Home / Politik / Media Berita Tirto Berbau Amis?
Tirto Berbau Amis

Media Berita Tirto Berbau Amis?

Tirto Berbau Amis? Nama Tirto bagi saya pribadi memang berarti: menjengkelkan. Setelah dulu pernah memojokkan Seword dengan artikelnya, sekarang memposisikan diri sebagai pengawas media. Saya tidak tahu bentuk tulisan Tirto yang mengupas tulisan Seword itu apa. News, investigasi, atau kecemburuan?

Ada beberapa kejanggalan yang ditunjukkan Tirto. Saya mencium bau amis adanya kesepakatan bawah tanah dengan biang polemik memalukan, soal mobil yang diderek Dishub itu. Ada indikasi, Tirto sedang mengais keuntungan dengan pembelaan yang diberikannya pada Anies-Ratna. Dari sana muncul beberapa pertanyaan yang menggangu nalar sehat.

1. Tirto jadi jubirnya Anies?

Mengupas tulisan Seword yang kelasnya opini mustahil tanpa kepentingan. Ini sama halnya Kompas membahas tulisan di Indosiana (Tempo). Atau sebaliknya, Tempo mengkritisi tulisan di Kompasiana (Kompas). Jelas di sini ada yang anyir. Media berplatform news, sampai repot membahas media berplatform opini.

Seandainyapun Tirto menjadi jubir Anies, sebenarnya tidak dosa. Boleh jika Tirto ingin merendahkan dirinya. Namun jika itu sampai terjadi, akan jadi preseden buruk bagi jurnalisme. Pertaruhannya terlalu besar. Nalar sehat sudah digadaikan.

Anies adalah kata yang mungkin hari ini dipadankan dengan licik. Dalam dunia politik ada nama yang telah lama dapat gelar nyaris sama, Machiavelli. Makivelis dapat dimaknai bersifat licik, menghalalkan segala cara. Membela Anies dan kebijakannya adalah langkah mundur bagi media yang mestinya independen. Karena platformnya news. Jurnalistik.

2. Tirto membela pelanggaran hukum Ratna?

Ini lebih gawat jika sampai terjadi. Pilar ke empat demokrasi telah runtuh jika Tirto melakukan pelanggaran berat ini. Ia akan jadi media sampah yang membela kesalahan oknum. Saya tidak tahu sejauh mana hubungan (oknum) Tirto dengan Ratna. Namun kepedulian yang begitu besar, sehingga seolah hendak membelokkan arah pemberitaan, patut dicurigai.

Jika publik ramai-ramai mencemooh aksi rendah Ratna itu, Tirto sepertinya sedang melakukan pembelokan fokus pemberitaan. Ia bertingkah bak juru selamat bagi Ratna. Menutupi bullyan publik dengan mencari kambing hitam. Mungkin ada banyak tulisan di media lain dengan nada serupa, tapi Seword adalah sasaran tembak yang seksi dan punya nilai jual.

3. Menahbiskan diri sebagai nabi anti hoax?

Pertanyaan ini muncul ketika memahami aksi “pamer” aplikasi yang dilakukan Tirto dalam tulisan itu. Mengadopsi bahasa yang biasanya ada di forum anti hoax di Facebook. Tirto menggiring pemahaman publik, bahwa ada ketidak-cocokan antara judul dengan tulisan di Seword.

Judul dalam tulisan Seword itu secara lengkap, “Sandiaga: Ratna Sarumpaet Melanggar. Anies: Bebaskan.” Bagian “Anies: Bebaskan” itu yang dipersoalkan. Tulisan itu memang tidak secara literal bermakna demikian. Tapi publik mafhum, Anies melalui stafnya memang membebaskan Ratna dari hukuman. Ini fakta, bukan asumsi.

Tirto sengaja membelokkan substansi persoalan agar Seword terlihat bersalah. Kalau bisa bahkan menuduh Seword memproduksi hoax. Yang ditulis di judul itu adalah indikasi adanya kewenangan yang diberikan Anies kepada stafnya. Soal ada dan tidaknya perintah Anies, itu soal lain.

4. Tirto merasa kalah saing dengan Seword?

Jika pertanyaan itu dijawab iya, berarti tidak tahu diri. Seword itu media opini, partisan. Sementara Tirto media campur-campur macam toko kelontong. Basis utamanya news. Mereka juga bikin opini, karena ingin jualan di ceruk ini.

Kemudian yang membuat Tirto tak layak mengiri pada Seword adalah, kami itu sebenarnya komunitas. Kami bergabung karena kepentingan yang sama, menginginkan pemerintahan yang bersih, menyapu politisi bejat dan korup. Tidak ada struktur bos dan karyawan macam kapitalis Tirto itu. Kami lebih mirip koperasi, bukan perusahaan. Dana yang membesarkan Seword juga bukan titipan dari taipan. Murni dari kantong pribadi, donasi dan iklan.

Bau amis yang muncul dari Tirto ini bisa jadi hanya kesalahan oknum. Misalnya ada orang yang jadi kaki-tangannya Anies menyusup di Tirto. Atau jika memang owner Tirto sengaja mengajak perang dengan Seword, ya tidak masalah. Hanya saja caranya jangan kampungan begitu. Cara memojokkan Seword itu terkesan dicari-cari. Padahal sejak dulu, artikel di Seword ya begitu. Namanya juga opini. Isinya asumsi, dugaan, indikasi, connecting dot.

Namun saya kira, keluarga besar Seword tidak akan menganggap hal ini serius. Paling banter dibahas sekilas di forum. Jelas terlihat, Tirto ingin dibicarakan oleh Seword agar terkenal. Nyenggol biar disenggol. Beriklan dengan cara murahan seperti ini boleh saja sih, tapi kok ya kentara sekali amisnya. Dengan ini, tidak layak rasanya Tirto disebut bagian dari media jurnalistik. Kelasnya masih jauh. Media opini saja belum. (Elkayeni K)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa. Hal yang sulit dipahami adalah tidak pernah kubu oposisi memberikan …