Home / Sosial / Negara Demagog
Demagog
Negara Demagog

Negara Demagog

Anti Media Indonesia – Kita menghadapi persoalan besar disini. Semua alat-alat negara kita tidak berdaya menghadapi para demagog. Sodara tahu demagog? Ia adalah istilah untuk politisi yang mencari kekuasaan dengan mengeksploitasi dan memanipulasi ketakutan dan prasangka-prasangka terhadap pihak lain. Kita tidak kekurangan para demagog ini. Mereka bebas memprovokasi. Mereka bebas memanipulasi prasangka-prasangka terhadap satu kaum yang tidak jelas kebenarannya. 10 juta pekerja Cina di Indonesia? Uang kertas berlambang palu arit? Kebangkitan komunis? … Sodara bisa menambah daftarnya.

Indonesia bagai Negara Demagog dimana para pemecah belah persatuan dan kesatuan ini seperti hidup di surga. Sekalipun sudah memiliki aturan-aturan hukum yang anti-kebencian, tampaknya hukum itu tidak berdaya terhadap mereka. Bukan hukumnya yang tidak berdaya. Mereka yang menegakkan hukum sendiri yang tidak berdaya menghadapi para demagog ini. Sodara, aksi para demagog ini (atau demagoguery dalam bahasa Inggris) sudah menjalar kemana-mana. Tidak hanya di tingkat nasional namun juga di tingkat lokal.

Masih segar ingatan ketika Panglima TNI marah kepada Australia karena mendapati ada satu program bahasa Indonesia untuk militer Australia yang mem-plesetkan Pancasila. Reaksi Panglima TNI sangat drastis. Dia hendak memutuskan semua kerjasama militer antara Indonesia-Australia. Namun langkahnya ini dianulir oleh Menteri Pertahanan, Menko Polkam, dan kemudian oleh Presiden sendiri.

Hari ini, saya menemukan di blog-nya Elizabeth Pisani bahwa ternyata plesetan itu sudah ada berbulan lampau. Dilakukan oleh? FPI … Ya, FPI, Sodara-sodara! Tulisan Elizabeth Pisani saya tak hendak membahasnya panjang lebar, tapi saya akan jelaskan hubunganya dengan negara kita tinggal sekarang karena seolah seperti Negara Demagog.

Di Bali, misalnya, seorang politisi yang mengaku diri sebagai Raja Majapahit Bali, mendudukan dirinya sebagai pembela agama Hindu. Dia bebas mengekspolitasi dan memanipulasi kebencian terhadap pihak luar. Dia kemudian membuat batas sendiri — mana yang murni Hindu dan Bali — dan mana yang bukan. Mulailah dia melakukan provokasi terhadap apa saja yang dia definisikan “merugikan” umat Hindu. Dia protes ketika lambang-lambang kebalian dan kehinduan dirugikan. Dia bersuara lantang ketika ada sanggar tari Bali di Yogya memodifikasi pakain tari dengan menutup bagian yang terbuka sehingga kaum Muslim juga bisa belajar tari Bali. Dia menuntut agar acara ‘Bali Bersholawat’ menanggalkan kata ‘Bali’ karena menurutnya Bali yang non-Muslim iitu tidak ‘bersholawat.’

Demagoguery juga terjadi di daerah dimana Kristen menjadi mayoritas. Politisi-politisi dengan senang hati mengeksploitasi ketakutan dan prasangka kepada kaum Muslim. Untuk kepentingan kekuasaannya sendiri tentu saja. Para demagog adalah pemenang dalam sistem politik kita sekarang — yang sesungguhnya jauh dari praktik demokratis ini. Tentu masih segar dalam ingatan Sodara, seorang politisi yang rajin “menenun kebangsaan” pada akhirnya menyerah pada arus demagogi: dia membakar sendiri tenunannya. Demikian berkuasanya para demagog ini, mereka seperti berada di atas hukum.

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …