Home / Sosial / Jangan Salah, Kami Juga Pribumi!
Kami Juga Pribumi

Jangan Salah, Kami Juga Pribumi!

KAMI JUGA PRIBUMI. “Pribumi”, apa yang anda pahami tentang istilah ini? Rata-rata anda pasti takkan jauh dari membicarakan ras, suku, warna kulit, bentuk mata dan hidung ketika membahasnya. Istilah ini mengemuka di tengah panasnya konstelasi politik dalam negeri. To the point saja, istilah ‘Pribumi’ banyak digunakan untuk memojokkan para keturunan Tionghoa tanah air yang dianggap merebut hak supremasi dari penduduk asli. Istilah ini bagaikan belati terhunus yang digunakan untuk memojokan suatu ras namun ironisnya disarungkan ketika berhadapan dengan ras lain, yang notabene leluhurnya sama-sama tak berasal dari Nusantara.

Perkenalkan, nama saya Ahmad Zainul Muttaqin. Begitulah saya dikenal. Saya masih keturunan Arab dari ayah saya (saya memanggil beliau Abah). Saya beruntung berwajah tak sangat kental Timur Tengah karena ibu saya adalah perempuan Jawa asli. Jika dirunut secara silsilah, Abah saya adalah generasi ke-8 dari tokoh besar Taribeh Hadhramaut yang hijrah ke Indonesia di awal abad 18, Habib Hasan bin Alwi Alaydrus. Secara DNA, jarak 8 generasi sudah cukup untuk menyebut kami pribumi.

Saya sendiri adalah anak bungsu dari 12 bersaudara. Bayangkan, saya punya 11 kakak yang wajah-wajah mereka bervariasi, mulai yang kental Arabian sampai yang ga kebagian jatah Arab pun ada, syukur wajah saya masih pertengahan. 12 bersaudara ini tidak berasal dari satu ibu. Setelah istri pertama Abah saya wafat (seorang Syarifah bermarga Al Mansyur Al Hasani), Abah saya menikahi ibu saya seorang perempuan asal Jombang yang pastinya pribumi.

Ya, marga saya Alaydrus. Jid-jid saya yang pertama datang ke Indonesia turun ke tanah Sulawesi dan menikah dengan putri Raja/Bangsawan setempat. Jadi selain bergelar Sayyid, jid-jid saya juga bergelar “Andi” (walau ini tidak pernah kami pasang di depan nama). Keluarga Abah saya di Sulawesi rata-rata masih memakai gelar Andi. Bahkan gelar ini secara sosial di daerah setempat cenderung lebih ‘bernilai’ dari Alaydrus yang mereka sandang, padahal keturunan Alaydrus sendiri di kalangan Alawiyyin (katanya) dikenal berwatak ‘sombong’ karena pemilik marga ini adalah keturunan 4 Waliyullah besar di zamannya: Muhammad Mauladdawilah, Abdurrahman Assegaf, Abu Bakar as Sakran dan Abdullah al Akbar Alaydrus.

Oke, cukup nyombongnya. Tidak seperti keturunan Arab lain yang masih kental memegang culture Arab mereka, keluarga inti saya bisa dibilang 99% sangat erat dengan budaya Pribumi. Keponakan-keponakan saya biasa memanggil saya dengan panggilan “Om”. Sudah kontras dengan saya dan saudara-saudara saya yang masih memanggil paman-paman kami (saudara Abah) dengan panggilan “Ami” (paman/bahasa arab). Baru keluarga saya yang seperti ini. Di keluarga Abah saya di Samarinda Seberang, mereka masih memanggil “Ami” untuk paman. Bahkan kalau saya bertemu anak-anak misan (sepupu) saya dari keluarga Abah, mereka semua memanggil saya “Ami”, beda dengan keponakan saya di rumah. Para keponakan saya di rumah memanggil Abah saya (kakek mereka) dengan sebutan “Nenek Abah”, dan mereka adalah generasi pertama yang diajarkan memanggil kakek dengan panggilan ini. Padahal saya dan saudara-saudara saya masih memanggil alm kakek kami dengan panggilan “Bibih” (berasal dari kata “Habibi”).

Sepertinya bisa dipahami, proses ‘Pribumisasi’ panggilan di keluarga inti saya terjadi karena sejak kecil kami lebih akrab dengan keluarga ibu yang orang Jawa daripada keluarga Abah yang keturunan Arab. Abah sejak saya kecil sering ke luar menjalankan bisnis dagangnya di luar daerah. Bahkan saya sendiri baru mulai akrab dan banyak mengenal keluarga Abah saat mulai kuliah, sebelumnya hanya berkumpul dengan mereka pada momen Lebaran atau ada undangan pernikahan dll.

Abah saya adalah seorang yang sangat demokratis, moderat bahkan tak pernah mengunggulkan budaya Arabnya di hadapan ibu saya. Ia membiarkan anak-anaknya hidup mengadopsi keseharian pribumi dari ibu saya. Saya masih ingat, setiap lebaran keluarga Abah di Samarinda Seberang selalu menyajikan masakan khas Arab seperti kari kambing, roti maryam dll, sedangkan di keluarga kami selalu memasak menu lokal ayam/daging bumbu bali dan sayur nangka (saya sampai hapal menu ini hehe) dan Abah saya tak pernah protes pada ibu saya.

Bisa dibilang sejak menikah dengan ibu saya, Abah sudah mengalami proses ‘pribumisasi’ tanpa beban. Saya bahkan diceritakan ketika kelahiran saya, Abah saya mempercayakan pemberian nama kepada paman saya (Adik dari ibu saya) untuk bungsunya ini. Alhasil diberilah saya nama “Zainul Muttaqin”, dan sebagai pelengkap Abah menambahkan nama ‘Ahmad’ di depan nama saya.

Bukan hanya soal masakan, panggilan gelar, dan pemberian nama, Abah saya (saking demokratisnya) tidak begitu ketat memegang kaidah “Kafaah Syarifah” dan membebaskan anak-anak perempuannya untuk menikah dengan pria baik yang mereka pilih tanpa memandang nasab. Harus diakui, ini hal yang tabu di sebagian kalangan Alawiyyin. Hanya sebagian kakak perempuan saya yang menikah dengan sesama jamaah, selebihnya dengan Ahwal. Walaupun jika dirunut sejarah, baru generasi kami yang seperti ini. Sebelumnya Abah, Bibih, Datuk dst pun tidak pernah (setidaknya jarang) menikah ke luar jamaah, apalagi perempuan. Satu-satunya saudara perempuan Abah saya pun menikah dengan sesama jamaah dari keluarga Al Balghaits. Bahkan sampai sekarang para sepupu saya (dari Abah) masih ketat memegang “Kafaah” tersebut dan saling menikah dengan sesama Jemaah, mulai dari keluarga Assegaf, Bahsein, Al Balghaits, Al Hasani, Baraqbah, Al Habsyi dan sesama Alaydrus.

Ya, beda budaya yang dipegang, beda pula jalan yang ditempuh. Ibarat pepatah “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, itu benar-benar terjadi di keluarga saya. Abah saya sangat jauh dari fanatisme primordial, berbeda dengan sebagian kalangan Arab lain. Saya sendiri entah kapan terakhir pernah melihat beliau memakai gamis (terakhir hanya di foto saat beliau pulang haji). Setiap berangkat ke Masjid, beliau selalu memakai setelan sarung + baju koko/batik (beliau sering menjadi Imam di Masjid). Ibu saya sendiri juga tampaknya tak merasa begitu ‘keren’ diperistri keturunan Arab (hehe..), saya masih ingat ibu pernah ditanya keluarganya “Anakmu iki koyok wong Arab”, ibu dengan iseng menjawab “Arab nandi?” yang maksudnya kalimat “Arep nang ndi?” (“mau kemana” bahasa jawa).

Sekedar informasi, tidak semua keturunan Arab sangat primordial dan kaku, bahkan ada sebagian yang membuang (setidaknya tidak menampakkan) identitas-identitas eksklusif tertempel untuk membaur dengan daerah dimana ia berpijak. Mereka tak menolak budaya lokal dimana ia menumpang hidup, tak menjadi parasit dimana ia tinggal, toleran pada yang berbeda. Para Wali Songo yang dikenal kental keturunan Arab pun berdakwah dengan gamelan dan wayang. Benarlah firman Allah pada Nabi-Nya, “Jika kamu (Muhammad) bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka akan menjauh dan membencimu”.

Soal para Alawi, ada yang memanfaatkan nasab yang tertimpa padanya itu sebagai kebanggaan dan previlege (hak istimewa) tanpa tanggung jawab. Ya, itu urusan mereka. Perlu diingat, sebagian justru merasa terbebani dengan apa yang mereka miliki sejak lahir tanpa diminta, karena sadar betapa berat tanggungjawab yang dipikul selaku zurriyat Rasul. Tidak sedikit yang memilih menyembunyikan ke-Sayyid-an mereka di tengah masyarakat. Yang kedua ini banyak terjadi di generasi para leluhur, dan sedikit di generasi Alawi sekarang.

Sampai saat ini saya berada dalam posisi dimana tak pernah melihat spesial kalangan mubaligh dengan gelar kebesaran Habibnya, karena toh kami juga berasal dari pohon yang sama, sebagaimana kami tak pernah memandang remeh kalangan Ahwal, karena kami juga bagian dari mereka. Tak perlu silau dengan kalangan ini, karena menurut pengakuan Rabithah Alawiyah sendiri, di Indonesia ada jutaan keturunan Saadah (Sayyid & Syarifah) yang mayoritas merupakan keturunan Sayyid ‘Alawi bin ‘Ubaidillah (generasi ke-11 dari Rasulullah) yang lahir di Hadhramaut Yaman.

Para keturunan Alawiyyin telah membumi sejak ratusan tahun di Nusantara dan berkiprah dengan berbagai peran di masyarakat. Ada yang menjadi politisi, artis, aktivis, atlet, ulama, menteri dll. Hayoo siapa disini yang tahu bahwa artis Andi Soraya itu seorang Syarifah bermarga Assegaf? Atau politisi Wanda Hamidah adalah seorang Syarifah bermarga Bin Syekh Abu Bakar? Atau presenter Metro TV Rahma Sarita yang bermarga Al Jufri dan Fessy Alwi yang bermarga Assegaf? Atau ibunda dari penyanyi Vicky Shu yang bermarga Al Jufri? Ahh pasti tidak banyak yang tahu karena mereka tak selalu memasang fam di belakang nama.

So, tak perlu merasa sangat spesial dengan kami. Kami tetaplah golongan yang memiliki kekurangan masing-masing, walau kami sedikit dimuliakan dengan keharaman menerima zakat dan sedekah. Justru kami yang harus merasa special dengan kalian saudara-saudari Nusantara karena datuk-datuk kami diterima dengan tangan terbuka oleh kalian.

Sebagai keturunan Arab-Bugis dan Jawa yang lebih memegang budaya pribumi, alangkah aneh ketika saya melihat ada sebagian kalangan yang menilai kepribumian seseorang hanya berdasarkan suku dan ras. Padahal pribumi bukanlah hanya soal suku dan ras, tapi bagaimana budaya yang ia anut, bagaimana ia memberikan sumbangsihnya untuk mengabdi pada tanah airnya. Setiap mereka yang mencintai dan mengabdikan dirinya untuk negeri ini, ia layak menyandang gelar ‘Pribumi’, mau ia bermata sipit, berambut keriting atau bagaimanapun fisiknya.

Sementara betapa banyak manusia asli pribumi secara ras yang tak bangga menyandang kepribumiannya sendiri. Lebih memegang ideologi transnasional asing untuk mencela dan mengkafir-thogutkan budayanya sendiri. Betapa banyak para sawo matang yang lebih bangga berbelanja produk asing dibanding produk dalam negeri, memuja pemimpin asing dan mencela pemimpin sendiri, berhasrat menegakkan paham Khilafah ala Turki Utsmani dengan mencela kearifan lokalnya sendiri. Orang-orang seperti ini lah yang layak dicabut gelar pribumi dari diri mereka.

Cukup dulu ya tulisan ini. Salam bagi mereka para pribumi dan yang berjiwa pribumi. Lihatlah pribumi dalam kacamata luas bukan kacamata sempit, apalagi memanfaatkan istilah ini untuk menebar kebencian.

Salam (Mottaqin AZO)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani (1). Pendahuluan. Bro n Sis, saya bikin tulisan panjang, jadi …