Home / Politik / Mengenang Pak Probosutedjo yang Berpulang
Probosutedjo

Mengenang Pak Probosutedjo yang Berpulang

Dari trah Cendana, bagi saya yang paling “mending” untuk dikenang tentu saja adalah Probosutedjo. Sekalipun ia merupakan lingkaran dalam, yang juga diuntungkan oleh kakaknya sebagai seorang Presiden, yang selama 32 tahun memerintah, ia tetaplah sosok yang unik. Ia memulai karier yang juga sedikit lebih berbeda, sebagai seorang guru di kawasan Sumatera Utara. Daerah yang saya anggap favorit buat orang Jogja dan sekitarnya untuk merantau. Hingga kawasan ini sering disebut Jawa-Deli, yang anak turunnya kemudian disebut Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatra).

Sejarah panjang kawasan subur dan terbuka ini, sejak masa koloni Hindia Belanda, memang banyak melahirkan orang-orang besar, yang sejarah akan mencatat sebagai sumbangan peradaban Indonesia. Sebut saja nama2 seperti S. Sudjojono dan Basuki Resobowo, tokoh seni rupa Indonesia yang memiliki corak nasionalisme yang kuat. Di bidang pendidikan ada nama Daoed Jusuf, yang pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang pada masanya berusaha kuat mengembalikan kampus sebagai wadah pendidikan dan riset. Menjauhkannya sebagai ajang pertarungan politik, melalui Program NKK-BKK. Benang merahnya sama, mereka memiliki ikatan dan pengaruh yang kuat dari Perguruan Taman Siswa. Di sini pulalah, Probosutedjo memulai kariernya sebagai guru di Pematang Siantar. Membuatnya walau tetap seorang Jawa, tapi memiliki sifat2 yang lebih terbuka dan tidak hipokrit.

Ia dapat dianggap termasuk terlambat memasuki dunia bisnis, bila dibandingkan dengan kroni-keluarga Soeharto yang lain. Ia lebih dulu mendirikan sebuah Akademi Wiraswasta Dewantara, yang kemudian melalui yayasan yang sama berkembang menjadi antara lain Universitas Mercu Buana di Jakarta dan Jogja (dulu nama awalnya agak “ndesit” Universitas Wangsa Manggala). Sedangkan Mercu Buana lebih dulu populer sebagai nama kesebelasan era Galatama dari Medan, yang pada masanya cukup populer dan disegani.

Dari Sumatera Utara pulalah, ia memulai berbagai bisnis perkebunan-nya sebelum memindahkan basis bisnisnya yang kemudian menggurita ke Jakarta. Saking banyak bidang usahanya, ia kemudian nyaris masuk ke seluruh sektor bisnis yang bisa “dibisniskan”. Posisinya dianggap pentin, karena ia kerap dijadikan penengah oleh Suharto yang sejujurnya juga merasa gagal menjadi “bapak yang adil” bagi anak2nya. Probosutedjo-lah yang menjadi “juru damai, penasehat, dan sekaligus tangan kanan” pasutri Pak Harto dan Bu Tien yang juga merasa kewalahan mengurusi persaingan bisnis anak-anaknya sendiri. Nyaris semua pengusaha baik keturunan maupun pribumi berusaha mendekat padanya untuk mendapat akses dan perlindungan “hukum dan politik”. Situasi yang kelak membuatnya terjebak dalam situasi yang tak sepenuhnya ia mengerti. Ia bahkan pernah menyatakan “tidak tahu lagi perusahaan apa saja yang ia miliki (saking liar dan tidak sinkron antar satu bisnis dengan bisnis lainnya)”.

Situasi inilah yang juga akhirnya menyebabkannya menjadi satu2nya keluarga Suharto (di luar anaknya) yang pernah mendekam di penjara. Ia divonis 5 tahun penjara akibat penggelapan dana reboisasi yang nilainya lebih dari 100 M. Walau ia mengembalikan dana tersebut, namun ia tetap menjalani hukumannya penuh. Tentu saja ini hanya jalan masuk untuk “setidaknya” menunjukkan pada publik bahwa ada satu dari adik Suharto yang tersentuh, “bisa dipenjara”.

Bandingkan misalnya dengan Sudwikatmono yang sebenarnya lebih berwatak mafioso, bergaya “don king”, dan bisnisnya melulu di bidang2 yang glamour. Bahkan sebagai pemilik jaringan Bioskop 21, pernah dianggap sebagai musuh nomor satu dunia perfilman Indonesia. Setelah reformasi Pak Dwi memilih tiarap, menghilang, tak terdengar kabar, tapi tetap bersih secara hukum hingga akhir hayatnya. Probosutedjo memilih mengambil resiko sebagai juru bicara keluarga besar Suharto. Hal ini dimungkinkan karena pribadinya yang lebih dikenal merakyat, ngabudayan, dan memiliki kepedulian terhadap sejarah.

Di Jogja ia memiliki dua buah dalem di Jeron Beteng yang berada tak jauh dari Kraton. Satu dalem di depan Pasar Ngasem yang kemudian dinamainya Dalem Probosutejan dan sebuah lagi di dekat Alun2 Selatan yang dulunya adalah Ndalem Ngabeyan. Kedua dalem ini setelah dimilikinya terbuka untuk publik, bahkan salah satunya tempat favorit “kawula alit munggah bale”, rakyat naik kasta sehari bila ingin mengadakan hajatan perkawinan ala para bangsawan. Setelah keluar dari penjara, ialah yang menjadi pelopor pertanian padi organik. Ia memperkenalkan Metode SRI (System of Rice Intensification). Metode ini merupakan suatu inovasi yang berhasil meningkatkan produktivitas padi hingga dua kali lipat, namun sangat ramah lingkungan karena menjauhkan diri dari berbagai pupuk kimia atau peptisida buatan.

Hari ini, Senin 26 Maret 2018, ia meninggal dunia di Jakarta di usia 87 tahun akibat kanker tiroid yang telah dideritanya selama 20 tahun. Ia dianggap sebagai “pembela gigih” kakak kandungnya. Namun ia pula orang pertama yang memintakan maaf atas kesalahan2 kakaknya. Ia juga yang membuatkan museum yang “terlalu sederhana” buat ukuran orang yang berkuasa 32 tahun untuk kakaknya di desa kelahiran mereka di Kemusuk, Sedayu, Bantul. Tempat yang sama dimana ia memilih pulang untuk dimakamkan. Ia contoh seorang adik yang “mikul duwur mendem jero” terhadap keluarganya. Ia menunjukkan bahwa pada hal2 yang melulu dianggap buruk, tetaplah tersisa hal2 baik. Ia orang Jawa-Jogja yang juga menyisakan nilai2 mulia yang tetap pantas diteladani.

Sugeng tindak, Pak Probo. Mugi kaluhuran budi swargi pinaringan papan mulya ing swarga langgeng. (Mangoenprasodjo AS)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa. Hal yang sulit dipahami adalah tidak pernah kubu oposisi memberikan …