Home / Sosial / Inferiority Complex Masyarakat Indonesia
Inferiority Complex

Inferiority Complex Masyarakat Indonesia

Inferiority complex. ( revolusi mental ). Kita selalu melihat keluar sehingga kita tidak pernah bisa mengetahui hakikat kita. Kita selalu silau dengan kelebihan orang lain, dan mencibir atas kekurangan orang lain. Yang hebat kita puja dan yang buruk kita hujat. Dan ketika kebencian karena gagal berkompetisi maka pandangan akan semakin terus keluar, mencari cari kesalahan dan sekaligus berfantasi menjadi seperti orang lain yang hebat. Perhatikan bagaimana tinggi nya pemujaan kepada Erdogan dan kemudian Putin, yang pada waktu bersamaan seakan merendahkan pemimpin Indonesia. Seakan yang berasal dari luar itu hebat dan dipuja. Itu semua tak bisa dipisahkan dari sifat imperior complex.

Inferiority Complex adalah sebuah kondisi psikologis (tingkat alam bawah sadar), ketika suatu pihak merasa inferior/lemah/lebih rendah dibanding pihak lain, atau ketika ia merasa tidak mencukupi suatu standar dalam sebuah sistem. Kondisi kejiwaan ini biasanya berujung kepada kompensasi/pemujaan yang berlebihan pada suatu pencapaian atau tendensi untuk mencari pengakuan/apresiasi dari suatu pihak. Menurut penelitian, kondisi ini disebabkan notabene oleh kegagalan yang dialami secara pribadi atau kesuksesan luar biasa yang dicapai pihak lain.

Kita mudah sekali memuji orang lain dan marasa seakan kita bagian dari orang yang dipuji. Kita juga mudah menyalurkan kebencian kita terhadap seseorang dan merasa itu bagian dari kompensasi dari kekurangan kita. Apa yang saya katakan itu nampak jelas di sosial media. Lucunya walau tingkat komunitas akses internet di Indonesia tergolong tinggi tetapi tingkat gejala inperior complex juga paling tinggi didunia. Maraknya sosial media lebih karena penyaluran penyakit kelainan jiwa. Makanya konten sosial media yang memuat literasi cerdas cara berpikir berdasarkan data dan keilmuan tidak begitu diminati. Gejala ini sangat mengkawatirkan. Karena inperior complex ini dalam dunia maya melahirkan komunitas baper , bukan akal sehat.

Jadi gimana solusinya? Mari berubah. Kalau Nabi hebat akhlaknya ya itulah Nabi, engga usah dipuja berlebihan. Apa dengan memuja Nabi lantas kita akan seperti Nabi? Kan engga. Kalau Jokowi hebat akhlak dan moralnya, ya itu Jokowi. Engga usah sampai dipuji setinggi langit. Putin hebat, tetapi itu Putin, bukan anda. Jadi engga usah pula jadikan Putin sebagai standar memilih pemimpin. Erdogan itu hebat, tetap itu bukan anda. Kenapa anda sampai memujanya? Kalau ada yang buruk mengapa anda terlalu benci? Apakah anda lebih baik dari yang dibenci? Apakah hidup anda berubah setelah membenci orang lain? Hidup anda tidak ada kaitannya dengan orang lain. Nasip anda tidak juga ditentukan oleh orang lain. Jadi gimana? Sikapi hidup biasa saja. Focus terhadap diri anda dan pastikan posisi anda ada dimana? Kemudian galilah potensi diri anda untuk menjadi sebaik baiknya diri anda. Karena yang paling tahu siapa anda, ya diri anda sendiri. Orang lain hanya menduga dan pasti salah menilai anda.

Tidak harus jadi beringin, jadi semak juga tak apa, asalkan semak yang menguatkan pematang. Tidak harus jadi matahari, jadi lentera pun tak apa, asalkan lentera yang menerangkan orang ditengah badai. Tidak semua harus jadi seperti Jokowi tetapi jadilah orang yang rendah hati dalam kesabaran, dipuji tidak merasa tinggi dan di hina tidak merasa rendah. Mengapa ? Kalau anda masih terganggu dengan pandangan orang lain , anda tidak akan bisa menjadi diri anda sendiri. Selalu mengeluh kalau kurang dan cepat memuja kalau ada kepentingan, membenci kalau tersinggung. (Bandaro EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …