Home / Nasehat / Kisah Karna di Kubu Kejahatan Kurawa
Karna

Kisah Karna di Kubu Kejahatan Kurawa

Dalam epos Mahabrata itu cerita Karna adalah kisah paling tragis dan mengharukan, Karna sendiri walaupun berada di kubu Kurawa yg di kenal sebagai kubu kejahatan, tapi Karna bukanlah sosok yg jahat dia bergabung ke sisi kegelapan karena hidupnya di penuhi kemalangan dan justru karena keangkuhan kubu Pandawa yg selama ini selalu di simbolkan sebagai kubu kebaikan yg akhirnya membuat dia rela mati demi kubu kejahatan kurawa.
—————————————————————————————-

Cerita tragis Karna sendiri di mulai saat dia mulai di lahirkan, Karna sendiri adalah anak pertama Kunti yg merupakan ibu para pandawa dengan dewa Surya, Karena Surya adalah seorang dewa tentunya dia tidak bisa hidup dengan Kunti yg manusia, oleh sebab itu kunti akhirnya membuang Karna karena malu dia melahirkan bayi sebelum menikah dan tidak memiliki suami. Karna bayi di buang ke aliran sungai yg deras, oleh ibunya Kunti di sertai pakaian perang lengkap dengan anting-anting dan kalung pemberian dewa Surya. Kunti pasrah anak pertama yg tidak di inginkannya itu apakah bisa selamat atau tidak di telan derasnya sungai.

Tapi takdir berkata lain Karna selamat dari arus sungai yg deras itu lalu dia di pungut anak oleh seorang keluarga kusir yg bernama Radha, Radha sendiri membesarkan Karna dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. Tapi Radha pun tidak tahu klo karna adalah keturunan dewa Surya dan anak dari kunti yg nantinya melahirkan kesatria besar pandawa.

Saat tumbuh remaja Karna sangat berkeinginan menjadi kesatria, dia kemudian mendatangi guru Dorna yg saat itu terkenal sebagai guru para kesatria pandawa dan kurawa, tapi sayang guruDorna menolaknya mentah2 karena walaupun Karna cerdas dan berbakat tapi dia hanya anak kusir yg merupakan kasta rendah bukan keturuanan kasta tinggi seperti kesatria pandawa dan kurawa.

Dengan kecewa Karna mencari guru lain yaitu guru Parasurama. Parasurama sendiri adalah brahmana sakti yg justru menolak mengajari para kasta kesatria. kebalikan dari guru Dorna yg hanya mau mengajari para kasta kesatria. Saat di tanya Parasurama apakah dia dari kasta kesatria karna menjawabnya bukan, karena memang Karna tidak tahu dia keturunan Dewa Surya dan Kunti, akhirnya Parasurama menerimanya menjadi muridnya

Terkesan dengan kecerdasan dan bakatnya Karna, Parasurama menjadikan dia murid kesayangan sehingga diantara semua muridnya hanya Karna yg diajarkan jurus dan mantra pamungkas. Tapi suatu saat saat Parasurama tidur di pangkuan Karna. Seekor kalajengking mengigit Karna. Tak ingin membangunkan gurunya, Karna rela diam menahan rasa sakit akibat gigitan kalajengking tersebut. Saat Parasurama bangun dia terkejut melihat muridnya sanggup menahakan rasa sakit tanpa membangunkan dirinya. Akhirnya Parasurama murka karena dia tahu tidak mungkin Karna bukan kasta kesatria, karena hanya para kesatria yg bisa berkorban dan menahan sakit untuk orang lain.

Dalam kemurkaanya ini Parasurama mengusir dan mengutuk Karna akan melupakan semua jurus dan mantra pamungkas yg pernah di ajarkanya saat pertarungan hidup dan matinya kelak, karena Parasurama merasa sang murid sudah membohonginya, padahal Karna sendiri tidak tau dia seorang keturunan Kesatria.

Karna bingung dan sedih karena di usir guru kesayangannya tanpa sebab yg jelas, di tengah kesedihannya ini Karna mengendarai keretanya tak tentu arah untuk mencari guru atau orang yg mau menerimanya, naas di tengah jalan Karna menabrak sapi milik Brahmana sampai mati, melihat sapinya mati Brahmana murka dan mengutuk Karna juga, kelak roda keretanya akan terbenam ke dalam lumpur ketika ia berperang melawan musuhnya yang paling hebat.

Sampai karna tiba di sebuah kota bernama Hastinapura dimana saat itu di Hastinapura guru Dorna yg melatih kesatria Pandawa dan Kurawa memamerkan kesaktian para murid2nya kepada rakyat Hastinapura. Guru Dorna sendiri sangat membanggakan murid kesayangannya Arjuna yg sangat lihai memanah, penasaran dengan kehebatan Arjuna, Karna tertarik untuk menantang Arjuna tapi sayang saat ditanya apakah Karna dari golongan Kesatria, Karna menjawab dia bukan dari golongan kesatria tapi hanya anak seorang kusir, dan hal ini membuat karna menjadi bahan olok2an pandawa dan penduduk Hastinapura, karena tidak pantas anak kasta rendah menantang kasta tinggi kesatria. Karna hanya bisa tertunduk sedih karena dia memang menyadari statusnya dia bukan kasta tinggi hanya anak seorang kusir.

Tapi saat kaum pandawa dan penduduk Hastinapura mengolok2 Karna, Duryodana putra tertua Kurawa justru membela Karna, dan mengatakan bahwa keberanian dan kehebatan tidak di nilai dari kasta dan keturunan siapa, tapi pembelaan Duryodana sendiri tidak cukup karena menurut penduduk Hastinapura maupun guru Dorna memang tidak pantas anak kasta rendah menantang kasta Kesatria dan Karna harus di hukum karena kelancanganya ini.

Murka karena pembelaanya tidak di terima Duryodana mendesak ayahnya yg merupakan raja Hastinapura untuk mengangkat Karna sebagai seorang bangsawan dan raja bawahan raja Hastinapura untuk menyelamatkan harga diri dan menghindari hukuman bagi Karna. Akhirnya ayah Duryodana sendiri setuju mengangkat Karna sebagai bangsawan dan raja bawahan kerajaan Hastinapura.

Pembelaan Duryodana ini nantinya sangat membekas di diri Karna, yg membuatnya sangat setia kepada Duryodana, walaupun banyak orang mengatakan Duryodana adalah pemimpin jahat tapi bagi Karna dia seorang teman yg baik.

Suatu ketika terdengarlah sayembara di kerajaan Pancala untuk memperebutkan Drupadi yg merupakan putri tercantik kerajaan itu. Baik pihak pandawa maupu kurawa tertarik mengikuti sayembara ini, sayembara memperebutkan Drupadi ini sendiri adalah perlombaan memanah boneka ikan yang berputar di atas arena, namun pesertanya tidak boleh melihatnya secara langsung, melainkan melalui bayangannya yang terpantul di dalam baskom berisi minyak di bawahnya, selain itu memanah ikan ini harus di lakukan dengan busur sakti kerajaan Pancala yg sangat berat, bahkan Duryodana yang perkasa sekalipun tidak bisa mengangkat busur tersebut, melihat kesulitan yg di alami teman baiknya dan untuk menyelamatkan harga diri Kurawa, Karna akhirnya maju mewakili Kurawa dan berhasil mengangkat busur sakti Pancala ini karena kekuatan dari pakaian perang dengan anting-anting dan kalung pemberian dewa Surya dulu saat dia masih bayi, bahkan Karna bisa memanah tepat mengenai boneka ikan tersebut.

Melihat hal itu Drupadi terkejut sekaligus marah karena Drupadi tidak sudi menjadi Istri anak seorang kusir walaupun Karna sudah diangkat bangsawan, akhirnya Karna marah sekaligus sedih karena sekali lagi statusnya yg awalnya anak seorang kusir membuatnya di hina Drupadi walaupun memenangkan sayembara itu, nantinya Drupadi meminta ayahnya untuk mencarikan orang yg bisa memanah sebaik Karna, di saat itulah muncul Arjuna yg kemampuannya sama hebatnya dengan Karna tapi memiliki kasta tinggi dan lebih tampan dari Karna, akhirnya Drupadi lebih memilih menjadi istri Arjuna ketimbang jadi istri Karna,

Nantinya saat perjudian antara kurawa dan pandawa, Yudistira anak tertua pandawa justru mempertaruhkan Drupadi, dan sialnya pandawa kalah dalam perjudian ini sehingga Drupadi menjadi milik kurawa, kesal karena drupadi pernah menghinanya sebagai anak kusir, Karna balas menghina Drupadi sebagai pelacur karena memiliki 5 suami pandawa. Mendengar hinaan Karna ini, Arjuna bersumpah suatu saat akan membunuh Karna dengan tanganya sendiri, Karna pun bersumpah yg sama untuk membunuh Arjuna terlebih dahulu karena dulu pernah membuatnya terhina dan merebut Drupadi dari tangannya.

Nantinya melihat hal ini, dewa Indra yg merupakan pemimpin para dewa sekaligus ayah Arjuna gamang karena tau klo Karna adalah anak dewa Surya yg di bekali dengan pusaka pakaian perang dengan anting-anting dan kalung sakti pemberian dewa Surya, selain itu juga dewa Indra tau klo Karna sebenarnya adalah kakak tertua semua pandawa, hal ini tidak mungkin bisa di kalahkan Arjuna, Oleh sebab itu nantinya dewa Indra menyamar menjadi pengemis dan meminta pusaka Karna yg membuatnya tidak bisa di tembus senjata apapun, Karna dengan suka rela menyerahkan pusakanya kepada pengemis yg memintanya itu, Padahal sebelumnya ayahnya sendiri dewa Surya sudah memperingatkan Karna dalam mimpinya bahwa pengemis itu adalah dewa Indra ayah arjuna, Tapi karena Karna pada dasarnya orang baik dan sudah bersumpah menjadi dermawan dia tidak memperdulikan peringatan dewa Surya itu, dan nantinya ini kesalahan fatal Karna, karena dia terlalu baik. tapi sebagai pemimpin para dewa Indra juga dewa yg adil, terkesan dengan kebaikan Karna walaupun sudah di peringatkan ayahnya dewa Surya, dewa Indra nantinya mengganti pusaka Karna yg di serahkan kepada dirinya dengan senjata pamungkas yg bernama Vasavi, Vasavi sendiri adalah tombak sakti yg begitu di lepaskan bisa membunuh siapapun baik manusia, raksasa, maupun dewa sekalipun tanpa bisa di hentikan, tapi Vasavi hanya bisa sekali digunakan setelah itu lenyap.

Nantinya saat masa pembuangan pandawa selesai karena kalah bermain judi dengan kurawa dulu, pihak pandawa menginginkan kerajaan Indraprastha yg dulu di pertaruhkan pandawa untuk di kembalikan, tapi pihak kurawa menolaknya mentah2 dan menantang pihak pandawa klo ingin memiliki kembali kerajaan Indraprastha mereka harus merebutnya dalam perperangan.

Nantinya karena merasa kekuatan pandawa yg cuman 5 orang raja akan melawan pihak kurawa yg beranggota 100 orang raja, Krisna yg merupakan supir kereta perang Arjuna sekaligus merupakan penjelmaan dewa Wisnu (satu dari 3 dewa terkuat dalam mitologi hindu) mendatangi Karna secara diam2 untuk menjelaskan asal usul Karna yg sebenarnya masih saudara para pandawa, Krisna sendiri berharap Karna mau berpindah pihak karena Krisna tau salah satu kesatria terkuat dalam barisan kurawa adalah Karna, jadi dengan berpindahnya Karna justru akan sangat melemahkan kurawa, tapi Karna menolak Krisna karena tidak percaya dengan Krisna, karena rayuan Krisna gagal, akhirnya Kunti sebagai ibu para pandawa sekaligus ibu kandung Karna sendiri mendatangi anaknya ini dan mengatakan fakta bahwa Karna adalah anak kandung pertamanya. Mendengar penjelasan Kunti ini karna seperti di sambar petir karena mengetahui faktanya bahwa pandawa yg selama ini dia anggap musuh bebuyutan yg selalu menghinanya justru adalah para adik2nya, Tapi sebagai seorang kesatria sejati Karna pun menolak tawaran Kunti karena dia sudah bersumpah setia kepada Duryodana dan kurawa yg dulu mengangkat martabatnya serta menyelamatkannya dari hukuman. Tapi di sisi lain Karna juga tidak ingin melanggar bakti kepada Ibu kandungnya sendiri, walaupun sudah membuangnya di saat dia masih kecil, Karna akhirnya berjanji kepada Kunti tidak akan membunuh adik2nya, kecuali Arjuna yg dulu membuatnya terhina dan merebut Drupadi dari tangannya, selain itu Karna juga tidak mau memakai nama julukan Kuntiya (anak Kunti). Karna justu tetap memakai nama panggilan Sutaputra (anak kusir) atau Radheya (anak Radha) sebagai penghormatan kepada keluarga Radha yg dulu membesarkanya seperti anak kandungnya sendiri.

Singkat cerita saat meletusnya perang Baratayudha Karna memenuhi janjinya kepada kunti dia sama sekali tidak mau melukai adik2nya seperti Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa, walaupun Karna bisa dengan mudah mengalahkan mereka berempat. Tapi saat Karna berhadapan dengan Arjuna. Pemanah tampan yg dikusiri Krisna yg merupakan jelmaan Wisnu. Karna memburunya karena masih sakit hati dengan penghinaan dulu dan merebut Drupadi dari tanganya

Di sisi lain Arjuna pun ingin membunuh Karna, tapi Krisna yg merupakan jelmaan dewa Wisnu tau klo karna memiliki senjata pamungkas yg bernama Vasavi yg bila di lepaskan pasti bisa membunuh Arjuna bahkan tidak bisa di hentikan oleh Wisnu sekalipun, itu sebabnya Krisna membawa kabur Arjuna agar tidak berhadapan dengan Karna. Karena sibuk mengejar Arjuna, karna lupa melindungi pasukan kurawa terutama Duryodana, naas Duryodana terluka parah di hajar Gatotkaca putra Bima yg merupakan seorang raksasa sakti kebal senjata. Melihat Duryodana terluka parah Karna berhenti mengejar Arjuna dan menolong Duryodana dari amukan Gatokaca, dalam keadaan terluka parah Duryodana meminta Karna untuk mengeluarkan senjata Vasavi untuk membunuh raksasa gatotkaca yg kebal senjata itu. Karena kesetiaanya dengan Duryodana akhirnya Karna melepaskan Vasavi untuk membunuh Gatotkaca, dan tewaslah Gatotkaca terkena senjata sakti pemberian dewa Indra itu.

Mengetahuai senjata Vasavi sudah dilepaskan Karna untuk membunuh Gatotkaca, Krisna berbalik membawa Arjuna untuk menghadapi Karna, karena Krisna tau Karna hanya bisa sekali saja memakai Vasavi sebagai barter pusaka kebal senjatanya dulu dan ini kesempatan bagus untuk membunuh Karna.

Saat pertarungan dengan Karna ini selain Arjuna di bantu Krisna yg juga merupakan jelmaan dewa Wisnu, Kutukan kepada Karna dulu juga terjadi, roda kreta Karna tiba2 terbenam lumpur persis seperti kutukan Brahmana dulu, saat mencoba mengangkat roda kretanya yg terbenam lumpur dari jauh kereta Arjuna menyerbu mendekat, di kreta tersebut Krisna mengatakan kepada Arjuna inilah saat yg tepat untuk membunuh Karna karena Krisna tau kutukan Brahmana sedang berlangsung dan tidak lama lagi kutukan guru Parasurama juga akan mengenai Karna juga, tapi Arjuna masih ragu karena membunuh kesatria musuh yg sedang tidak siap melanggar kode etik para kesatria, tapi Krisna mengompori Arjuna agar segera membunuh Karna klo tidak dia yg akan mati dan mengingatkan bagaimana Karna membunuhi pasukan pandawa yg di dalamnya juga ada anak Arjuna juga, akhirnya Arjuna terpancing provokasi Krisna, dan benar saja perkiraan Krisna, walaupun melihat kereta Arjuna mendekat sekaligus melihat Arjuna sudah mengarahkan panahnya kepada dirinya, Karna tiba2 lupa dengan mantra dan jurus sakti untuk menghindar yg di ajarkan gurunya dulu, selain itu Karna juga ingat pusaka kebal senjata yg dulu di berikan ayahnya dewa Surya sudah dia berikan kepada dewa Indra sebagai barter dengan senjata Vasavi yg dipakainya membunuh Gatotkaca.

Akhirnya Karna sadar, inilah waktu ajalnya menjemput. dia pasrah saat anak panah sakti Pasopati punya Arjuna menembus di lehernya. Karna pun menghembuskan nafas terakhir.

Melihat hal ini Kunti yg merupakan ibu para Pandawa menangis sejadi2nya, para pandawa yg bingung mendatangi ibu mereka dan bertanya kenapa ibu mereka justru menangisi kematian Karna musuh besar mereka. Di saat itulah Kunti menjelaskan klo sebenarnya Karna adalah kakak tertua dari semua pandawa yg dulu pernah dia buang, mendengar penjelasan ibunya para pandawa bagai di sambar petir karena sudah membunuh saudara mereka sendiri yg awalnya mereka benci dan hina2 hanya seorang anak kusir. Bahkan Arjuna sangat terpukul sampai tidak mau lagi berperang dengan kurawa. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Karna sudah tewas di tangan Arjuna.

Pada akhirnya Karna adalah sosok baik yg terpaksa beralih kepada kubu gelap, karena dia ditolak kubu terang dan di perlakukan tidak adil oleh para dewa2. (Agung)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran kesabaran dari seorang Jokowi.( Revolusi mental ).“Saya nggak apa-apa dikatakan presiden gila, presiden saraf, …