Home / Agama / Kitab Suci, Salinan dari Salinan
Kitab Suci

Kitab Suci, Salinan dari Salinan

Kitab Suci, Salinan dari salinan dari salinan. Tulisan ini untuk melunasi hutang janji terkait pertanyaan sekitar Kitab Suci, sekaligus semoga bisa memberi informasi bagi yang lain terkait pemahaman (sebagian besar) umat Kristiani mengenai Kitab Suci.

Pertama pandangan mengenai Kitab Suci.

Umat Kristiani menyakini Alkitab sebagai Kitab Suci:

menjadi suci karena ada inspirasi ilahi yang menuntun para penulisnya

inspirasi ilahi mengandaikan ada keterbatasan para penulis suci

benar dalam hal iman dan moral

ditulis oleh orang tertentu, ditujukan kepada orang/kelompok tertentu dengan maksud tertentu, dalam konteks budaya tertentu dan pada masa tertentu.

Kitab yang Suci merupakan hasil refleksi iman, refleksi relasi manusia dengan Penciptanya

Roh Suci mewahyukan dan mengkomunikasikan sabda Allah pada semua manusia. Umat Kristen meyakini, Roh Suci melaksanakan peran tersebut dengan dua cara, melalui penerusan yang hidup (disebut sebagai Tradisi), dan dalam tulisan (disebut Kitab Suci).
“Gereja menimba kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui kitab suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun Kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita-rasa kesalehan dan hormat yang sama” (Dei Verbum, 9).”

Maka perikopa atau ayat tertentu harus dibaca dalam kerangka keseluruhan Kitab dengan memperhatikan tradisi yang hidup.

Kedua. Proses terbentuknya Kitab Suci.
Kitab Suci terbentuk melalui proses panjang. Diawali dengan tradisi lisan, tutur tinular. Kemudian penulisan sedikit demi sedikit. Baru kemudian dikumpulkan dan disatukan menjadi Kitab sebagaimana dimiliki umat Kristiani saat ini. Kumpulan tulisan terus dilengkapi dengan tulisan yang ada. Tulisan tangan pertama jelas tidak lagi ada. Yang kita miliki sekarang merupakan salinan dari salinan dari salinan, sampai entah salinan keberapa. Secara keseluruhan -bila dihitung dari tradisi lisan, Kitab ini terbentuk kurang lebih dalam kurun waktu 2000 tahun.

Salinan Kitab Suci, per bagian maupun keseluruhan, bukan saja dilakukan berkali-kali, tetapi juga disalin oleh orang-orang yang berbeda, dengan cara manual, karena belum ada mesin cetak (mesin cetak baru diperkenalkan Yohanes Gutenberg, pada tahun 1440). Dalam proses penyalinan manual itu tentu terjadi beberapa kelalaian. Sesuatu yang wajar. Kecil kemungkinan seseorang menyalin kitab dengan hasil persis sama sampai ke titik-koma. Mohon diingat juga bahwa kerapkali penyalin kitab pada masa kuno, menjadi semacam profesi ketrampilan. Penyalin bisa saja tidak paham yang disalinnya, tugasnya hanya menyalin saja. Maka ada beberapa kesalahan bisa terjadi:

terjadi pengulangan baris/kata karena salah lihat

ada baris atau kata yang terlewat, akibat kelelahan mata

ada usaha untuk memperjelas kata atau huruf yang kurang jelas

catatan pinggir yang tersalin dalam baris/kata tertentu secara tidak sengaja

Demikianlah akhirnya ada banyak versi dari setiap kitab, maupun keseluruhan. Jadi bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi para ahli kritik teks kitab dalam usahanya untuk terus mennyelidiki dan mencari teks terbaik dari sekian banyak salinan yang masih ada. Juga mempelajari teks-teks yang ditemukan dalam penggalian-penggalian arkeologis. (Winardi FI)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Islam dan Terorisme

Hubungan Agama Islam dan Terorisme

Hubungan Agama Islam dan Terorisme. Apakah Islam menjadi sumber ajaran terorisme? Ya. Buktinya sederhana, yaitu …