Home / Sosial / Kontroversi Standar Kecantikan: Hilangnya Hitam Manis
Kontroversi Standar Kecantikan Hilangnya Hitam Manis

Kontroversi Standar Kecantikan: Hilangnya Hitam Manis

Kontroversi Standar Kecantikan: Hilangnya Hitam Manis. (Personal) Pernah di suatu masa, perempuan bangga dengan kulit hitam/gelap karena di puji “Manis”. Sayang pujian hitam sebagai manis makin tergerus, perlahan tenggelam seiring makin maraknya iklan/promosi “putih”. Demikian juga keindahan “keriting”, mulai tenggelam seiring terpromosikannya rambut “lurus”.

Anehnya, rambut pirang, yang dahulu kala sering diejek sebagai “rambut jagung” kini justru naik daun. Banyak orang ingin berambut pirang, lalu mewarnai rambutnya yang hitam. Kini di banyak tempat keramaian Anda akan mudah sekali menemukan orang berambut “pirang” buceri (bule cet sendiri).

Di etalase pojok kosmetik di banyak pusat perbelanjaan, bahkan di warung2 berjajar kosmetik pemutih wajah dan pewarna rambut. Hampir semua merk terkenal mempunyai bermacam kosmetik pemutih kulit. Pusat-pusat kecantikan selalu mempunyai pelayanan untuk memutihkan kulit (wajah).

Ironisnya muncul pula kosmetik pemutih wajah berbahan berbahaya bagi kesehatan kulit, tapi laris manis juga. Begitu kuat keinginan untuk menjadi putih, sampai lupa akan dampak negatif pada kesehatan kulit.

Perubahan konsep standar kecantikan berlangsung cukup cepat.

Pertanyaannya mengapa berkulit putih dan berambut pirang bisa menguasai konsep kecantikan?!

Sejak lama bintang iklan banyak menampilkan bintang berkulit putih dan berambut pirang.

Inilah hasil kerja sistimatis dan berkelanjutan selama bertahun-tahun dengan dukungan kapital besar.

Setiap hari di manapun, kapanpun hampir 24 jam, dicekoki iklan, artinya hampir setiap detik seumur hidup, orang dicuci otak melalui media iklan. Entah konsep apa yang ditawarkan, yang pasti tujuan kasat mata adalah meningkatkan penjualan. Penjualan hanya terjadi jika ada kebutuhan. Inilah yang dilakukan dengan iklan dan promosi: menciptakan kebutuhan. Dan panen raya mulai terjadi. Hampir semua produk perawaran kulit “Whitening”. Konsep standar kecantikan bergeser, hitam manis perlahan larut dalam ruang hampa.

Yang menarik dengan fenomena “putih-pirang” adalah bahwa para kapitalis-industrialis yang akhirnya menarik keuntungan besar dengan menggeser/memgubah konsep dan nilai tertentu. Menihilkan nilai “hitam-manis” dengan memposisikan “putih-pirang-lurus”. Memasukkan nilai tertentu dalam tata (hirarkhi) nilai bangsa. Nilai asing itu bahkan bisa menempati urutan teratas dalam nilai kecantikan.

Jika ide hitam-manis bisa ditenggelamkan dengan relatif mudah, apa yang menjamin ide dan konsep lain bisa tetap bertahan?! Juga konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia, apakah isinya masih tetap sejalan dengan cita2 para Bapak Bangsa ini? Atau sekedar NKRI dengan isi konsep sebagai boneka dan keset bagi imperialis?!

Kebenaran dan kebaikan menjadi kabur bahkan kebaikan bisa dibuat jadi jahat. Bon Jovi menggugat keras dan lantang dalam Santa Fe:

“And I blame this world for making
Dan kupersalahkan dunia ini karna tlah menjadikan
A good man evil
Seorang pria baik menjadi jahat
It’s this world that can drive
Dunia inilah yang bisa membuat
a Good man mad
Orang baik jadi gila
And it’s this world that turns a killer
Dan dunia inilah yang mengubah seorang pembunuh
Into a hero
Menjadi pahlawan
Well I blame this world for making
Kupersalahkan dunia ini karena menjadikan
A good man bad
Orang baik menjadi jahat”

Selamat menikmati Santa Fe. Semoga bermanfaat. Salam damai selalu. (Winardi FI)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani (1). Pendahuluan. Bro n Sis, saya bikin tulisan panjang, jadi …