Home / Sosial / Perlawanan Terhadap Imperium Americanum
Perlawanan Terhadap Imperium Americanum

Perlawanan Terhadap Imperium Americanum

Perlawanan Terhadap Imperium Americanum. Pada tulisan seri keempat kita mendiskusikan bahaya Imperium Americanum yang hanya peduli pada kepentingannya sendiri dengan menggunakan senjata sebagai pengancam. Video di bawah ini jelas memenunjukan tingkah laku konsumtif yang “mendukung” imperialisme. Maka meskipun ada tanda-tanda kejatuhan imperium itu. Namun tanda2 kejatuhan itu bisa saja lenyap dan Imperium menjadi semakin kuat jika tidak dibarengi dengan usaha nyata khususnya oleh Indonesia sebagai negara dan bangsa besar.

Mengapa Indonesia?

Indonesia bangsa besar dan luar biasa kaya hampir dalam segala hal. Kita mempunyai talenta dan kemampuan untuk menjadi bangsa kuat, tetapi sejak kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kita terus didikte oleh negara lain khususnya Barat, lebih khusus lagi oleh AS.

AS dan segenap sekutunya tidak akan pernah melepaskan Indonesia. Membiarkan Indonesia tumbuh menjadi kuat tanpa senjata sungguh sangat riskan bagi kepentingan imperialis Barat.

Pertama karena Indonesia dengan 250 juta populasi, merupakan pangsa pasar dengan keuntungan ekonomis menggiurkan. Negara-negara industrialis Barat yang saat ini tergabung dalam G8 sejak melihat dengan jelas prospek keuntungan itu.

Kedua. Indonesia mempunyai kekayaan alam luar biasa yang sangat dibutuhkan untuk menopang kelangsungan hidup Industri G8. Mulai dari minyak sampai hutan tropis yang indah sekaligus menjadi paru-paru dunia.
Bangsa Indonesia merupakan sumber daya manusia yang luar biasa handal. Kekayaan yang tiada bandingnya.

Apa yang bisa dilakukan untuk meruntuhkan Imperium AS?

Mengingat penjajahan moderen bukan lagi hal penguasaan teritori, tetapi lebih pada penguasaan sosial budaya serta ekonomi, maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai perlawanan.

Pertama. Kembali mempertajam mata hati untuk membedakan dengan jernih antara “kebutuhan dan keinginan”. Kerancuan dalam membedakan kedua hal itu menjadi sumber masalah. Manusia hanya membutuhkan sedikit baik jumlah maupun ragam barang, untuk hudup secara layak dan nyaman. Tetapi “keinginan” bisa membuat seseorang merasa membutuhkan luar biasa banyak, sedemikian banyak sehingga tak pernah cukup. Orang bisa memakan jauh melebihi yang dibutuhkan. Orang memiliki harta melebihi ukuran normal. Bisa jadi alasan-alasan penumpukan barang dan kekayaan yang dikemukakan sungguh masuk akan bahkan kerap dengan alasan “suci”, seperti “demi masa depan”, “demi kesejahteraan dan kenyamanan anak istri”, dll.

Dengan mengkonsumsi hanya yang dibutuhkan, maka otomatis akan menurunkan penjualan dan keuntungan perusahaan2 besar yang de facto dimiliki AS dan atau G8. Otomatis mengurangi aliran rupiah masuk ke kocek mereka. Rupiah yang berputar di dalam negeri semakin banyak.

Kedua. Mengurangi perjalanan/ kunjungan ke AS dan negara G8, termasuk segala macam study banding (yang tak lebih dari pemborosan saja). Srudi banding antar daerah di dalam negeri sendiri akan lebih bermanfaat karena situasi dan kondisi ipoleksosbud nya lebih memungkinkan untuk saling bertukar pengalaman serta bisa saling melengkapi.

Mengisi liburan atau piknik/refreshing ke negara2 G8, dialihkan ke wisara dalam negeri yang tak kurang jumlah dan keindahannya. Wisata Rohani ke wilayah-wilayah Eropa dan AS pun baik dipindahkan ke dalam negeri saja.

Tentu kedua langkah di atas bisa saja berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi. Tetapi pelambatan itu dibarengi tidak akan menjadi masalah sama sekali, karena dibarengi dengan penghematan devisa akibat menurunnya import barang. Juga pelambatan itu dibarengi dengan pemerataan penyebaran rupiah ke daerah2 karena tujuan wisata dalam negri semakin memnggelora, dengan penyerapan tenaga kerja lokal. Maka kesenjangan ekonomi pun lambat laun dipersempit. Keren kan Kang Bro n Teh Sis?!

Siapa yang harus menjadi pelopor gerakan Perlawanan?

Kalangan atas (elite ekonomi dan elit politik) sudah terlalu jauh berjarak untuk memikirkan kepentingan bangsa dan negara, sekalipun mereka mau, situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Kalangan rakyat bawah tidak punya kemampuan untuk bergerak dan mereka memang sudah tidak mampu bahkan untuk memenuhi kebutuhannya. Maka kedua langkah di atas hanya bisa dipelopori oleh kalangan menengah yang mempunyai kemampuan ekonomi. Kalangan menengah ini pula yang paling banyak menjadi korban dari kerancuan “kebutuhan-keinginan”. Kalangan menengah ini lah yang bisa menjadi pelaku perubahan.

Kalangan menengah mampu menjembatani atas-bawah, dan sebaliknya menarik perhatian atas kemampuan bertahan kalangan bawah dalam bertahan hidup dengan segala keterbatasannya. Semoga dengan begitu kesenjangan sosial ekonomi dapat semakin sempit.

Bagaimana menumbuhkan kesadaran untuk perlawanan tanpa senjata?

Setiap Anda di daerah/wilayah masing2 mulai membentuk kelompok2 diskusi kecil untuk mencermati serta memperjelas “keinginan dan kebutuhan”. Setiap diskusi diakhiri dengan niat untuk melakukan sesuatu mulai dari diri sendiri dan kelompok. Niat tersebut dievaluasi pada pertemuan berikutnya. Sebaiknya diadakan minimal setiap 2 minggu.

Diskusi tersebut bermanfaat juga sebagai ajang memperjelas kesadaran perlunya melakukan perlawanan halus tanpa kekerasan. Diharapkan masing2 anggota kelompok bisa mengajak anggota baru dalam pertemuan berikutnya.

Kapan mulai bergerak?

Detik ini. Menunda gerakan sama artinya memperkecil kesempatan berhasil. Saat inilah waktu terbaik untuk melakukan perlawanan. Karena inilah saat Indonesia sebagai bangsa dan negara berada pada titik balik menuju kegemilangan.

Saat ini dunia membutuhkan kepemimpinan tanpa back up senjata pembunuh massal. Hanya Indonesia yang paling mungkin memimpin. Ini pilihan kita, rakyat Indonesia, bertindak sesederhana apapun, atau sekedar nyinyir melulu.

Saya bermimpi?

Ya saya bermimpi, tetapi mimpi ini menjadi kenyataan karena Anda dan saya bahu-membantu mewujudkan mimpi ini dalam kenyataan, karena kita sudah dan akan terus bergerak. Dengan seizin Tuhan, bersama kita bisa!!!

 

Mari hidup sesuai dengan kebutuhan. Salam. (Winardi FI)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani (1). Pendahuluan. Bro n Sis, saya bikin tulisan panjang, jadi …