Home / Sosial / Prihal Masalah Garuda Indonesia
Garuda Indonesia

Prihal Masalah Garuda Indonesia

Garuda Indonesia. ( Bisnis ). Pilot Garuda merasa tidak puas dengan reorganisasi management Garuda yang menghapus direktur operasi dan direktur teknik. Pihak Pilot menilai management yang baru dibawah Direktur Utama Pahala Nugraha Mansury dinilai tidak memperhatikan standar layanan sebagaimana Airport Operating Certificate (AOC) yang setiap tahun dinilai dan diperbarui. Namun pihak management punya alasan tersendiri dalam rangka memperbaiki kinerja keuangan Garuda indonesia. Dan terbukti kwartal pertama tahun ini, Garuda Indonesia berhasil menekan kerugian hingga 36,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tetapi menurut saya efisiensi itu terjadi tidak bersifat berkesinambungan karena masalah mendasar Garuda ada pada struktur permodalan tidak sehat.

Masalah struktur permodalan ini sudah ada sejak era SBY dan kinerja saham Garuda terus turun. Sejak awal masuk bursa nilai saham Rp. 750/lembar dan sekarang dikisaran Rp. 390. Karena struktur permodalan tidak sehat maka terpaksa kelangsungan usaha di topang oleh utang. Bulan lalu Management Garuda sudah dapat izin dari Pemegang saham untuk menerbitkan Global Bond sebesar USD 750 juta melalui bursa Singapore. Keliatannya global Bond ini sebagian besar digunakan untuk bayar utang juga. Tahun ini bulan juli utang jatuh tempo sebesar Rp 2 triliun. Total utang Garuda tahun 2017 tercatat sebesar USD 1,7 milyar atau setara Rp 23,2 triliun. Akibatnya pendapatan usaha tergerus sebagian besar untuk cost of money bayar bunga.

Dalam jangka pendek memang menyelesaikan masalah. Tetapi dalam jangka panjang justru menempatkan Garuda dalam kondisi semakin berat. Karena GI harus menghadapi beban bunga yang kemungkinan semakin besar akibat kenaikan suku bunga the fed. Kalau begini terus maka tanpa disadari karyawan Garuda secara tidak langsung memsubsidi perusahaan. Yang seharusnya ini menjadi tanggung jawab pemegang saham utama mengatasi agar Garuda Indonesia bisa laba secara proporsional dengan kerja keras Karyawan. Belum lagi tingkat persaingan maskapai penerbangan sekarang sangat ketat. Sementara harga bahan bakar Avtur melonjak. Dalam pos biaya avtur GI naiknya mencapai 54% bila dibandingkan tahun 2016 USD 189 juta menjadi USD 292,3 tahun 2017. Ini beban berat.

Saya melihat persoalan Garuda Indonesia tidak ruwet. Ini kembali kepada komimen Pemerintah untuk menjadikan GI sebagai Maskapai kebanggaan Indonesia. Ya pemerintah harus menambah Modal GI agar struktur permodalannya sehat sehingga menghemat biaya bunga dan memastikan GI bisa laba dan sehat untuk melaksanakan misinya. Caranya melalui Penambahan Modal hasil Penyertaan Modal Negara Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih dahulu (PMN THMETD). Sebulan Jokowi berkuasa pada bulan desember 2014 telah disetujui sebagai solusi dan dilaksanakan tahun 2016. Namun jumlahnya tidak significant. Tidak langsung memperbaiki struktur permodalan Garuda. Dalam bisnis itu, modal tidak bisa diberikan tanggung apalagi tidak langsung bisa recovery business. itu sama saja buang sabun di dalam bak. Sabun habis, bak kotor.

Saya yakin, Jokowi sangat paham masalah GI. Hanya saja Jokowi tidak bisa langsung memperbaiki struktur permodalan karena DPR selalu keberatan untuk mengeluarkan anggaran PMN untuk Garuda. Tanpa izin DPR tidak mungkin PMN keluar. Solusinya adalah pemerintah bisa meminta kepada Angkasa Pura I dan 2 yang punya cadangan tunai untuk injeck cash ke Garuda melalui skema preferred Stock atau sebagai pemegang saham melalui private placement. Ini akan menjadi sinergi hebat karena saat sekarang udah ada 34 bandara internasional di Indonesia yang dikelola oleh Angkasa Pura. Sumber dana Angkasa untuk inject Garuda bisa berasal dari cadangan laba dan penerbitan surat utang yang jelas lebih efisien karena kinerja mereka bagus.

Kalau dihitung dan dianalisa neraca Garuda Indonesia setelah struktur modal sehat dari beban utang akan meningkatkan value Garuda 3 kali lipat. INi akan otomatis meningkatkan value dari Angkasa Pura sebagai pemegang saham. Apalagi bila GI focus di jalur domestik dan Asia yang tumbuh pesat. Negeri kita kaya akan object Wisata. Keberadaan GI sangat fital meningkatkan laju wisata nasional. (Bandaro EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …