Home / Denny Siregar / Ketika Kampret Naik Haji
KETIKA KAMPRET NAIK HAJI

Ketika Kampret Naik Haji

“Jokowi dapat kuota tambahan 10 ribu jamaah haji, kok malah nyari dana tambahan ?? Lah, uang haji selama ini kemana ? Dipake infrastruktur ??”

Seorang teman di grup Whatsapp sekolah menulis dan disambut tawa kampret2 lainnya dengan kepak sayap gembira. Riuh rendah seakan mereka baru saja keluar dari goa sesudah sepanjang siang tertidur takut akan terangnya sinar matahari yang membakar.

Saya senyum-senyum bacanya. Maklum teman sekolah banyak yang mendadak relijius sekarang, bahkan yang dulunya sosialita. Dan entah kenapa mereka kompak mendukung Prabowo sebagai idola mereka, meski mereka juga selalu bingung, “Prabowo kalau Jumatan dimana ya ?”

Dan mereka juga bingung atau tidak pernah membaca, bahwa jika mereka naik haji, uang yang mereka bayarkan sebesar 32 juta lebih itu, hanyalah separuh dari yang seharusnya mereka bayarkan.

Seharusnya biaya naik haji itu lebih dari 70 juta. Dan pemerintah mensubsidi separuhnya, supaya mereka bisa menunaikan ibadahnya.

Biaya terbesar ada di biaya penerbangan, sebesar 30 juta lebih per jamaah. Selebihnya adalah biaya penginapan dan penyelenggaraan disana termasuk membayar para petugas.

Dengan 210 ribu kuota jamaah haji, pemerintah harus mensubsidi 7 triliun rupiah. Subsidi ini bisa didapat dari pengelolaan dana haji yang ada melalui instrumen Surat Berharga Syariah Negara SBSN. Dengan adanya optimalisasi ini didapat keuntungan untuk mensubsidi 50 persen kekurangan biaya haji per jamaah.

Nah, ketika Jokowi ke Saudi dan mendapat tambahan 10 ribu kuota haji, maka ia juga harus memikirkan tambahan dana subsidi.

10 ribu dikali 33 juta rupiah subsidi per jamaah, setara dengan 330 miliar rupiah. Dan ini harus dicari darimana dananya supaya 10 ribu kuota tambahan bisa berangkat haji.

Ah, tapi pasti teman-temanku gak tahu ini. Mereka hanya sibuk mentertawakan ketidak-tahuan mereka karena seharian di dalam goa. Padahal diantara mereka bahkan ada yang lulusan S2 dan ada yang Profesor segala.

Mereka kira mereka sudah gagah dengan keluarkan uang 32 juta rupiah saja, terus berangkat haji dan pulang dengan gelar nambah. Dikira mereka pemerintah hanya menjadi fasilitator saja.

Teman-temanku sekolah dahulu banyak yang kampret. Ingin kuajak mereka sekali-kali seruput kopi biar wawasannya terbuka sedikit saja. Tapi aku yang malah takut, karena dengar-dengar mereka hanya minum darah.

Hiiii..

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

kota misteri

Jakarta Kota Misteri

Sejak ditinggalkan Ahok, Jakarta mendadak menjadi kota misteri.. Misteri berawal dari Balaikota yang dulunya sangat …