Home / Sosial / Ngomel Kalau Buruh Asing Masuk
Ngomel Kalau Buruh Asing Masuk

Ngomel Kalau Buruh Asing Masuk

Di Indonesia orang ngomel kalau buruh asing masuk. Mereka maklum kalau yang masuk adalah tenaga ahli. Ada orang-orang yang merasa tersaingi. Siapa? Tenaga ahli tentu tidak akan merasa tersaingi oleh buruh, bukan? Jadi, siapa yang merasa tersaingi itu? Mungkin buruh.

Sebenarnya kita justru harus mengomel kalau perusahaan asing terus memasukkan tenaga ahli. Banyak pos yang sebenarnya bisa ditempati oleh tenaga Indonesia, tapi masih juga ditempati orang asing. Kenapa? Ada banyak faktor, salah satunya kepercayaan. Orang Jepang, misalnya, sangat sulit percaya pada orang lokal. Apalagi menyangkut soal keuangan.

Hal lain, perusahaan asing juga punya kepentingan untuk memberi posisi pada pekerja mereka. Banyak perusahaan yang di negara induknya harus memangkas organisasi. Makin sedikit orang yang dibutuhkan di perusahaan induk. Maka orang-orang harus dioper ke luar negeri. Kalau jabatan di luar negeri diberikan ke orang lokal, mereka bakal menganggur.

Kementerian maupun Dinas Tenaga Kerja tidak pernah benar-benar menguji kebutuhan tenaga kerja asing di perusahaan asing. Maka sangat banyak pos-pos yang seharusnya sudah bisa ditempati orang Indonesia, masih ditempati orang asing. Termasuk juga posisi yang dilarang ditempati orang asing, misalnya untuk urusan personalia.

Kok bisa? Jabatan-jabatan itu cuma diganti namanya. Pakailah misalnya nama direktur marketing, atau perencanaan. Lolos. Setelah lolos, pemberi izin juga tidak memeriksa apakah benar-benar dia jadi direktur marketing.

Petugas negara biasa bekerja asal-asalan.

Bagi saya meributkan buruh asing itu tidak strategis. Justru pos tenaga ahlinya yang harus diributkan dan direbut. Kalau posisi di atas sudah ditempati orang Indonesia, urusan buruh mah kecil. (Abdurakhman H)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …