Home / Politik / Desepsi yang Terjadi di Car Free Day
Desepsi yang Sedang Terjadi di Indonesia

Desepsi yang Terjadi di Car Free Day

Desepsi. Saat car free day di Jakarta minggu lalu seorang ibu dan anaknya jadi korban persekusi oleh sebuah kelompok. Sangat menguras emosi, mengingat si ibu dikepung puluhan pria di tempat umum dan terbuka lalu diteror berbagai tindakan verbal. Sosmed ramai. Kecaman muncul.

Terpojok, ‘kubu’ yang dituduh melakukan persekusi pun membantah: itu hanya sandiwara yang telah dirancang ‘lawan’, untuk membuat kacau dan menjatuhkan pamor. Sebenarnya, demikian bantahan mereka, baik si ibu dan puluhan pria yang mengepungnya hanya ‘aktor’. Mereka sedang memainkan peran ‘playing victim’ untuk menyudutkan. ‘Buktinya’, ‘para aktor’ ini memakai semacam gelang tangan yang seragam sebagai penanda.

Dalam dunia intelijen dan seni peperangan, apa yang dituduhkan ini dikenal dengan sebutan desepsi: yakni tindakan penyusupan atau penyamaran oleh seorang atau lebih agen rahasia, masuk dalam kubu lawan, untuk melakukan sabotase, keonaran dan kekacauan. Gunanya, ya, membuat bingung dan kerugian di pihak musuh.

Bukan hal baru. Masa Perang Dunia Kedua sudah dilakukan. Baik oleh Sekutu (Inggris dan Amerika) maupun oleh nazi Jerman.Tahun 1942, kapten Henry Buck, anggota batalion kelima, Resimen dari India yang diperbantukan Inggris memerangi Jerman di Afrika Utara tertangkap.

Dalam perjalanannya kapten Henry bisa meloloskan diri. Ia mengecoh beberapa pos penjagaan Jerman karena memakai seragam tentara Jerman.Kesuksesan ini memunculkan ide brilyan. Ia lalu membentuk unit tempur khusus yang terdiri atas pasukan yang tidak saja bisa berbahasa jerman tetapi juga mengerti seluk beluk, cara berpikir dan berperilaku bak tentara jerman. Dipilihlah para prajurit Inggris yang pernah sekolah dan hidup di jerman.

Unit yang kemudian diberi nama SIG (special interogation group) sukses membuat kacau Jerman. Sasarannya adalah depo BBM di garis belakang musuh. Mengingat Inggris selalu kalah dalam adu tank melawan Jerman, maka, suplai BBM yang dihantam! Sehebat apapun tank Jerman tak akan ada gunanya tanpa bahan bakar!

1944 ide ini diadopsi langsung oleh Hitler. Operasi Greif digelar. Ia menugaskan letnan kolonel Skorzeny untuk membentuk tim yang sama, direkrutlah tentara jerman yang pernah mengenyam pendidikan di Inggris dan Amerika. Aksennya khas. Kelemahannya, pasukan ini tidak bisa up-dated perkembangan terakhir di Amerika maupun Inggris. Tetapi kekacauan yang ditimbulkan sungguh dahsyat.

Tentara Amerika kerap kesasar karena plang penunjuk jalan kerap diputar ke arah berlawanan. Maklum, saat itu belum ada GPS!

Kekacauan terjadi, para prajurit jadi saling curiga!

Untuk mengatasi ini, pimpinan tertinggi sampai memberlakukan periksa ketat siapa saja yang keluar masuk markas. Agar lebih akurat diberlakukan semacam tes. Misalnya, nama ibukota negara bagian di Amerika, nama artis, judul lagu atau film terbaru, liga olah raga rugby, basket atau baseball. Yang tidak bisa menjawab langsung ditangkap.

Ketentuan ini jelas menghambat. Brigjen Bruce Clarke sampai harus menginap di tahanan PM karena salah menjawab tes liga baseball. Dan Jendral Omar Bradley tertahan di gerbang beberapa jam karena sibuk menjawab berbagai pertanyaan para serdadu lapangan yang nampaknya menikmati betul ‘menyiksa’ sang jendral dengan berbagai pertanyaan njelimet!

Begitulah, aksi desepsi ini sebetulnya hanya cocok dilakukan di masa perang, atau, setidaknya untuk meraih target-target besar -yang strategis- bagi bangsa dan negara.

Desepsi untuk pilkada atau pilpres?? Hmmm -maaf- kayaknya hanya cocok dilakukan di negara berkembang, yang cara berkampanyenya masih -bermain- di seputar pembagian kaos, sembako, uang tunai dan SARA!

Pada negara maju hal itu sudah ditinggalkan. Di sana para pemilih menyimak betul track record dan program si calon. Yang kelak menang , ya, sudah pasti karena ia mampu, bersih dan rekam jejaknya bagus.

Tak heran, meski termasuk minoritas di Inggris tapi London punya walikota beragama Islam, Sadiq Khan, dari partai buruh yang keturunan India-Pakistan.

Atau, Menteri Dalam Negeri Inggris saat ini, Sajid Javid, adalah seorang muslim keturunan Pakistan anak seorang sopir bus. Prestasinya mengkilat, 2015, ia meraih gelar: Politikus Inggris Terbaik!

Kembali lagi soal tudingan desepsi di car free day dengan tuduhan para pelaku memakai gelang tangan sebagai penanda?

Aduuuuh….ini bukan tahun 1940 an. Jaman internet. Kalau mau main desepsi -misalnya- bisa dipakai earphone canggih. Korlapnya pun pegang lokator, yang memberitahu posisi setiap anggotanya.
Gelang tangan? Serius?? (Wibisono G)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa. Hal yang sulit dipahami adalah tidak pernah kubu oposisi memberikan …