Home / Sosial / Mengagamakan Kebudayaan : Prihal Cadar
Mengagamakan Kebudayaan

Mengagamakan Kebudayaan : Prihal Cadar

Negeri kita, Indonesia, ini memang lucu. Banyak sekali masalah yang sepele jadi besar. Contohnya saja cadar yang sedang viral, dan jika merunut ke belakang itu hijab. Dahulu, saat Soeharto berkuasa, hijab itu sempat ada pelarangan dan tidak booming dipakai seperti saat ini. Orang yang memakai dan mendukung gerakan memakai hijab jadi berisik karenanya. Masa-masa hijab ditolak sudah lewat dengan semakin menjamurnya wanita yang memakai hijab dan tentunya seiring bergantinya rezim. Kini, giliran cadar yang mengikuti jejak hijab untuk mengalami penolakan. Denger-denger sih bawa-bawa isu orang yang radikal dalam beragama. Gara-gara cadar ini, Indonesia jadi berisik lagi. Lantas, kayak gimana sebenarnya prihal cadar ini? Apakah memang isu agama atau sosial prihal mengagamakan kebudayaan? (Antimedia)

Mengagamakan Kebudayaan

Soal cadar ini kok berisik sekali. Ada yang bawa-bawa feminisme. Ada yang bawa-bawa agama pula. Nonsense.

Padahal ini soal sederhana. “Bolehkah perempuan memakai cadar?” Boleh.

“Bolehkah universitas tertentu melarang penggunaan cadar di lingkungan kampus?” Boleh.

“Lalu siapa yang salah?” Yang suka ribut. Padahal itu peraturan biasa. Alasannya juga boleh macam-macam.

Termasuk agar tidak memalsukan absensi atau karena tidak sesuai budaya lokal.

Silakan pakai cadar di tempat yang tidak dilarang. Jangan pakai alasan agama. Tidak ada kata wajib untuk itu. Cadar itu budaya Yahudi. Silakan dipakai jika memang cocok. Seperti anda cocok dengan budaya pop Eropa, kaos oblong-celana jeans. Silakan pakai, dan jangan merasa lebih kaffah ngeropa karena itu.

Setiap orang memang punya hak untuk begini-begitu, tapi mereka juga terikat kewajiban. Hak tidak boleh mengalahkan kewajiban. Kalau masih memaksa memakai cadar di tempat terlarang, tentu penyuka bikini atau budaya nudies mestinya diperbolehkan juga. Ini soal hak juga. Jangan bawa agama lagi di sini. Itu hanya soal kesepakatan sosial.

Nenek moyang kita telanjang dada selama ribuan tahun. No problemo, sebelum budaya ngacengan masuk dan memberi cap mereka primitif. “Jadi ini soal apa?” Budaya yang diagamakan. Lalu kalian ribut karena ada bau agamanya. Dan mungkin ada yang merasa lebih kaffah hanya gara-gara bercadar. Nonsense semua itu. Saya mau gugat Tuhan jika itu dianggap benar.

Tapi Tuhan sibuk. Namanya banyak dipalsukan oleh yang merasa ahli sorga. Kasihan sekali ya! (Elkayeni K)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …