Home / Nasehat / Kekuatan Sufi : Saya adalah Saya
Saya adalah Saya

Kekuatan Sufi : Saya adalah Saya

Saya adalah saya.

“ Ma, kamu punya kendaraan pribadi, anak kita semua punya kendaraan pribadi, mantu juga punya. Tetapi apakah saya punya ? Engga kan. Kemana mana saya naik angkutan umum. Lantas apakah dengan keadaan itu saya kehilangan reputasi ? Tidak kan. Saya adalah saya, dan biarlah orang mengenal saya sebagai pribadi saya.

Kalau karena itu orang menghina dan merendahkan saya, tak apa. Itu karena mareka tidak mengenal saya sebagai pribadi. Saya hanya ingin bersahabat dengan siapapun bukan karena apa yang saya dapatkan tetapi apa yang bisa saya beri. Dan karena itu tidak perlu saya di puji. Karena pujian itu tidak ada manfaatnya bagi saya dan hinaan juga tidak akan membuat saya lemah” Demikian saya katakan kepada istri. Dan istri saya dapat memaklumi, karena itu bukan retorika, tetapi dia tahu benar tentang saya.

Pada satu waktu ketika buka puasa di restoran Padang di Jalan Sabang, saya ditegur seseorang. Ternyata dia mengenal saya di fb dan merupakan salah satu follower saya. Saya mengajaknya sholat berjamaah, Setelah sholat , dia berkata “ Yang menarik dari babo di bandingkan yang lain , babo bisa tahan di bully. Padahal kita aja sampai marah. Tapi Babo menyikapinya dengan santai. “ Saya hanya tersenyum. Istri saya tidak suka saya aktif di sosmed disamping menggangu jam istirahat saya. Tetapi mereka kenal pribadi saya yang engga ngaruh di bully orang. Bahkan orang menghina pribadi sayapun, tidak akan membuat saya marah.

Dalam keseharian juga begitu. Saya praktis engga merasa punya musuh dimanapun. Juga tidak ada orang yang harus saya hormati berlebihan. Semua saya sikapi biasa saja. Mungkin karena sifat seperti itupula yang membuat orang lain tidak mudah menguasai saya atau pengaruhi saya. Bila ada teman yang mengkhianati saya, tidak akan membuat saya dendam. Bahkan tidak saya sikapi berlebihan.

Padahal saya punya resource untuk menghancurkan orang itu. Tapi saya lebih memilh melupakannya. Kalaupun ada orang mengancam secara phisik , itu tidak akan membuat saya takut tapi juga tidak membuat saya melayaninya. Kalaupun saya diserang , maka saya lebih memilih untuk menghindar dan kalau sampai dia tidak bisa dikendalikan lagi maka saya akan berusaha melindungi diri dengan niat mendamaikan emosional orang lain, tanpa ada niat menghabisi..

Mungkin anda menyikapi tulisan saya ini seperti orang menyombongkan diri. Sebenarnya tidak ada maksud itu. Mengapa ? Karena ada dua hal yang tak pernah saya tahu dalam hidup ini yaitu, sakit gigi dan sakit hati. Kedua hal itu saya tidak pernah tahu apa rasanya. Seumur hidup saya tidak pernah sakit gigi. Jadi kalau anda mengeluhkan sakit gigi , maka jangan berharap saya empati.

Seumur hidup saya tidak pernah sakit hati. Apapun yang terjadi terhadap saya, entah itu dikianati, di lecehkan, dirugikan, atau di rampok dengan modus, tetap tidak akan membuat saya sakit hati. Jadi kalau orang yang telah mengkianati saya, besok besok ketemu saya, sikap saya tidak berubah. Biasa saja. Dendam? Gimana mau dendam,? Sakit hati saja saya tidak tahu. Mungkin karena dalam GEN saya tidak ada memori marah dan sakit hati karena sikap orang lain.

Sedari kecil saya tidak pernah di bentak atau di marahi dengan kata kata kasar oleh ibu saya. Kalau saya salah, ibu saya akan memeluk saya sambil menasehati saya. Sedari kecil saya dididik rendah hati dan berusaha memaafkan orang lain. Banyak sekali nasehat hikmah yang saya peroleh dari ibu saya, bagaimana jadi orang tidak pendendam, cerdas menerima kenyataan, dan tidak takut membela kebenaran. Karenanya saya hanya bersikap keras kalau berhubungan dengan kehormatan keluarga. Dan itupun saya lakukan dengan cara cara terpelajar dan moral. Setelah bersikap, dan orang paham kesalahannya, sayapun akan memaafkan dan melupakan.

Nah, kalau saya lihat Jokowi, di bully setiap hari dan dia nampak cuek saja, Seakan tidak terganggu sama sekali. Bukan dia budek atau tidak punya hati. Tapi karena mungkin dia tidak punya GEN sakit hati. Memang kasihan juga sama orang yang bully karena tujuannya tidak tercapai. Tapi mau gimana lagi. GEN sakit hati atau marah di bully memang engga ada. Didikan ibu dari kecil sangat berpengaruh. Cobalah anda bayangkan, seorang ibu bisa tanpa emosi walau ia dihina dan fitnah masalalunya oleh haters tapi ibu jokowi tidak marah. Justru yang membuly dan memfitnahnya masuk penjara bukan karena laporannya tapi karena laporan orang lain.

Karena sifat seperti itulah yang membuat saya diterima dalam pergaulan dengan beragam suku dan bangsa. Tanpa disadari saya telah menciptakan jaringan cinta yang membuat hidup saya lapang. Tanpa menghalangi saya untuk bersilahturahmi baik kepada orang yang mencintai saya maupun yang membenci saya Semua mereka yang saya kenal adalah berkah yang harus saya terima dan hadapi dengan sabar. Dan karena itu , diusia diatas 55 saya masih bisa makan sate kambing 40 cucuk dan bekerja 18 jam sehari. Saya tidak punya penyakit darah tinggi, kolestrol. asam urat. Saya menua tapi saya bahagia walau bersahaja. (Bandaro, EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran kesabaran dari seorang Jokowi.( Revolusi mental ).“Saya nggak apa-apa dikatakan presiden gila, presiden saraf, …