Home / Internasional / Ketakutan Terhadap Invasi China
Ketakutan Terhadap Invasi China

Ketakutan Terhadap Invasi China

Ketakutan Terhadap Invasi China. (ekonomi) Investasi dan kerjasama dagang China mulai masuk massive ke Indonesia ketika era Jokowi. Sebelumnya ekspansi investasi di dominasi oleh Eropa , AS dan Jepang. Tetapi mengapa investasi China menjadi paranoia bagi sebagian elite politik terutama kaum oposisi? Padahal China tidak pernah menjajah kita seperti jepang dan Eropa. Kalau mengikuti teori konspirasi yang kita baca di sosial media dan buku maka nampak bukanlah teori cerdas tetapi lebih karena paranoia sehingga segala sesuatu di cocoklogi. Jadi apa masalah sebenarnya ? Ini tidak lepas dari tipikal investor dari China. Apa itu? Pengusaha China yang masuk ke indonesia dalam skala besar adalah BUMN dan perusahaan campuran BUMN + Swasta. Umumnya mereka terikat sangat ketat dengan UUD China yang melarang menjadikan kegiatan investasi sebagai upaya ekspor idiologi.

Makanya, investor China menghindari deal dengan proxy yang dekat dengan elite Politik yang ada di Indonesia. Beda dengan Jepang dan negara lainnya yang berusaha mendekati elite politik dan menjadikan mereka sebagai proxy untuk mendapatkan konsesi bisnis di Indonesia. Itu sebabnya para elite politik yang terbiasa mendapatkan rente dari keberadaan investor asing menjadi gerah. Karena China tidak mau deal dengan mereka. Ditambah lagi , di era Jokowi, perlakuan terhadap investor lebih adil dan transfarance. Sehingga tidak perlukan lagi akses ke lingkaran politik bagi asing kalau mau invest. Selagi mereka bawa duit dan tekhnologi serta tunduk dengan UU maka dengan mudah mereka mendapatkan izin PMA.

Ada teman merasa kecewa karena investor CHina tidak tertarik dengan perannya sebagai mediator izin untuk membangun infrastruktur dan smelter. Padahal sebelum era Jokowi, teman ini dapat uang mudah hanya menjadi proxy investor asing tanpa kerja dan tanpa keluar modal. Bukan rahasia umum bila sebelumnya , jalur sebagai mediasi investor itu melibatkan elite partai sampai kepada ormas yang punya akses kepada ring satu kekuasaan. Apa yang terjadi pada era Jokowi adalah perubahan orientasi negara kepada sektor produksi. Salah satu syarat idealnya adalah kemudahaan melakukan bisnis di Indonesia. Karenanya deregulasi dibuat dengan memangkas aturan yang memungkinkan munculnya pengusaha kelas makelar sapi yang hanya jualan izin untuk dapatkan uang mudah. Era sekarang siapapun dia selagi ada uang dan tekhnologi, entah asing, BUMN swasta akan dapatkan peluang. Siapapun yang invest negara tetap dapat pajak untuk menopang fungsi sosial APBN dan sekaligus memberikan kesempatan kerja bagi rakyat.

Yang salah itu seperti sebelumnya, semua izin investasi asing diberikan kepada Swasta nasional tetapi proyek mangkrak karena swasta bukannya focus membangun tetapi sibuk cari investor untuk dapatkan rente. Faktanya lebih banyak proyek mangkrak daripada di realisasikan. Jokowi tidak mau itu terjadi lagi. Makanya banyak mediator yang tadinya memanjakan mereka yang punya akses ke kekuasaan jadi gigit jari. Dan merekalah ini yang sangat berperan memprovokasi anti investor dari China. Sebetulnya bukan anti secara politik tetapi lebih karena kepentingan bisnis rente tidak didapat. Makanya jadi provokator.

Tidak ada yang perlu dikawatirkan soal investasi China. China negara yang terlalu besar populasinya yang tak mungkin mempertaruhkan lebih 1 miliar penduduknya dengan menciptakan konplik regional. Politik china menolak hegemoni karna ongkosnya terlalu mahal bagi mereka. Akan lebih baik mereka membangun sinergi diantara negara kawasan, termasuk dunia agar keseimbangan ekonomi terjadi dan pertumbuhan ekonomi dunia dapat berkesinambungan. Kalau dunia terpuruk yang pertama kali menderta adalah China. Apalagi sebagian besar mesin produksinya tergantung pasar international. Makanya China melerakan tabungan nasionalnya sebesar US$ 1.15 Trilyun untuk membantu Amerika yang terkena krisis moneter. Membatu Eropa yang gagal bayar utang. Dan terlibat dalam program pembangunan infsrastruktur ekonomi di ASEAN dan Afrika.

China telah menjadi negara modern yang membangun dengan paradigma WE are the world. Bukan lagi “ I “. Dan ini bukan hanya China tetapi telah menjadi paradigma baru abad 21 bagi negara modern untuk menciptakan kehidupan dunia atas dasar semangat kebersamaan. Yuk , mari berubah.. (Bandaro EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Solusi Palestina

Opsi Solusi Palestina atas Konflik dengan Israel

Solusi Palestina. Secara umum, ada dua jenis opsi yang ditawarkan para pemikir dan pengkaji Timteng …