Home / Sosial / Belajar dari China : Supply Chain Agroindustri
Supply Chain Agroindustri

Belajar dari China : Supply Chain Agroindustri

Belajar itu bisa dari manapun, dan siapapun, termasuk dari negara China. Dari sana ada banyak yang dapat dipelajari, termasuk salah satunya supply chain agroindustri. (Antimedia)

Supply Chain Agroindustri

Pemerintah China mengizinkan estate food untuk tanaman Pisang kepada PMA. Beberapa bulan setelah persiapan pembebasan lahan, datanglah dua orang mengundang makan malam. Satu dari pejabat pemerintah dan satu lagi rakyat biasa. Waktu pertemuan itu pajabat pemerintah mengenalkan orang yang bersamanya. Bahwa orang itu adalah aktifis rakyat.

“Apakah mungkin kami bisa membantu anda ? Kata aktifis itu setelah diperkenalkan oleh pejabat pemerintah. Pimpinan PMA itu berpikir bahwa tentu aktifis berharap rente harga sewa tanah. “ Kami sudah dapat izin dari pemerintah untuk membuka lahan 2000 hektar. Saya rasa kami tidak butuh anda lagi “

“ Maksud saya, apakah anda ingin mengurangi ongkos buruh dan meningkatkan produksi tanpa keluar modal sendiri.” kata aktifis itu.

“ Apa maksud anda ? Pengusaha itu terkejut.

“ Mengapa anda tidak focus kepada industri pengolahan dan selebihnya urusan kami ?

“ Maksud anda “ kini dengan kening berkerut. Karena memikirkan biaya yahgn cukup besar akan ditanggung oleh dia.

“ Maksud saya, begini. Tanah itu tetap menjadi konsesi anda dari pemerintah. Kami akan mengolahnya jadi tanaman pisang dan hasil panen kami serahkan anda untuk di olah jadi downstream pisang.”

“ Harga ?

“ Tentu berdasarkan harga pasar. Kita terbuka saja. “

“ Biaya ?

“ Kami semua yang tanggung. “

“ Resiko tanam ?

“ Resiko ada pada kami. “ Kata nya dengan tersenyum.

“ Jadi apa yang anda butuhkan dari saya ? Kata pengusaha itu

“ Kontrak jangka panjang.” Katanya dengan tersenyum. Pengusaha itu memandang kepada pejabat pemerintah yang nampak mengangguk sebagai tanda dia menjamin komitmen aktifis itu benar adanya.

Tiga bulan kemudian, traktor berdatangan ke lokasi lahan untuk mematangkan tanah agar layak ditanam pisang secara estate food. Buruh berdatangan dalam jumlah besar yang sibuk bekerja menanam Pisang. Pada waktu bersamaan instalasi mesin pabrik dipasang. Setelah pabrik selesai dibangun, panen berdatangan dari ladang pisang milik PMA itu. Setiap ton pisang yang masuk ke pabrik di hargai sesuai harga pasar.

Perhatikan, pabrik PMA itu dapat supply chain bahan baku dari lahan konsesinya. Kedua, PMA itu efisien biaya fixed cost untuk upah buruh. Semua biaya produksi menjadi biaya variable sehingga membuat PMA itu aman dari kompetisi. Ketiga, PMA itu aman dari biaya modal pembukaan lahan. Sehingga capex nya hemat.

Siapa supply chain itu ? mereka adalah koperasi. Lahan 2000 hektar itu dibagi 500 orang pekerja yang tergabung dalam Koperasi. Lantas bagaimana mereka dapatkan modal ? Mereka akan mendatangi Bank dimana PMA itu melakukan negosiasi LC. Mereka ajukan kredit kepada bank. Tetapi kredit itu tidak dalam bentuk proyek. Kredit bank itu dengan skema menggadaikan warkat barang penyerahan kemudian dan itu ada performa invoice. Gimana resikonya ? Warkat ini dijamin oleh Minsheng bank.

Artinya kalau gagal delivery maka MInsheng bank akan bail out. Mengapa Minsheng mau ? karena sesuai kontrak jual beli antara PMA dan Koperasi, pembayaran penjualan hasil panen pisang itu langsung di transfer ke MInsheng bank. Bagaimana dengan modal kerja ? modal kerja Koperasi sambil menanti panen pisang di dapat dari Minsheng bank dengan skema risk management atas penjaminan utang kepada bank pemberi pinjaman kepada koperasi. Perhatikan, semua institusi terlibat secara sinergi sehingga tidak ada resiko yang akan ditanggung masing masing pihak. Gimana kalau panen gagal ? karena bibit dari pemerintah maka apabila panen gagal karena bibit yang buruk maka pemerintah akan bail out. Jadi koperasi hanya focus kepada SOP cocok tanam dan paska tanam.

Skema tersebut diatas bukan hanya pada tanaman pisang tetapi juga pada tanaman mangga, singkong, Jeruk, jagung, bunga matahari, Cabe, kedelai. bawang putih dll. Semua hasil produksi koperasi diolah di industri yang menghasilkan barang jadi sampai ke downstream. Mengapa orang mau buat industri pengolahan? karena adanya jaminan supply chain dari petani untuk menghasilkan bahan baku yang mandiri dan profesional melalui kelembagaan koperasi. Makanya industri pengolahan pertanian berkontribusi 60% atas GNP China.

Apa kuncinya sukses sistem ini ? karena petani bersatu dalam koperasi dan focus bagaimana menguasai pasar terlebih dahulu sebelum mereka melakukan proses produksi. Demi mencapai pasar itu mereka bersinergi tanpa membebani industri sebagai pembeli utama dengan minta modal atau DP. Mereka berusaha menjadi mitra terhormat atas dasar bisnis dengan prinsip win to win. Ketika pasar dikuasai maka proses produksi hanya masalah management dan risk management akan mudah di penuhi sehingga memudahkan mendapatkan financial resource. China, petaninya hebat karena mereka tidak menempatkan diri sebagai tangan dibawah.

Bagi pejabat negara china, ” petani itu orang miskin kalau kita beri mereka kemudahan maka mereka akan rakus, kita beri aturan yang ketat mereka akan mengeluh. Cara terbaik agar potensi mereka bangkit sebagai asset nasional adalah beri mereka kebebasan berproduksi dan bantu mereka mendapatkan akses pasar, serta tekhnologi, Selanjutnya uang akan datang dengan sendiri dan mereka pantas makmur secara terhormat.” PMA datang tidak untung sendiri tetapi mereka jadi agent mendistribusikan kemakmuran kepada rakyat dan itu karena kemauan rakyat sendiri yang lebih memilih bersinergi daripada mengutuki PMA. (Bandaro, EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …