Home / Agama / Apakah Islam Mengajarkan Kekerasan?
Apakah Islam Mengajarkan Kekerasan

Apakah Islam Mengajarkan Kekerasan?

Apakah Islam Mengajarkan Kekerasan? Gayatri menulis artikel panjang untuk menyentil Din Syamsudin. Saya tidak ada kepentingan untuk menanggapi komunikasi dua arah itu. Apalagi semua orang memang sedang marah. Namun jika ditelusuri lebih dalam, pernyataan Gayatri itu tendensius. Saya berhak memberikan tanggapan.

Boleh saja membantah pernyataan teroris tak beragama dengan, teroris itu beragama. Khusus bom Surabaya itu pelakunya beragama islam. Tidak ada masalah di sini. Penyataan denial tentang agama teroris itu sebenarnya panjang sejarahnya, dan tujuannya agar tidak menggeneralisir umat islam seluruhnya. Bahwa masih ada umat islam yang baik. Meskipun ketika dia digunakan sebagai upaya berlepas-tangan, kita memang patut bersedih.

Saya tidak peduli apa agama Gayatri, atau berapa lama dia belajar islam. Pernyataannya itu menyakiti saya. Saya muslim, agama saya tidak mengajarkan kekerasan. Apalagi jika sampai seperti yang dikatakannya, islam mengajarkan kejahatan kemanusiaan. Saya mencintai agama ini. Dan ini pilihan sadar saya setelah mempelajari banyak hal. Jika khitan, rajam, balas-bunuh, dll, dipahami Gayatri sebagai ajaran kekerasan dalam islam, itu karena ia tak memahami kebudayaan arab.

Islam lahir dalam masyarakat yang mengalami kemundurun sosial. Perang, pembunuhan, perampokan, itu hal biasa saat itu. Seorang anak dikubur hidup-hidup dianggap kegagahan. Mengawini mantan istri-istri bapak adalah kelumrahan. Menghadapi masyarakat seperti itu tak mungkin menggunakan ajaran yang dipuji-puji Gayatri itu. Tidak mungkin mempan bagi mereka.

Maka islam mereduksi kebudayaan biadab itu agar lebih manusiawi. Islam menolak perbudakan, itu tersirat dalam pembayaran denda dengan cara memerdekakan budak. Islam menghargai perempuan, maka mereka diberikan hak waris, padahal sebelumnya tidak. Islam menghargai kehidupan, maka diberikan ganjaran keras bagi pelanggarnya. Itu yang dimaksud ayat, “Walakum fil qisasi hayatun ya ulil albab…”

Hukum-hukum itu di jaman modern sudah mengalami pembaruan. Celakanya, kaum puritan masih memakainya. Karena hukum semacam itu mestinya memang menyesuaikan jaman. Semua agama mengalami proses ini. Jadi bukan ajaran islamnya yang salah. Kekolotan dalam memahami konteksnya yang keliru.

Gayatri juga dengan serampangan memahami tafsir yang dipahami teroris itu sebagai sesuatu yang inheren dalam islam. Bahwa tafsir itu bagian dari islam. Tafsir yang dimaksud itu berbeda dari tafsir kanon. Tafsir teroris itu pemahaman yang terdistorsi. Satu produk cuci otak yang sengaja dibelokkan dari konteks.

Semua orang boleh marah dengan ulah teroris, tapi tak boleh menuding dengan membabi-buta. Banyak orang islam yang melakukan otokritik terhadap islam, tapi bukan menyerang ajarannya. Mereka melakukan itu karena merasa bersalah, mereka merasa malu. Gayatri bersembunyi dengan nama Muhamad, tapi dia juga menyerang ajaran islam. Ini sikap paradoks, sebagai upaya patronase.

Ia memukul islam dan bersembunyi di balik nama Muhamad. Padahal islam itu ya Muhamad. Menyebut Islam mengajarkan kekerasan berarti menuding Muhamad yang mempeloporinya.

Jika ajarannya keliru, berarti nabinya juga keliru. Jika nabinya keliru, berarti Tuhannya juga keliru. Pernyataan Gayatri itu jelas offside. Bukan memadamkan api, justru memantik kobaran yang baru. Saran saya, perbaiki imanmu terhadap agamamu, apapun agamamu. Berikan kritik seperlunya terhadap agama lain. Karena yang kau anggap ringan itu menyakiti yang mengimaninya. Saya salah satunya.

Apa yang dilakukan Gayatri itu bukan kritik terhadap terorisme berkedok islam, tapi menyerang islamnya. Ia membandingkan islam dan kristen dengan cara timpang. Ketika menyoroti kristen ia memberikan pemakluman bahkan glorifikasi berlebihan. Ketika ia menyoroti islam, ia menekankan kekejian dan stigma berlebihan.

Menyimpulkan islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan kejahatan kemanusiaan adalah fitnah yang keji. Gayatri gagap memahami antara politik, kebudayaan Arab dan ajaran islam. Ia memukul tiga hal itu sebagai satu paket terkutuk yang menjadi ancaman bagi dunia.

Kemarahan Gayatri sudah menjadi api besar yang menghanguskan pemakluman untuk dirinya. Jika itu dipahami dalam kerangka toleransi, ia sudah kebablasan. Toleran bukan berarti meminta orang lain bersimpati atas aksi intoleran yang menimpamu, sementara di saat bersamaan engkau menggarami luka yang lain. Mestinya ia gerakan kesalingan. Kau ingin dihormati orang lain, maka kau juga harus menghormati yang lain.

Saya mengamati ada dua bentuk sikap orang islam memaklumi penghinaan Gayatri ini. Yang memakluminya adalah orang suci, santo, wali. Mereka yang tak terpengaruh dengan gebyar duniawi. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Yang kedua adalah orang dungu, mereka yang merasa telah toleran dan membiarkan agamanya direndahkan sedemikian rupa.

Posisi saya bukan sebagai wali atau orang dungu, maka tulisan saya ini adalah kecaman untuk pernyataannya yang menyakitkan itu. Islam bukan agama yang mengajarkan kekerasan, apalagi kejahatan kemanusiaan. Lagipula teroris tidak hanya lahir dari islam, bahkan terorisme tidak hanya berlatar agama, tapi juga etnis. Fitnah Gayatri itu tidak masuk akal

Shame on you Gayatri. (Elkayeni K)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Ustaz Somad Bicara Soal Bom Bunuh Diri

Ustaz Somad Bicara Soal Bom Bunuh Diri

Ustaz Somad Bicara soal Bom Bunuh Diri. Beredar video ceramah Ustaz Somad tentang bom bunuh …