Home / Sosial / Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2
Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya kemarin malam, setelah membahas tirani Produktifitas, maka malam ini saya ulas mengenai Tirani Konsumerisme.

Tirani Konsumerisme

Dengan konsumerisme saya maksudkan sebagai paham (ideologi) yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang melakukan proses konsumsi atau pemakaian barang hasil produksi secara berlebihan, melalui pelbagai cara seperti promosi2, dll. Saat paham tersebut (disadari atau tidak) diterima maka prilaku seseorang menjadi konsumtif. Hal itu terjadi karena orang kehilangan daya kritis dalam memilah “kebutuhan ” dan “keinginan”. Maka tercapailah tujuan para Industralis untuk memenuhi pasar dengan hasil produksinya.

Produk yang dihasilkan harus dipakai, harus ada yang mengkonsumsi! Tanpa konsumsi barang dan jasa menjadi sia-sia. Maka para industrialis mendorong mati-matian agar orang mengkonsumsi habis semua barang yang dihasilkan. Menjadi masalah besar ketika mereka, pekerja-pekerja yang menghasilkan barang, tidak mampu untuk mengkonsumsi produk-produk yang ada di pasar. Lalu para pekerja ini makin didorong untuk kerja makin keras, agar mampu membeli. Mereka ini justru menjadi miskin setelah produktif! Hilanglah rasa aman dan nyaman dalam hidup.

Keamanan dan kenyamanan menjauh.

Produktifitas kerja justru merampas rasa aman-nyaman, menumbulkan pelbagai ketakutan, khususnya ketakutan akan masa depan dan juga akan sesama. Persaingan ketat dalam dunia kerja terus memuncak. Orang semakin sulit menemukan ketulusan. Kesetia-kawanan semakin langka. Sesama menjadi musuh, “homo homini lupus”. Karena kapital menjadi tolok ukur pertama dan utama untuk menilai manusia.

Kerja, dulu menyatukan sesama manusia dan menyatukan manusia dengan alam, kini justru memisahkan dan menjauhkan. Kerja menjadi pemisah dan mengasingkan seseorang dari orang lain. Tidak ada lagi harmoni dengan sesama dan dengan alam. Prodiktifitas dan kerja menjadi momok yang menghantui manusia sepanjang hidupnya. Bahkan manusia diasingkan juga dari sumber daya alam yang mulai diperebutkan para kapitalis.

Perebutan SDA

Industrialisasi masiv membutuhkan sumber energi dan bahan baku untuk menggerakkan mesin-mesin moderen. Energi dan bahan baku berasal dari alam. De facto, sumber daya alam itu sangat terbatas dan prakatis tidak bisa diperbaharui. Negara-negara industri maju membutuhkan jauh lebih banyak sumber energi yang tak bisa dipenuhi dari SDA di wilayah nya sendiri. Maka negara2 industri sangat tertarik pada wilayah kaya SDA. Dengan segala cara negara2 tersebut mulai berusaha menguasai wilayah2 kaya SDA. Semangat imperialis menjadi berkobar-kobar untuk menjarah SDA tanpa rasa sungkan.

Pertemuan pelbagai negara di wilaya kaya SDA menimbulkan ketegangan dan konflik. Dan keampuhan senjata menjadi sangat penting. Maka perlombaan keampuhan senjata muncul dengan ketat. Berlaku prinsip “si vis pacem para bellum”. Berita perlombaan senjata dan perang mendominasi halaman-halaman media massa. Rasa aman-nyaman semakin jauh.

Kemandirian dividualis, lepas dari yang lain.

Dalam kecemasan dan ketakutan ini individu memaknai kemandiriannya sebagai “tidak membutuhkan yang lain dalam segala hal, kecuali dalam urusan seks”. Yang lain tak lebih dari obyek semata. Relasi antar pribadi hanya berdasarkan “keuntungan apa yang bisa kudapat”. Ketika yang lain tak menguntungkan maka segera disingkirkan. Persahabatan tulus antar pribadi semakin langka. Pernikahan pun terdampak negatif.

Pernikahan tanpa nilai.

Ketakutan juga mencederai relasi yang paling pribadi dan suci dalam pernikahan. Gejala itu tampak nyata dalam fenomena “perjanjian pra nikah” yang memisahkan harta masing-masing. Sungguh aneh, ketika membangun relasi intim, tapi masing2 takut kehilangan harta kekayaannya. Pernikahan diawali dengan ketiadaan rasa saling percaya.
Manusia tidak lagi menjadi berkat bagi sesamanya, tidak juga dalam ikatan pernikahan.

Itulah “nilai-nilai moderen” yang diadopsi dari budaya Barat, sebagai akibat dari industrialisasi moderen. Menyisakan pertanyaan “Bagaimana saya harus bersikap?”

Selamat malam. Selamat beristirahat, mimpi indah selalu ya Sis n Bro. Sampai jumpa dalam ulasan “Imperium Americanum” (Amerika). (Winardi FI)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani (1). Pendahuluan. Bro n Sis, saya bikin tulisan panjang, jadi …