Home / Politik / Drama Politik Indonesia
Politik Indonesia
jokowi-prabowo

Drama Politik Indonesia

Semua orang tahu bahwa Prabowo sudah berambisi jadi presiden sejak puluhan tahun yang lalu, setidaknya sejak tahun 1998 silam. Untuk memuluskan rencananya diapun mendirikan Partai Gerindra. Saat Jokowi tenar, Prabowo mendukung pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI dengan tujuan ingin mendompleng popularitas Jokowi. Jokowi berhasil menjadi Gubernur DKI bahkan dicalonkan menjadi Capres 2014 oleh PDIP.

Prabowo kecewa karena menganggap Megawati tidak menepati Perjanjian Batu Tulis yang dibuat menjelang Pilpres 2009. Megawati menganggap kegagalan Megawati – Prabowo sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2009-2014 otomatis telah membatalkan perjanjian tersebut. Megawati kemudian lebih memilih mencalonkan Jokowi jadi Presiden RI karena melihat peluang politik yang terbuka lebar dan mumpung reputasi Jokowi lagi bersinar.

Di tengah kekecewaan dan kegundahannya datanglah PKS dan FPI yang akan mendukung mati-matian untuk memperjuangkan Prabowo jadi Presiden. PKS dan FPI juga ingin berkuasa tapi mereka sadar tidak memiliki kader dan figur yang populer dan disukai / dicintai rakyat. Meski berbeda ideologi (Prabowo nasionalis, PKS-FPI militan dan radikalis agama) tapi demi kepentingan bersama mereka rela bersatu. Prabowo menerima dukungan PKS-FPI dengan janji akan melakukan “pemurnian agama” sebagaimana misi suci kaum Wahabi.

Jokowipun berusaha dijatuhkan dengan berbagai kampanye hitam dan isu SARA seperti Jokowi Cina, kafir, kristen, PKI, antek asing, cengengesan, kerempeng dan sebagainya. Prabowo dipuji setinggi langit bahkan sempat dikatakan sebagai titisan Allah. Meski sudah sebarkan tabloid provokasi “Obor Rakyat”, bikin survei palsu hingga quick count abal-abal toh rencana mereka gagal juga dan Jokowi berhasil menjadi RI 1.

Gagal di Pilpres mereka berusaha menggoyang Jokowi di parlemen bahkan mereka berhasil menguasai kepemimpinan MKD dan posisi2 penting di Senayan. Tapi strategi cerdas dan permainan cantik Jokowi-JK berhasil membuat koalisi KMP yang katanya permanen menjadi bubar bahkan PAN, PPP dan Golkar berbalik menjadi pendukung pemerintah.

Gagal di Pilpres, kelompok radikalis agama masih sakit hati dan menyimpan dendam pada Jokowi. Kasus Al Maidah yang melibatkan Ahok menjadi momentum kebangkitan kaum radikalis di jagad politik Indonesia pasca Pilpres 2014. Merekapun bersatu padu untuk memenjarakan Ahok dan belakangan mereka giat meneriakkan isu “Lengserkan Jokowi” yang dianggap melindungi Ahok. Mereka seolah lupa dengan statemen Nur Cahaya Tandang pendukung Prabowo yang menista Allah karena mengatakan Prabowo adalah titisan Allah. Mereka juga giat mengajak “Aksi Rush Money” untuk menghancurkan ekonomi Indonesia, padahal aksi ini jika dilakukan akan berarti bunuh diri ekonomi alias menenggelamkan kapal sendiri.

Yang mengejutkan ada berita terbaru yang mengatakan Prabowo kini siap mendukung pemerintahan Jokowi. Mungkin Prabowo sudah sadar bahwa selama ini dia sebenarnya cuma dimanfaatkan oleh kaum radikalis sebagai jembatan untuk menguasai Indonesia. Sebagai seorang yang cerdas dan berjiwa nasionalis dia juga tahu bahwa gerakan para kaum radikalis ini sudah berlebihan, keterlaluan dan di luar akal sehat serta bertentangan dan membahayakan prinsip kesatuan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Prabowo mungkin juga sudah sadar bahwa di tahun 2019 nanti dia sudah akan berusia 70 tahun dan besar kemungkinan Jokowi masih akan maju bahkan mungkin terpilih lagi sebagai Presiden sehingga impiannya sejak kecil untuk jadi Presiden terancam kandas di tengah jalan. Daripada gigit jari dan tidak dapat apa-apa mungkin lebih baik sekarang dia mendekat pada Jokowi dan pemerintahan, siapa tahu di tahun 2019 nanti dia bisa kebagian jatah jadi Menteri Pertahanan atau bahkan Wakil Presiden.

Inilah drama telenovela politik negeri ini. Dulu melawan penjajah Belanda tidak susah karena beda bangsa, beda ras dan beda agama (dengan rakyat mayoritas). Melawan pemberontakan PKI juga tidak begitu sulit karena mereka atheis dan bertentangan dengan agama rakyat mayoritas. Yang sulit adalah melawan kaum radikal yang seagama dengan agama rakyat mayoritas. Apalagi jika mereka ditekan maka mereka akan playing victim (bersikap seolah sebagai korban) dan berteriak bahwa “pemerintah telah menindas Islam” kemudian mengkampanyekan jihad dan perang suci sampai mati terhadap pemerintah yang zalim.

Tapi jika mereka dibiarkan dan setiap permintaannya dituruti maka mereka akan semakin ngelunjak dan lama-lama akan semakin menguasai negeri ini. Akibatnya bisa jadi negara akan hancur karena Perang Saudara gara-gara ideologi sektarian dan paradigma primordialisme yang mereka sebarkan sebagaimana yang saat ini terjadi di banyak negara Islam di kawasan Timur Tengah. Dan Indonesia mungkin bisa saja berubah namanya menjadi Indonistan dan menjadi semakin mirip nasibnya dengan Pakistan dan Afghanistan. Salam super dari team Anti Media Indonesia.

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa. Hal yang sulit dipahami adalah tidak pernah kubu oposisi memberikan …