Home / Agama / Asal Usul Umat Israel Itu Bukan dari Palestina
Asal Usul Umat Israel

Asal Usul Umat Israel Itu Bukan dari Palestina

Asal usul umat Israel. Sampai saat ini masih banyak orang yang begitu saja menyakini bahwa 12 suku Israel merupakan keturunan langsung Abraham, sekaligus menjadi ahli waris eksklusif atas “tanah terjanji”. Keyakinan tersebut kemudian dijadikan pembenaran untuk berdirinya negara Israel saat ini dan berhak untuk mengusir penduduk lain yang sudah ada di sana. Atas dasar klaim yang sama IDF bahkan menembaki demonstran tanpa senjata, Jumat, 30 Maret 2018 seperti tampak dalam gambar di bawah ini. Penembakan pada Jumat itu mengakibatkan sekurang-kurangnya 15 orang terbunuh dan ratusan orang terluka.

Paling tidak ada 3 hal masih perlu didiskusikan dalam rangka itu:
1. Benarkah hanya 12 suku Israel merupakan keturunan langsung dari Abraham?
2. Benarkah hanya 12 suku itu yang masuk ke Mesir dan ke luar dari Mesir dalam peristiwa Exodus?
3. Benarkah negara Israel saat ini berhak membunuh rakyat Palestina atas nama janji Allah?

Karena negara Israel saat ini merupakan terminologi geopolitik, maka saya pun akan membahas 3 pertanyaan tersebut di atas bukan hanya menurut kisah Alkitab, karena Alkitab bukan buku politik.
Mari kita lihat secara singkat, sisi lain yang jarang diungkapkan.

Abraham dan suku-suku Kanaan menetap di Mesir
Abraham kiranya berasal dari wilayah Mesopotamia. Karena alasan yang tidak kita ketahui dengan pasti, Abraham membawa seluruh keluarganya meninggalkan desa kelahirannya sekitar tahun 2000 sM. Setelah menggembara sebagai suku (semi) nomaden, Abraham akhirnya menetap di Palestina di antara suku-suku lain yang telah ada di sana. Abraham dan keluarganya tidak mengalami tantangan dari suku-suku yang sudah ada di Palestina, kiranya karena ada hubungan kekerabatan dengan beberapa suku-suku tersebut.

Kesulitan kemudian terjadi justru karena ada masa paceklik parah melanda daerah Palestina. Bencana kekeringan mengancam, sekitar tahun 1700 sM. Abraham memutuskan untuk bermigrasi ke Mesir. Saat itu Mesir dikendalikan oleh wangsa Hyksos, salah satu suku Semit dari Palestina juga. Salah seorang petinggi wangsa Hyksos, Yusup, rupanya mempunyai hubungan dekat dengan suku pimpinan Abraham. Dengan bantuan Yusup, keluarga Abraham dan beberapa suku lain, diterima dengan tangan terbuka -bahkan memperoleh proteksi- dan dipersilahkan menempati wilayah timur-laut Mesir, bersama dengan suku-suku Kanaan lain yang sudah lebih dahulu menetap. Masing-masing suku (kelompok) hidup tanpa ikatan yang terlalu kuat satu dan yang lainnya. Di Mesir suku-suku tersebut menikmati kehidupan nyaman dan aman.

Tidak ada catatan apapun yang menunjukkan bahwa dalam kenyamanan itu mereka berpikir sebagai pewaris janji Allah kepada Abraham dan bercita-cita untuk kembali ke “tanah tarjanji”, bahkan rupanya tidak mengetahui adanya janji Allah terkait “tanah”!!! Mengapa? Karena mereka memang belum mengenal Allah sebagai Tuhan YME. Allah (El) masih dikenal sebagai salah satu dewa dari sekian banyak dewa suku-suku itu. Kiranya baru Abraham sekeluarga yang sudah mulai menyembah Allah (Yhwh).

Pergantian penguasa Mesir
Sekitar tahun 1540 sM, wangsa Hyksos dikalahkan wangsa Firaun, asli Mesir. Penguasa baru ini kurang suka pada suku-suku pendatang di timur wilayahnya, karena:
1. Suku-suku itu mempunyai hubungan kekerabatan dengan wangsa Hyksos, dikhawatirkan suatu saat akan menjadi masalah.
2. Selama ratusan tahun mereka hidup dengan sedikit sekali kontrol dari pusat
3. Jumlah para pendatang berkembang cukup pesat, dikhawatirkan akan menjadi ancaman terhadap kelangsungan wangsa Firaun.
4. Penguasa baru melihat suku-suku tersebut sebagai potensi tenaga kerja super murah, bahkan gratis
5. Di wilaya timur-laut itu juga ditempatkan para budak hasil pampasan perang dari kampanye militer ke wilayah utara/Palestina. Jadi memamng perlu di awasi.
Jadi ada pelbagai suku Semit yang akhirnya menetap di timur-laut Mesir. Maka perlu kebijakan kontrol lebih ketat atas wilayah timur-laut tersebut.

Menguatnya ikatan kekerabatan.
Ikatan kekerabatan antar beberapa suku itu menguat saat dan setelah mengalami masa sulit di bawah tekanan penguasa baru Mesir. Firaun memaksa suku-suku pendatang itu untuk kerja rodi. Khususnya ketika pembangunan sedang digalakkan dalam rangka membangun pusat perbekalan di timur untuk mendukung logistik dalam kampanye militer ke utara, ke wilayah Kanaan dan Suriah. Keadaan terus memburuk karena antusiame membangun diiringi dengan penghematan anggaran.

Sampai titik ini mereka masih belum berpikir mengenai “janji Allah”, karena memang belum mengenal sebagai satu bangsa Israel. Mereka menjadi dekat semata karena rasa senasib-sepenanggungan, bukan karena merasa sebagai satu bangsa!!!

Musa bertindak
Buruknya kondisi para budak itu, menumbuhkan simpati salah seorang anggota Kerajaan bernama Musa. Diketahui Musa ternyata juga masih kerabat para budak itu. Musa mulai membela mereka. Tindakan Musa membela para budak tentu sangat bertentangan dengan kebijakan penguasa, sehingga memaksa Musa untuk mengasingkan diri ke pedalaman, sambil mempersiapkan perlawanan dari pengasingan.

Persoalan pertama yang menantang Musa adalah bagaimana mempersatukan suku-suku itu.

Setelah cukup persiapan, Musa kembali untuk melakukan perlawanan. Menyadari bahwa para budak ini berasal dari beragam suku dan kepercayaan, maka Musa mempersatukan mereka dalam suatu wadah agama/ iman. Para budak diingatkan pada sang “EL” yang telah selalu menjadi “dewa” pelindung suku. Dan lebih jauh mengkaitkan suku-suku budak itu dengan nenek-moyang yang sama, Abraham, sebagai satu bangsa.

Untuk sementara Musa cukup berhasil menyatukan suku-suku budak tersebut dalam keyakinan yang sama. Dan akhirnya -dipimpin Musa- mereka berani melawan penguasa dan memperjuangkan kebebasan di bawah panji iman akan “EL” yang sama. Perjuangan berliku dimulai.

Tentu saja penguasa Mesir tidak rela kehilangan sumber tenaga kerja murah bahkan gratis. Berbagai tekanan pun dilakukan. Tetapi bencana alam beruntun (10 bencana?) melanda Mesir, menyebabkan penguasa Mesir tidak bisa terlalu konsen mengawasi para budak dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk meloloskan diri.

Entah mau ke mana
Kelompok budak pelarian dari Mesir, tidak mempunyai tujuan jelas. Pun Musa tidak terlalu yakin arah tujuan bagi kelompok ini. Maka wajar mereka menjadi kelompok semi-nomaden berpetualang -selama 4 dekade- di wilayah gurun antara Mesir-pesisir Semenanjung Arab-Palestina, sebelum akhirnya diputuskan untuk menuju dan menetap di Palestina.

Adalah Yosua, pengganti Musa, yang memimpin dan memastikan “kelompok pimpinan Musa” itu masuk dan mendapat tempat di wilayah Palestina.

Mengapa Palestina? Karena di sana memamng sudah menetap sejak lama, suku-suku lain yang masih kerabat, bukan karena alasan keagamaan, “tanah terjanji”!!! Hal itu jelas dari kembalinya suku-suku itu pada kepercayaan pada sesembahan masing-masing, tak lama setelah menetap di Palestina. EL (Yhwh, Allah) masih belum menjadi Tuhan satu-satunya!!!

Ok sampai di sini dulu. Silahkan masing-masing menjawab 3 pertanyaan di awal tulisan ini.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari Indonesia untuk rakyat Palestina yang sedang berduka. Salam damai bagi kita semua. (Winardi FI)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Islam dan Terorisme

Hubungan Agama Islam dan Terorisme

Hubungan Agama Islam dan Terorisme. Apakah Islam menjadi sumber ajaran terorisme? Ya. Buktinya sederhana, yaitu …