu saja, bila Anda terbiasa bersikukuh menganggap pendapat Anda saja yang paling benar. Bila kita sepakat bahwa setiap pendapat dan pilihan harus dihormati, maka pendapat yang mewajibkan cadar pun harus dihormati. Sama seperti saya menghormati pendapat yang menyatakan jilbab itu tidak wajib.

Lucunya, banyak orang yang selama ini keberatan kalau jilbab dipaksakan, kini malah mendukung bila cadar dilarang.

Cadar akan menyulitkan identifikasi, kata mereka. Berapa sering sih pihak kampus melakukan identifikasi? Sebenarnya tidak sulit untuk mengidentifikasi perempuan bercadar sekalipun. Hanya diperlukan sangat sedikit ikhtiar untuk itu. Ikhtiar yang sangat layak dilakukan mengingat hak orang untuk mendapat pendidikan.

Alasan yang utama adalah, cadar itu terkait erat dengan radikalisme. Itu sungguh simplifikasi konyol. Kalau itu masalahnya, Anda tak hanya perlu melarang orang bercadar di kampus. Di seluruh negeri ini harus dilarang. Karena orang radikal tentu harus ditangkal di semua tempat. Konyol sekali kalau mereka hanya ditangkal di kampus, tapi bebas berkeliaran di tempat lain.

Demikian pula dengan alasan identifikasi. Orang bercadar harus dilarang mengunjungi tempat-tempat umum, karena mereka tidak bisa diidentifikasi. Konylol bukan? Sejak kapan kita mengidentifikasi orang-orang?

Simplifikasi bahwa cadar itu identik dengan radikalisme sama konyolnya dengan simplifikasi bahwa rok mini adalah murahan. Perempuan yang keberatan dengan simplifikasi rok mini seharusnya juga keberatan dengan simplifikasi cadar. Perempuan yang enggan cara berpakaiannya diatur orang lain, sepatutnya enggan pula bila keberatan bila cadar dilarang, karena ini soal pakain yang dipilih seseorang.

Sayangnya, ada begitu banyak orang yang dengan enteng membangun stigma radikal tadi. Ditambah argumen konyol, bahwa itu bukan pakaian budaya kia. Apakah kemeja atau blus/rok yang Anda pakai itu budaya kita?

Berhentilah mengaku toleran bila Anda masih bersikap seperti itu. (Abdurakhman H)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Islam dan Terorisme

Hubungan Agama Islam dan Terorisme

Hubungan Agama Islam dan Terorisme. Apakah Islam menjadi sumber ajaran terorisme? Ya. Buktinya sederhana, yaitu …