Home / Nasehat / Dua Kunci Kebahagiaan dalam Hidup
Kunci Kebahagiaan

Dua Kunci Kebahagiaan dalam Hidup

Bagi saya ada 2 kunci kebahagiaan. Pertama, merasa cukup. Kedua, membebaskan diri. Cukup itu artinya menikmati apa yang ada, bukan mencari yang tidak ada. Kecuali (ini terkait bagian kedua) kita punya kuasa untuk mengadakannya. Perjalanan saya pulang pergi antara rumah ke kantor sungguh melelahkan. Setiap hari rata-rata 4 jam saya habiskan di jalan. Ini bisa jadi sumber ketidakbahagiaan. Bagaimana melewatinya?

Saya tidak mengeluhkan kondisi itu, tapi cenderung mencari nikmat dari apa yang bisa saya nikmati. Biasanya saya menulis, lalu mendapat apresiasi dari pembaca. Eh, ada juga yang menghasilkan uang. Saya menukar kelehanan dan kejenuhan perjalanan dengan kebahagiaan.

Atau sering juga saya sekadar bercanda lewat media sosial. Saya tidak merasa kesepian, sering merasa terhibur. Itupun kebahagiaan.

Saya juga lengkapi gadget saya dengan Iflix dan Netflix, juga game, sehingga kalau sedang bosan dengan hal lain saya bisa menikmati sesuatu. Ini juga soal merasa cukup. Saya pilih film yang tersedia di dua aplikasi itu, saya nikmati, bukan mencari apa yang tidak ada untuk saya idamkan.

Kalau saya sedang dalam perjalanan ke luar kota, kebahagiaan itu saya tambah dengan memotret atau kuliner sepanjang jalan.

Yang bikin kita tidak bahagia adalah ketika kita tidak bisa menikmati apa yang ada. Ada tipe orang yang menetapkan hal-hal yang harus ada atau terpenuhi agar merasa puas dan bahagia. Misalnya, masakan harus pedas, kalau tidak pedas, tidak enak. Ketika tidak menemukan masakan pedas, ia akan mencari yang pedas. Kalau tidak ketemu, ia tidak puas.

Saya bisa menikmati segala jenis makanan. Makanan lezat itu sesuai dengan formatnya sendiri. Sate itu enaknya manis, rendang itu pedas. Saya tidak mencari rendang manis, atau sate pedas. Atau kalau yang tersedia sate pedas, maka saya menikmatinya. Kecuali, tentu saja, masakan salah bumbu atau salah masak.

Merasa bahagia itu menemukan yang bisa kita nikmati dari yang tersedia.

Prinsip kedua adalah membebaskan diri, tidak tergantung pada pihak lain. Saya suka makan. Kalau saya tidak bisa mendapatkan masakan yang saya ingini, maka saya akan membuatnya. Saya tidak memendam keinginan yang tidak bisa saya penuhi. Create it, or forget it.

Kalau saya harus bekerja dengan orang yang kurang menyenangkan, pilihannya adalah menyingkirkan dia, atau mengabaikan dia. Keduanya biasa saya lakukan. Pernah saya sampai menyingkirkan atasan saya. Kalau itu tak sanggup saya lakukan, maka saya menyesuaikan diri, salah satunya dengan mengabaikan dia. You can never hurt me without my consent.

Saya sering menemukan orang yang tergantung pada orang lain. Ingin membeli barang, tapi uang harus diberi pihak lain. Ingin melakukan sesuatu, tapi tidak mau atau tidak berani pergi sendiri. Bila mendapatkan keinginannya, ia merasa puas. Tapi kepuasan itu ditentukan oleh mau atau tidaknya orang memberikan yang ia inginkan. Itu sama seperti menyerahkan remote control kebahagiaan kita kepada orang lain. (Abdurakhman H)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran kesabaran dari seorang Jokowi.( Revolusi mental ).“Saya nggak apa-apa dikatakan presiden gila, presiden saraf, …