Home / Internasional / Ketika Kekerasan Fisik Menjadi Idola
Ketika Kekerasan Fisik Menjadi Idola

Ketika Kekerasan Fisik Menjadi Idola

Ketika Kekerasan Fisik Menjadi Idola. Ketika seseorang melakukan tindak kekerasan dengan kekuatan yang ada padanya, orang akan memandangnya dengan rasa takut/cemas. Semakin bengis seseorang, semakin ditakuti semakin dibenci pula. Namun sekaligus dikagumi, dan diidolakan.

Kekerasan memang menakutkan, tetapi sekaligus mengagumkan. Ada kecenderungan untuk mengidolakan dan meniru kekerasan. Maka tokoh/institusi kekerasan sekaligus menakutkan dan ditiru. Akibatnya, pengagum juga pada gilirannya menjadi pesaing, ada kompetisi antara pengagum dan idola. Sampai suatu saat pengagum menjadi idola, dan memancing persaingan baru dengan idola baru. Kompetisi itu terus bergulir melanggengkan kekerasan sampai membentuk struktur masyarakat penuh kekerasan sebagaimana dapat dilihat saat ini. Kekerasan menguasai dunia. Kekerasan sedemikian kental sehingga bahkan kekerasan dijadikan pembenaran suatu tindakan immoral, semata karena punya kemampuan untuk melakukan kekerasan terhadap sesama manusia. Kekerasan menjadi “nilai kemanusiaan”, manusia boleh melakukan kekerasan terhadap sesama jika punya kemampuan.

“Nilai kekerasan” inilah coba terus menerus ditanamkan melalui pembenaran2 atas tindak immoral yang dilakukan imperialis. Yang mampu menekan, silahkan menekan. Yang mampu membunuh, silahkan membunuh. Yang mampu menjajah, silahkan menjajah. Pembenaran atas tindak immoral, kerap dibungkis dengan indah dan suci, dengan dukungan propaganda memanfaatkan media massa, khususnya media massa arus utama barat. Demikian persoalan menjadi sungguh membingungkan banyak orang. Sebagai contoh: betapa sering kita mendengar mengenai hubungan Palestina– Israel disebut sebagai “konflik”, sehingga banyak yang terlena seakan itu memang “konflik”. Padahal sejatinya Palestina-Israel bukan konflik!!! Karena konflik mengandaikan ada kesejajaran posisi. 2 negara yang bersitegang keras bisa disebut konflik. Palestina-Israel tidak bisa disebut konflik, tidak ada kesejajaran posisi di sana. Ada hak suatu bangsa yang dirampas, dijarah!!! Maka itu jelas persoalan perampasan dan penjajahan. Ada kekuatan senjata yang dipergunakan untuk merampas hak milik suatu bangsa.

Perampasan dengan kekerasan itu secara masiv disebut sebagai “konflik”, sehingga mengecoh banyak pihak. Hasil apa yang diharapkan? Dengan menyebut perampasan sebagai konflik, otomatis memunculkan pengakuan bahwa Israel merupakan entitas politik yang syah dan layak. Selanjutnya mudah ditebak, yang muncul adalah solusi 2 negara.

Demikianlah kekerasan memperoleh tempat mulia. Dan kiranya tak ada seorangpun yang bisa menjamin bahwa hal yang sama tidak akan dilakukan terhadap wilayah lain, termasuk Indonesia. Jika hak rakyat Palestina bisa dirampas dengan menggunakan kekerasan dan kemudian perampas diakui sebagai entitas politik syah dan layak, apa atau siapa yang berani menjamin bahwa dimasa mendatang tidak ada kekuatan keras yang merampas wilayah NKRI dan kemudian juga diakui sebagai entitas politik yang syah???!!!

Pada titik inilah keprihatinan dan keberpihakan terhadap perjuangan rakyat Palestina menjadi sangat penting. Karena yang terjadi pada rakyat Palestina, juga bisa terjadi pada rakyat lain, termasuk pada rakyat Indonesia. Kalimat “Palestina adalah kita” persis sangat berarti dalam kerangka melawan imperialisme di manapun, kapanpun, oleh siapapun!!!

Melawan imperialis dengan cara yang bisa dilakukan sesederhana apapun, harus dilakukan. Bisa jadi perlawanan itu tampak sangat sedehana, tampak tidak berarti sama sekali, tetapi paling tidak ada perlawanan. Sekurang-kurangnya itu menunjukkan keberpihakan pada yang lemah dan menderita.

Mengabaikan penderitaan rakyat Palestina berarti menerima kekerasan sebagai “nilai kemanusiaan”!!!

Selamat malam. Salam damai penuh kasih. (Winardi FI)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Mengapa Daesh Tidak Pernah Menyerang Israel

Mengapa Daesh Tidak Pernah Menyerang Israel?

Mengapa Daesh Tidak Pernah Menyerang Israel? Pertanyaan yang sebenarnya sedikit ‘keliru’. Lebih tepatnya, mengapa mereka …