Home / Nasehat / Mendidik Anak Berpikir Terbuka
Mendidik Anak Berpikir Terbuka

Mendidik Anak Berpikir Terbuka

Mendidik anak berpikir terbuka. ( revolusi mental ) Saya bersyukur karena ibu saya dan nenek saya adalah ulama. Mereka ulama moderat dan aktifis aisyiah. Jadi pemahaman agama itu tertanam sejak saya kecil. Orang tua saya memberikan radar dalam hidup saya agar tahu kemana saya harus melangkah dan bagaimana menghadapi gelombang kehidupan. Sehingga saya bisa mandiri bersikap tanpa kehilangan identitas sebagai putra dari ibu saya. Karenanya walau saya bergaul dengan banyak aliran dalam Islam, bahkan ikut dalam diskusi namun tidak pernah dengan mudah terprovokasi ikut aliran eksklusif. Begitulah yang juga saya terapkan dalam mendidik anak saya.

Anak tetua saya setamat SD saya masukan ke pondok pesantren. Setelah tamat SLTP saya lanjutkan ke SMU Muhammadiah. Putri saya dari SD sampai SMU disekolah umum. Dari usia dini mereka belajar mengaji dari ibunya sampai katam Alquran. Saya setiap ada kesempatan bercerita tentang sejarah rasul. Ini termsuk kegemaran anak anak waktu mereka masih kecil. Setiap cerita saya memberikan pemahaman hikmah bagaimana akhlak rasul diterapkan dalam kehidupan. Setelah mereka masuk universitas saya tetap sahabat mereka untuk berdiskusi. Tidak ada jarak sama sekali. Saya berusaha memberi ruang mereka mendebat saya.

Putri saya aktif dalam kegiatan keagamaan di kampus namun setiap hal yang baru dia ketahui diluar maka dia akan berdiskusi dengan saya. Saya berusaha mengerti pemahamannya dan kalau menyimpang maka saya ajak dia diskusi. Dari kebiasaan ini apa yang terjadi ? Dia selalu ada tempat bersandar untuk bersikap. Satu satunya yang dia percaya adalah orang tuanya. Disamping itu pemahaman agama dia dapat sejak dini. Jadi upaya provokasi dari luar tidak mudah mengubah persepsinya yang sudah terbentuk sejak usia dini. Begitu juga dengan putra saya yang sudah paham agama sejak dipondok. Membuat dia mandiri bersikap tanpa jadi Follower pemikiran orang.

Ada teman saya dimana putranya setelah di perguruan tinggi justru berubah. Dia jadi pendiam. Tetapi ritual agamanya sangat taat. Lambat laun teman saya kawatir karena cara berpikir anaknya dalam hal beragama membuat dia asing. Anaknya membuat jarak dengannya. Diskusi tidak terjalin. Apa penyebabnya? Ternyata anaknya masuk lingkaran pengajian eklusif yang menganggap orang diluarnya salah. Menurutnya semasa kecil sampai SMU anak dijejali dengan pelajaran umum dan ikut beragam kursus agar juara disekolah dan lulus masuk PTN. Lupa dia memperkenalkan agama dengan benar dari dini. Akibatnya mudah di provokasi orang lain.

Pemahaman radikal merasuk kepada anak anak kita lebih bahaya daripada narkoba. Proses radikalisme itu lambat namun pasti. Sampai akhirnya kita kehilangan anak kita. Cara terbaik menjaga anak agar terhindar dari paham radikal adalah jadilah teman yang baik untuk berdiskusi dan kenalkan agama sedari dini. Jangan serahkan ke orang lain bagaimana mereka mengenal Al Quran. Yakinlah dengan cara begitu apapun nasipnya maka mereka akan menjadi sebaik baik dirinya. (Bandaro EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran Kesabaran dari Seorang Jokowi

Pelajaran kesabaran dari seorang Jokowi.( Revolusi mental ).“Saya nggak apa-apa dikatakan presiden gila, presiden saraf, …