Home / Internasional / Odong Odong Versus Ferrari
Odong Odong versus Ferrari

Odong Odong Versus Ferrari

Odong Odong Versus Ferrari. 1945. Setelah perang dunia kedua berakhir, Jenderal Amerika George S. Patton, yang juga berhasil mengalahkan Nazi-Jerman, berkata: “Perang, di masa depan sudah tidak menarik lagi. Teknologi mengambil alih. Tak ada lagi gelar pasukan. Tak akan terlihat peran Jenderal di lapangan mengatur strategi dan memberi semangat anak buahnya. Sudah tidak seru lagi!”

Dengan segala hormat atas korban yang ditimbulkan karena peperangan, ucapan Patton benar.

Kemajuan teknologi dalam alutsista (alat utama sistem senjata) mengubah semua pakem. Peran tentara juga para jenderalnya, di lapangan, jadi berkurang digantikan oleh komputer dan mesin.

Kejadian minggu lalu dimana tiga negara -Amerika, Inggris dan Perancis- secara serempak, pukul 04.00, menembakkan 110 rudal jarak menengahnya ke arah Suriah, sebuah negara di Timur Tengah, membuktikan bahwa teknologi telah mengambil alih semuanya. Dan semakin hari semakin canggih!

Amerika melepas 59 rudal Tomahawk dari 3 kapal perang -satu kapal selam dan dua kapal permukaan- di Laut Tengah, pesawat tempur dan pembom B-1 yang lepas landas dari Pangkalan di Yordania, Turki dan Qatar. Sementara 51 rudal sisanya dilepas Inggris (Storm Shadow) dari pesawat tempur Tornado, dan Perancis (Scalp) dari pesawat Mirage.

Baik Storm Shadow maupun Scalp adalah dua nama untuk satu rudal yang sama. Satu kelas. Beratnya 1,5 ton, dan daya jelajahnya ‘hanya’ 1.000 km.

Misalnya, rudal ini dilepas di Jakarta, mampu menembak sasaran di Banyuwangi, Jawa Timur, sana dengan kemungkinan meleset hanya satu meter saja! Kecepatannya termasuk ‘pelan’ untuk sebuah peluru canggih, ‘hanya’ 800 km per-jam!

Dan, BGM-109 Tomahawk kurang lebihnya sama. Termasuk kecepatan. Hanya, rudal veteran sejak 1983 ini mampu melesat sejauh 2.500 km atau sasaran di Banda Aceh sana bisa dilumpuhkan dari Jakarta!

Alasan serangan tiga negara ini -konon-untuk menghancurkan instalasi senjata kimia milik Suriah. Benar tidaknya masih perlu pembuktian.

Hanya, menariknya, pertahanan udara Suriah yang di dukung Rusia dan Iran, ternyata berhasil melumpuhkan serbuan itu. Serangan senilai lebih kurang 200 juta dollar ini hanya menimbulkan 20 persen kerusakan saja!

Ini karena Rusia membantu sistem pertahanan udara Suriah dengan mengandalkan rudal darat ke udara S-400, yang mampu melesat hingga 17.000 km / jam!

Tidak seimbang. Rudal 800 km/ jam dicegat peluru dengan kecepatan 17.000 km/ jam. Ibarat odong-odong di kejar Ferrari!

Harus diakui, Amerika dan kawan-kawannya memang unggul dalam teknologi pesawat tempur, sementara Rusia jago dalam pertahanan udara. Kelebihan inilah yang ‘dijajakan’ ke seluruh dunia, dalam paket perdagangan senjata.

Pesawat tempur lebih leluasa dan lincah dalam bermanuver. Sementara rudal pertahanan udara, meskipun bisa dipindah-pindah memakai truk pengangkut, tetap tidak bisa selicin pesawat tempur.

S-400 ini perangkat senajata yang mahal. Harganya 400 juta dollar untuk dua truk saja. Satu truk mengangkut empat tabung tempat peluncuran rudal (silo) atau 8 tabung untuk dua truk. Pembelian “paket” ini menyediakan 112 rudal.

Sementara pesawat tempur semakin banyak varian pilihan. Kelebihannya juga bermacam-macam. Tinggal pilih sesuai selera!

Karena teknologi pula semua ‘tontonan’ mengerikan ini hanya dilakukan di belakang layar. Artinya, yang menyerang cukup menekan tombol. Dan, negara yang diserang juga cukup menekan tombol.

Kemudian, dua jenderal dari dua negara lalu muncul di depan televisi, menjelaskan pada penduduk dunia yang terbelalak : “bla..bla..bla….”

Peran teknologi bukan tanpa kelemahan. Pada tanggal 4 Oktober 2001, rudal S-200 milik Rusia yang siaga, secara tidak sengaja mengunci (locked) ‘sasaran’ yang melintas…..sebuah pesawat penerbangan sipil!

Pesawat Tupolev Tu-154, Siberia Airline yang berisi 78 orang awak dan penumpang, tewas di udara dengan mengenaskan karena dihajar rudal ini.

Pekembangan teknologi, termasuk senjata, memang memudahkan manusia. Tetapi pemakaiannya harus benar-benar dikontrol agar tidak disalahgunakan atau jatuh ke tangan yang tidak tepat. Efeknya mengerikan. Makin canggih senjata, semakin mematikan. (Wibisono G)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Solusi Palestina

Opsi Solusi Palestina atas Konflik dengan Israel

Solusi Palestina. Secara umum, ada dua jenis opsi yang ditawarkan para pemikir dan pengkaji Timteng …