Home / Politik / Kebingungan Seorang Kristiani Pada Natalius Pigai
Kebingungan Seorang Kristiani Pada Natalius Pigai

Kebingungan Seorang Kristiani Pada Natalius Pigai

Kebingungan seorang Kristiani. Menanggapi tulisan Saudaraku Natalius Pigai. Serius saya bingung mengenai klaim bendera Israel sebagai lambang Bintang Daud dari Alkitab. Lebih bikin puyeng lagi, karena mengkaitkan bendera Israel dengan kedatangan Yesus yang ke 2 atau akhir jaman. Memasukkan lambang Bintang itu dalam inti imannya, makin pening kepalaku. Apa hubungan Yesus Kristus dengan bendera??? Apa hubungannya Yesus Kristus dengan negara Israel??? Apakah pembentukan negara Israel sebagai persiapan kedatangan kedua Yesus Kristus???

Ini terkait dengan cara pandang dan cara baca Alkitab. Saya sudah beberapa kali menulis terkait Alkitab dan hal nya selalu sama, ketika Ayat2 Alkitab diperkosa untuk kepentingan tertentu maka hasilnya adalah kematian peri-kemanusiaan dan “sense of humanity”. Padahal “sense of humanity” lah inti dari Kabar Gembira (Injil) yang diwartakan dan ditawarkan Yesus: setiap manusia berharga semata karena diciptakan Allah, setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama semata-mata karena setiap manusia adalah umat Allah.

Relasi pribadi manusia dengan Penciptanya tidak berarti sedikitpun tanpa didasari oleh ketulusan. Tulus menjadi kuncinya. Tulus berarti mengalir dari hati yang bersih tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun. Beribadah kepada Allah hanya berarti jika tak mengharapkan apapun. Tidak mengharapkan kaya lebih dari miskin. Tidak mengharapkan sehat lebih dari sakit. Tidak mengharapkan cerah lebih dari mendung. Tidak mengharapkan surga lebih dari neraka. Tulus, tanpa pretensi. Hanya hadir sepenuh diri dalam hadirNya.

Mencapai ketulusan tentu merupakan proses panjang multi dimensi tanpa jalan pintas. Sebagai dasar paling penting adalah konsep mengenai manusia dan hidup itu sendiri. Dalam rangka ini peran pemuka agama berperan besar. Umat pada umumnya mengikuti saja yang disampaikan tokoh agamanya. Para pemimpin umat mempunyai peran sentral dalam komunitasnya. Dari para pamimpin inilah umat memahami spiritualitas dan imannya . Dari para pemimpin ini umat memahami diri dan hidupnya serta menyusun hirarki nilai dalam hidup. Maka para Pastor (pendeta, imam), sungguh harus bertanggung-jawab secara moral atas pandangan dan sikap umat terhadap sesama manusia sebagai wujud nyata relasinya dengan Allah.

Jalinan relasi intim dengan Allah mengalir dalam kemesraan dengan sesama, sebaliknya kemesraan dengan sesama menjadi modal untuk berdamai dengan diri dan dengan Allah di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Dalam kerangka kemanusiaan dan ketulusan itu, saya sebagai umat Kristiani tidak pernah merasa ekspresi keagamaan saya dibungkam atau ditekan terkait konflik Palestina-Israel, sebagaimana dikawatirkan oleh suadaraku terkasih Natalius Pigai di akun FB nya. Memang benar ada kelompok intoleran yang mencoba menekan dan membungkam, tapi itu hanya ulah kelompok/ oknum tertentu, dan sama sekali tidak langsung terkait konflik Palestina-Israel. Pun sudah menjadi pengetahuan dan kesadaran umum di Indonesia bahwa konflik Palestina-Israel tidak terkait persoalan agama.

Mayoritas masyarakat Indonesia sudah paham bahwa sejak awal di Palestina, umat Islam dan umat Kristen bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Bahkan beberapa tokoh elit pejuang Palestina merupakan penganut tradisi iman Kristiani, misalnya George Habbash, Theresa Halsa, Rinna Tannous, Uskup Agung Atallah Hanna, dll.

Saudaraku terkasih Natalius Pigai pun menyadari itu, maka beliau membedakan dengan tegas antara Bani Israel dan Negara Israel. Namun sayang kemudian beliau menyamakan Lambang Bintang Daud dengan bendera Israel saat ini. Suatu hal yang sangat sulit untuk dibuktikan. Sama sulitnya untuk memahami pernyataan bahwa lambang Bintang Daud terkait dengan aqidah tradisi iman Kristiani. Pengalaman iman umat Kristiani berdasarkan dan berpusat pada wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, dalam simbol salib. Maka ekspresi iman Kristiani paling mendasar adalah Salib, bukan bintang Daud.

Saya justru cemas bahwa kesalahan paham mengenai lambang Bintang Daud, mudah sekali dimanfaatkan secara tidak bertanggung-jawab oleh pihak luar, dengan menghembuskan isu sektarian.

Saudaraku Natalius Pigai juga menyinggung mengenai ketidak-pedulian mayoritas rakyat Indonesia terhadap nasib saudara/i di Papua. Mengenai hal ini kiranya catatan singkat berikut ini bisa membantu:

Selama ini bukan hanya saudara2 di Papua yang terabaikan, lihatlah bagaimana kemiskinan dan penderitaan juga menyelimuti banyak wilayah NTT, Kalimantan, dll. Karena kemiskinannya banyak saudari sebangsa dari NTT menjadi korban perdagangan manusia.

Karena memang pada awal kemerdekaan, kita masih sibuk belajar hidup berbangsa dan bernegara. Sementara pada pemerintahan Orde Baru, kita semua hidup dalam tekanan keras. Era awal reformasi kejujuran presiden KH. Abdurrahman Wahid justru ditumbangkan. Kemudian masuk dalam cengkeraman oknum2 korup.

Baru pada era pemerintahan saat ini sungguh serius membangun khususnya daerah di luar Jawa, termasuk Papua. Kita bersama sedang berpacu mengejar ketertinggalan dan pemerataan pembangunan, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terima kasih telah bersedia membaca. Salam damai selalu. (Winardi FI)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Prabowo Subianto Kehilangan Peluang

Prabowo Subianto Kehilangan Peluang?

Prabowo Subianto Kehilangan Peluang? PAN mengundang Gatot Nurmantyo untuk membahas PEMILU dan arahnya PAN mengarahkan …