Home / Sosial / Mudik Lebaran 2018 Lancar
Mudik Lebaran 2018 Lancar

Mudik Lebaran 2018 Lancar

Mudik Lebaran 2018 Lancar. Mudik lancar, banyak yang baru ‘ngeh’ akan ‘saktinya’ infrastruktur. Perpindahan barang dan manusia bisa dilakukan dengan cepat, lancar dan aman. Semua takjub.

Pemudik tidak kelelahan di jalan karena macet. Kecelakaan turun. Faktor terbesar kecelakaan adalah karena lelah fisik yang terus dipaksakan mengemudi.

Ketika Pak Joko Widodo ngebut bikin jalan, pelabuhan, bandara dan bendungan, banyak orang mulai ribut. Soal asal dananya atau masalah hutang yang bengkak. Sebenarnya ingin nulis dari dulu. Gatal. Tapi menahan diri.

Sekaranglah momennya.

Heran. Mengapa diributkan? Padahal, apa yang dilakukan sudah pada jalur yang benar. Kita terlambat 25 tahun dalam membangun infrastruktur. Singapura baru merdeka tahun 1965, jalur MRT nya sudah hampir 200 km. Kita, baru bulan Maret 2019 nanti bisa menikmati. Panjangnya, 15, 7 km.

Kalau jalan lancar, denyut ekonomi otomatis, ya, bergerak.

Mari lihat sejarah:

1933, ketika Hitler mendapat mandat untuk membangun Jerman, apa yang pertama ia lakukan? Ya. Ia membangun U-bahn! Jalan cor semen. Bukan lagi aspal. Jalan yang lebar, tebal dan kuat khas Jerman. Padahal negaranya lagi miskin. Neraca minus. Tidak bisa berhutang ke lain negara, karena tidak ada yang percaya (memberi pinjaman) pada negara yang kalah Perang Dunia Pertama. Pengangguran tinggi. Kelaparan merajalela. Inflasi meroket.

Lalu, bagaimana caranya membangun?

Saweran nasional! Dimulai dari pucuk pimpinan. Difilmkan, dan diputar di seluruh negeri. Rakyat tergerak. Dana terkumpul banyak dalam sekejap.

Pemerintah membuat semen, aspal (untuk beberapa jalan tertentu) dan mengumpulkan bahan.

Tenaga kerja? Semua yang menganggur dan kelaparan didaftar dan diminta kerja. Mereka tidak diberi upah uang, tapi hanya diberi roti! Yang penting si pekerja dan keluarganya tidak kelaparan. Rakyat dijelaskan tujuannya: ekonomi bergerak dan kemakmuran milik bersama bukan fatamorgana.

Semua setuju. Dan dalam satu tahun orang lalu takjub. Jalan lebar terbentang mulus dari Munich di selatan hingga Hamburg di utara. Dari Koln di barat hingga ke Berlin. Terus sampai ke jalan-jalan kelas dua dan tiga di seluruh pelosok Jerman.

Bendungan dan saluran air irigasi di bangun. Air menjangkau ke semua area pertanian. Petani ngebut tanam gandum.

Tahun berikutnya tak ada lagi orang kelaparan, kini, para pekerja negara tidak saja mulai mendapat upah, tetapi kalau mau liburan juga diberi bekal uang dari negara! Hotel gratis. Boleh memilih, ke gunung atau wisata kapal pesiar? Semua dibayari!

Selain membangun jalan, mobil murah VW (mobil rakyat) kodok dan VW ‘camat’ juga diperkenalkan. Jadilah tahun 1936 atau hanya tiga tahun saja ekonomi Jerman tidak saja bangkit dari keterpurukan tetapi juga perkasa! Kemakmuran terlihat dimana-mana.

Tahun itu juga Jerman berani mengambil keputusan siap sebagai tuan rumah Olimpiade ke-11. Bayangkan!
Teknologi berkembang pesat. Pada olimpiade ini juga teknologi televisi pertama kali diperkenalkan dan dipakai untuk meliput even olahraga.

Bahwa ada cara-cara keras yang diterapkan, seperti memberangkus pers, cendekiawan dan mahasiswa yang kritis ditangkapi, menggulung semua organisasi buruh dan serikat pekerja serta menerapkan upah rendah secara nasional, itu tidak bisa ditiru. Apalagi, kemudian, blunder besar dimulai tatkala Jerman membangun kekuatan militernya disusul menyerang negara-negara tetangga. Ujungnya, kita semua tahu. Jerman hancur dan kalah perang.

Itu tidak usah ditiru.

Nah, berkaca dari sejarah tadi, ketika Joko Widodo mulai bebenah dan ngebut membangun infrastruktur saya senang bukan main. Akhirnya, ada pemimpin yang ‘ngeh’ dan langsung kerja tuntas.

Hasilnya? Kita semua bisa rasakan saat mudik tahun ini. Ini belum seberapa. Lihat dua tahun ke depan saat ekonomi di daerah urat-urat jalan, pelabuhan dan bandara ini mulai menggeliat, kita bisa lebih takjub. Ikan, hasil gunung, hasil ladang dan sawah, hasil industri, kerajinan, pariwisata dan banyak lagi. Semua bergerak cepat dan efisien. Hilir mudik!

Nah, melihat bangkitnya Jerman di atas, percayalah: kita juga bisa! (Wibisono G)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani (1). Pendahuluan. Bro n Sis, saya bikin tulisan panjang, jadi …