Home / Kajitow Elkayeni / Drama Kesedihan Amien Rais
Drama Kesedihan Amien Rais

Drama Kesedihan Amien Rais

Dalam sebuah video, seorang lelaki tua yang mengenakan kopyah tampak sedang membuat provokasi. Tidak tanggung-tanggung, ia membenturkan umat islam dengan polisi. Ia juga menyebut bau PKI dalam kepolisian, sebagai bumbu kebencian.

Lelaki tua itu, sesuai aba-aba sutradara, berpidato dengan memasang mimik sedih. Suaranya yang sengaja dibuat lirih itu, tiba-tiba naik tinggi dan mengancam Tito. Kapolri yang dulu sukses menangkap anak diktator, sang pembunuh hakim, Tomy Soeharto.

Di tangan kanannya, ia memegang sebutir peluru. Simbol yang ingin dilekatkan pada aparat. Sementara mimik sedih yang dibuat-buat itu untuk mewakili korban dalam demonstrasi. Ia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk membuat drama kesedihan. Dengan dikelilingi pendukungnya yang terlihat lemas. Entah karena puasa, atau memang kurang gizi.

Kesedihan yang, dengan cepat mengingatkan kita pada seorang dokter perempuan, yang menilai operasi plastik Ratna Sarumpaet adalah sebab dianiaya. Kesedihan yang dalam dunia teater, belum masuk ke kulit paling ari dari akting. Dengan kata lain, kesedihan yang diperankan itu sangat mentah dan seolah-olah. Ia tidak menjiwai apa yang sedang diperankannya.

Lelaki tua itu adalah Amien Rais. Seseorang yang lahir dari rahim Muhammadiyah, tapi menanggalkan kemuhamadiyahannya. Ia yang menjadi duri dalam daging di Partai PAN. Anak-anak muda PAN sebenarnya jengah dengan sikapnya yang oportunistik dan tak tahu malu. Tapi kuasa lelaki tua itu di PAN sangat besar. Ia bisa menunjuk dan menurunkan seseorang dengan telunjuknya.

Oleh sebab itu, mereka yang di dalam sana jengah, tapi tak kuasa bersuara. Dibungkam seutuhnya oleh sosok yang diberi gelar Sengkuni oleh netizen Indonesia.

Amien Rais adalah kegagalan masa tua yang menyedihkan. Seperti dalam video rekaan itu, ia mengatasnamakan diri mewakili umat islam. Padahal di Muhammadiyah sekalipun, suara yang memihak dirinya hanya sedikit. Itu baru struktural, belum yang kultural dan anti Amien Rais.

Itu artinya, Amien, lelaki tua yang tak tahu cara mengundurkan diri dari dunia politik itu, tidak pantas mengatas-namakan diri mewakili umat islam. Bahkan organisasi yang lebih besar seperti NU sekalipun tidak. Apalagi hanya Muhammadiyah. Apalagi hanya Amien.

Ia tidak punya kuasa sedikitpun atas Indonesia. Apalagi berpura-pura seolah orang penting di negara ini. Amien hanya seorang veteran politik yang mulai pikun. Jaringannya mulai melemah. Manuver-manuvernya kuno dan mudah ditebak. Ia telah kehilangan peluang di zaman keemasan. Menghabiskan sisa-sisa usianya dalam penyesalan tak bertepi. Namanya menjadi olok-olok di media sosial.

Dulu peruntungannya untuk jadi presiden ditelikung Gusdur. Ia mungkin menduga, Gusdur akan menolak ketika ditawari sebagai presiden dari poros tengah. Tak dinyana, Gusdur malah menerimanya. Maka dengan sekuat tenaga pula, ia kembali menjatuhkannya. Penyesalan itu terus hinggap hingga kini.

Kasihan sebenarnya. Ia yang sudah tak punya power dalam politik, sekarang ini mengais-ngais perhatian lewat pangung-panggung jalanan. Menjadi pengamen politik yang mengharapkan belas kasihan, dengan memaksakan usia rentanya disengat terik matahari.

Setelah kegagalan itu, Amien agaknya sedang menjajaki dunia berbeda. Dunia teater. Sayangnya, dalam video itu aktingnya buruk. Sorot matanya liar, tak menampakkan sedikitpun kesedihan. Suara lirihnya terlihat berpura-pura. Pepindahan dari fase sedih ke marah terlihat kaku. Tidak alami. Pendek kata, Amien gagal bahkan untuk sekadar berpura-pura sedih.

Provokasi Amien itu seperti menyiram bensin ke tengah kobaran api. Orang-orang dengan kecerdasan terbatas, akan menangkap pesan kekerasan yang sedang dikirimkan lelaki tua itu. Untungnya, ia tak bisa lagi menumpang pada gelombang massa yang besar seperti tahun 1998 dulu. Yang dengan tanpa berkeringat ia lantas mendapat julukan Bapak Reformasi. Padahal ia penumpang gelap yang memanfaatkan momentum.

Kali ini hanya ada lasykar dungu FPI, sisa-sisa barisan 212 dan preman Tanah Abang. Jumlahnya tak seberapa. Beberapa gelintir pembuat rusuh yang mulai ditangkapi aparat satu-persatu. Indonesia secara umum tidak tersulut. Pilpres telah selesai. Mereka kembali bekerja dan beraktifitas seperti biasa.

Dalam video pendek itu, Amien Rais telah mempertontonkan satu contoh buruk, menua tanpa kehormatan. Ia telah merendahkan dirinya sereceh mungkin. Padahal ia tahu, itu juga tak akan mengubah apa-apa. Negara ini terlalu kuat untuk dirobohkannya. Jika ada tambahan korban atas provokasinya itu, dosanya ditanggung olehnya.

Amien telah sampai ke batas ardzalil ‘umur, renta dengan tanpa kehormatan. Menua tanpa kebijaksanaan. Satu fase yang oleh ulama terdahulu dimohonkan agar terhindar darinya. Karena kehinaan dan kepikunan luar biasa itu akan membuat banyak orang di sekitarnya terbebani. Persis yang sedang dilakukan Amien Rais saat ini

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.