Home / Internasional / Power Vacuum, Kalimat Justifikasi White House
Power Vacuum

Power Vacuum, Kalimat Justifikasi White House

Power vacuum. Kalimat inilah yang paling sering dijadikan sandaran oleh White House sebagai justifikasi keberadaan moncong bedilnya di tanah orang lain.

Di Afghanistan, Iraq, Libya dan Syria, AS mengumumkan keengganannya untuk berhenti dari kegiatan militer ilegalnya, demi obsesinya akan ‘power vacuum’.

Di Afghanistan, Washington beralasan akan kebangkitan kembali Taliban jika mereka angkat kaki, namun kenyataannya, setelah 17 tahun, Taliban malah menjadi semakin kuat setiap hari.

Di Iraq, negeri yang porak-poranda akibat invasi Pentagon berbasis kebohongan Colin Powell, AS memberi alasan yang sama. Di Libya, justru invasi NATO-lah yang mencetuskan ‘power vacuum’ paling mengerikan.

Dan di Syria, ketika aliansi Syria – Rusia – Iran berhasil membumi-hanguskan ‘jihadis’ yang menghancurkan negeri itu dengan suplai senjata dari AS sendiri – Washington pasang muka tembok.

Problemnya, siapa sebenarnya yang menciptakan ‘power vacuum’ terlebih dulu di negeri-negeri itu?

Pertemuan pemimpin Rusia, Iran dan Turki di Ankara kemarin adalah bukti final akan tidak relevannya klaim AS tentang ‘power vaccum’ yang dimaksud.

Unilateralisme ala elang gundul kini semakin tergerus, dan meski mereka masih memiliki daya bunuh yang terkuat di dunia, sayangnya, untuk mengoperasikan armada militer, perlu dana yang tidak sedikit.

Dengan aliansi berbasis dagang dan mutual interest, Rusia dan Iran berhasil menekan Ankara untuk memahami, bahwa sebenci-bencinya Erdogan pada Assad, opsi Turki semakin sedikit. Bersandar sepenuhnya pada AS, seperti yang terlihat pada kasus Kurdi, adalah tindakan bunuh diri.

Meski kebiasaan Turki untuk pasang dua kaki akan melekat, namun setidaknya ini memberi pesan penting pada Pentagon, terutama melihat upaya Turki yang jauh berkurang untuk membela ‘jihadis’ mereka di Ghouta Timur, apalagi jika dibandingkan dengan Aleppo.

Syria dan militernya semakin solid, dan perlahan, Iran dan Rusia mulai mengurangi jumlah pasukannya. Tinggal menunggu waktu bagi rakyat AS untuk ribut setelah serdadu mereka mulai berjatuhan di ladang minyak yang diduduki di Syria.

Dengan Qatar yang semakin antagonistik pada satu-satunya sapi perah Pentagon di kawasan, Saudi, Washington kembali terperangkap dalam ilusinya sendiri – mungkin karena terlalu lama memandangi tumpukan hulu ledak nuklir di gudang sembari mencoret-coret peta dunia.

Tapi tentu, ‘Putin adalah atheis yang kejam’. ‘Syiah juga bukan Islam’. Media dan mesin propaganda neocon seolah tak menyadari bahwa semakin lama apa yang mereka katakan menyerupai delusi yang menggelikan.

Russophobia, Islamophobia, Sunni-Syiah dan serangkaian isu lama menjadi alternatif propaganda yang siap dinyalakan kapan saja, dan melihat makin sempitnya dunia Washington di timur tengah, it’s a high time for them to turn on Asia.

Lagipula, dengan budget daya bunuh segitu besar, itu misil dan rudal masak dianggurin?

Know your enemy. (Baseem B)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Solusi Palestina

Opsi Solusi Palestina atas Konflik dengan Israel

Solusi Palestina. Secara umum, ada dua jenis opsi yang ditawarkan para pemikir dan pengkaji Timteng …