Home / Agama / Memahami Keterkaitan Islam dan Politik
Islam dan Politik

Memahami Keterkaitan Islam dan Politik

Islam dan Politik? ( Revolusi mental). Kita sering mendengar ustad atau tokoh agama berbicara bahwa hukum harus berdasyarkan syariat Islam. SBY dalam pidatonya pada Buka puasa bersama dengan kader Demokrat juga meminta jangan benturkan islam dengan Pancasila. Pidato politik SBY ini mem framing seakan Jokowi menyudutkan umat islam. Padahal tidak ada bagitu. Jargon koalisi keumatan juga membawa retorika syariat islam. Yang jadi pertanyaan Syariat islam seperti apa yang pasti sesuai dengan Al Quran dan Hadith? Karena Al Quran dan Hadith itu sekumpulan firman Allah dan Sabda rasul yang tidak sembarangan di tafsirkan. Sementara tafsir mutlak diperlukan untuk melahirkan dalil yang dirasa tepat. Inipun tidak ada yang ulama yang berani mengatakan dia lebih tahu. Selalu menjawab Allah lebih tahu. Lantas mengapa sampai ada yang berani mengatakan bahwa hukum harus sesuai dengan syariat islam?

Istilah ini sebetulnya lahir dari paham Wahabi. Yang cenderung mendengar pendapat ulama dikalangan mereka. Atas dasar apa ? qiyas. Apa itu ? dalam ilmu fiqih disebut dengan sadd adz-dzari’ah yang artinya larangan melakukan sesuatu yang akan berdampak rusaknya iman atau tergelincir orang melakukan maksiat. Di lihat dari aspek aplikasinya, sadd adz-dzari’ah merupakan salah satu metode pengambilan keputusan hukum (istinbath al-hukm) dalam Islam dan salah satu sumber hukum. Namun tidak semua ulama sepakat dengan sadd adz-dzari’ah sebagai metode dalam menetapkan hukum. Khususnya aliran Ahlul sunnah waljamaah (NU ). Mengapa ? Konsep sadd adz-dzari’ah tidak bisa berfungsi untuk menetapkan boleh atau tidak boleh sesuatu.

Pelarangan atau pembolehan hanya bisa ditetapkan berdasarkan nash dan ijma’ (qath’i). Sesuatu yang telah jelas diharamkan oleh nash tidak bisa berubah menjadi dihalalkan kecuali dengan nash lain yang jelas atau ijma’. Hukum harus ditetapkan berdasarkan keyakinan yang kuat dari nash yang jelas atau ijma’. Hukum tidak bisa didasarkan oleh dugaan semata dengan dasar paranoid. Karena keimanan orang tidak ada urusan dengan orang lain, dan tidak ada urusan dengan lingkungannya. Keimanan itu hidayah dari Allah. Makanya Ulama NU menterjemahkan Pancasila tidak bertentangan dengan fiqih Islam. Jadi tidak perlu dipertentangkan antara Islam dan Pancasila. Justru islam memperkokoh Pancasila.

Namun Paham Wahabi punya agenda sendiri. Tujuannya untuk menggiring agama dalam wilayah politik. Awalnya sadd adz-dzari’ah diterapkan dalam hukum syariah dalam bentuk symbol symbol agama. Pakaian, janggut, dan lain lain. Kemudian bila ini sudah menjadi kepatuhan orang banyak atas dasar pembenaran maka mereka akan masuk lebih luas lagi “ hanya Negara islam berdasarkan Al quran dan hadith yang bisa memastikan manusia tetap dalam keimanan. Membangun khilafah islam adalah keniscayaan dalam prinsip al`amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar. Benarkah khilafah akan melahirkan system yang baik ? yang lain tidak ?

Kisah dalam buku “ Kebenaran Yang Hilang” oleh Faraq Fouda. Usman bin Affan, khalifah ke-3. Dijatuhkan lewat pembunuhan keji. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, tapi orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak. Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”. Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang bersembahyang untuknya. Siapa saja dilarang menyalatinya. Jasad orang tua berumur 83 itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi.

Kemudian diteruskan kekhalifahan itu oleh Ali Bin Abitalib. Pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali dibunuh dengan pedang beracun oleh seorang pengikutnya yang kecewa, Ibnu Muljam. Khalifah ke-4 itu wafat setelah dua hari kesakitan. Ketika pada abad ke-8 khilafah jatuh ke tangan wangsa Abbasiyah, yang pertama kali muncul al-Saffah, yang meng claim kekuasaan pemberian Allah. Karenanya merasa berhak berbuat apa saj. Lawan politiknya diganyang bahkan yang sudah matipun kuburannya di bongkar diratakan dengan tanah. Tidak ada jejak yang menjadi simbol perlawanan yang bisa exist. Tidak ada demokrasi atau musyawarah mufakat seperti diajarkan Rasul. Semua bau amis darah. Islam sebagai rahmat bagi semua malah menjadi bencana.

Orang memakai dalil agama untuk mempertahankan takhta atau untuk menjatuhkan si penguasa, tapi sebenarnya mereka tahu tak ada keberan absolut. Itu fitrah manusia yang serba tidak sempurna. Semoga para pemimpin kita dan tokoh agama paham soal fenomena yang terjadi sekarang ini bagaimana agama terus di dengungkan di pentas politik. Cara ini tak lebih hanya politik, agama hanya dalih belaka. Karena jarang terdengar bagaimana kekuatan agama di gunakan untuk mengangkat kaum miskin di kantong kantong kemiskinan agar mereka bisa bangkit berdasarkan symbol agama untuk keluar dari kubangan kemiskinan melalui kemandirian.

Seharusnya agama menuntun kepada bagaimana ulama hebat yang celebritis lebih banyak waktunya di daerah kumuh daripada di panggung berkelas kaum berada yang lebih banyak sadar daripada lupa. Gerakan cinta berdakwah dengan cinta harus menjadi platform kepada siapapun. Sehingga membuat yang jauh mendekat dan yang dekat merapat. Yang kaya mau berbagi dan yang miskin mau bangkit lewat kerja keras dalam kesabaran, yang berilmu berbagi tanpa pamrih. Bukankah agama itu bagaikan elang yang terbang tinggi dengan spiritualnya dan membumi bagaikan induk ayam yang tangguh melewati sunattulah untuk menghidupi dirinya , keluarga dan lingkungan atas dasar cinta dan kasih sayang… (Bandaro EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Ustaz Somad Bicara Soal Bom Bunuh Diri

Ustaz Somad Bicara Soal Bom Bunuh Diri

Ustaz Somad Bicara soal Bom Bunuh Diri. Beredar video ceramah Ustaz Somad tentang bom bunuh …