Home / Internasional / Proporsional Terhadap Kunjungan Yahya Staquf
Yahya Staquf

Proporsional Terhadap Kunjungan Yahya Staquf

PROPORSIONAL TERHADAP KUNJUNGAN YAHYA STAQUF (GUS YAHYA). Heboh dan membuang energi sia-sia, itulah yang terjadi dalam polemik menyikapi kunjungan Gus Yahya ke forum AJC Israel. Dunia seakan terbelah, mayoritas NU berpegang pada tokohnya, sebagian Syi’ah kecewa dan mengkritik, dan para Takfiri sumbu pendek seperti biasanya ngamukan dan memanfaatkan isu untuk menyerang. Apalagi tokoh ini adalah tokoh NU dan orang dekat Jokowi.

Jangan heran dengan para Takfiri yang mencerca Gus Yahya karena kunjungan dan kuliahnya di Israel, mereka sebenarnya hanya menargetkan NU, bukan Gus Yahya. Saat Din Syamsuddin menghadiri acara WJC (World Jewish Center) pada 2013 mereka hanya adem seakan-akan tak tahu. Atau mungkin karena saat itu isu copras copres berisik ini belum ada?

Ketahuilah yang mereka target bukanlah Gus Yahya, tapi NU secara lembaga. Posisi Gus Yahya sebagai Katib Aam PBNU dan anggota Wantimpres Jokowi mereka manfaatkan untuk menghancurkan citra ormas Islam moderat yang selalu menghambat perkembangbiakan para radikalis di bumi pertiwi dan pemerintahan Jokowi. Ya, mereka pintar, sekali hajar bisa dua nama yang rusak, NU dan Jokowi.

Saya sendiri pernah mengkritik Gus Yahya bukan? Tentu, saya adalah salah satu yang mengkritik beliau dalam kunjungannya ke Israel kemarin, tapi kritikan saya bukan atas kebencian pada Gus Yahya, apalagi NU. Kritik dengan pondasi argumen rasional dibutuhkan siapapun tokoh di negeri ini karena kita dan mereka adalah manusia biasa, bukan Nabi yang mendapat wahyu dari langit. Tapi, kalau sudah cacian apalagi tuduhan NU Pro Zionis, itu hal yang berbeda (dan saya pun tak terima).

Saya semalam menonton langsung video Gus Yahya di Truman Institute Jerusalem, disitu dengan gamblang beliau mengatakan “Saya mengabdi di jajaran kepemimpinan salah satu organisasi muslim terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Jadi jelas bahwa saya di sini untuk Palestina”. Yup, ini yang saya harapkan. Memang masih ada ‘something missing’ yang saya tunggu-tunggu, tapi saya sudah cukup puas. Saya minta hendaknya segala keraguan dan polemik seminggu ini dihentikan. Walau kata pembelaan Palestina tak tersebut di Forum AJC (di hadapan Netanyahu), setidaknya kalimat ketegasan itu terlontar di forum lain di negara yang sama.

Saya bukan tipe pengkritik yang tidak mau dikritik. Saat itu saya mengkritik beliau atas kunjungannya yang belum sampai seminggu setelah kematian perawat Razan al Najjar dan kata ‘Palestina’ yang tak tersebut di forum AJC, tapi saya sangat mengapresiasi kalimat pembelaan pada Palestina yang beliau lontarkan di Truman Institute. Tak ada yang perlu ditutupi.

Walau sampai saat ini saya masih meyakini cara terbaik (bahkan satu-satunya) untuk menghadapi Zionis adalah perlawanan bersenjata setelah 70 tahun pendudukan. Tapi bagi saudara-saudara NU yang berjuang dengan cara diplomasi lembut tapi lugas, maka itu layak mendapat apresiasi. Saya sangat menentang siapapun (catat! siapapun) yang menyebut Gus Yahya sebagai antek Zionis dan sebutan keji lainnya baik itu berasal dari para Wahabi, Aswaja rasa Wahabi, maupun sebagian Syi’ah yang kecewa.

Himbauan ini khususnya saya berikan pada sebagian kawan-kawan Syi’ah (kalau Takfiri saya tak peduli) yang tampaknya kecewa berat. Kalau mengkritik, silakan mengkritik dengan argumen rasional, bukan cacian kampungan ala Wahabi Takfiri. Kalian harus sadari bahwa kawan-kawan NU tidak dibesarkan dalam kultur kalian yang memuja perjuangan bersenjata terhadap Israel yang dilakukan Iran, Hizbullah, Suriah & Muqawwamah Palestina tanpa kompromi dan mengikuti isu-isu Geopolitik Internasional sebagaimana yang diserukan para Marja’ di Iran sehingga mereka teguh dalam program BDS (Boycott, Divestment anda Sanction). Kawan-kawan NU dibesarkan dalam budaya yang berbeda, tata krama bakti pada Kyai, moderat, mediator dan diplomatis dalam memandang konflik. Berjalanlah dalam jejak mereka, maka anda akan memahami sikap mereka.

Perlu diingat, sikap berbeda yang lebih kompromistis bukan berarti menggambarkan bahwa NU tidak memandang Israel sebagai musuh atau penindas. Kyai Said Aqil Siradj dalam video klarifikasinya menyatakan dengan tegas bahwa Israel adalah penindas dan NU selamanya berdiri bersama Palestina menentang penindasan ini. Jangan lupa juga, di tengah sikap moderatnya, NU pernah mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 bahwa perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan melawan kembalinya kekuatan kolonial adalah “Perang Suci”.

Mungkin ada yang bertanya kenapa resolusi jihad Palestina atas Israel kok tidak NU dukung sebagaimana resolusi jihad 1945? Ya, silakan kawan-kawan NU sendiri yang menjawab. Tapi sadari, bahwa Indonesia bukanlah Suriah dan Palestina yang sejak perang Arab-Israel 1948, 1967, Yom Kippur 1973 bahkan hingga hari ini masih terlibat perang fisik dengan Israel setelah sekian banyak langkah diplomasi yang berakhir pengkhianatan. Mungkin NU baru memulai langkah ini, mari kita hargai. Saya yakin akan tiba saatnya bagaimana Israel memperlihatkan karakter asli mereka. Sebagaimana Nabi Musa as dan Harun as yang diutus untuk mendakwahi Fir’aun secara lembut di awal, tapi berakhir dengan menyeru Bani Israil untuk tegas di akhir, itu juga yang akan dilakukan NU suatu saat pada Israel.

Yang perlu kita counter sekarang adalah bagaimana menghadapi para Takfiri yang mempolitisir isu ini untuk menyerang NU dan Pemerintah. Sebenarnya mengcounter mereka itu sangat gampang, suruh saja mereka bandingkan antara kunjungan sekali Gus Yahya dengan idola mereka Turki Erdogan yang berkali-kali mengunjungi Israel, membuka hubungan diplomatik dengan Israel (Israel punya Kedubes di Turki dan Turki punya Kedubes di Israel), dan Turki juga menjadi 10 besar mitra bisnis Ekspor-Impor dengan Israel (termasuk bahan bakar Jet Tempur yang membombardir warga Gaza dibeli dari Turki). Atau putra mahkota Saudi Muhammad bin Salman yang pada Maret lalu menemui pemimpin Komunitas sayap kanan Yahudi Zionis di New York yang membiayai perluasan pemukiman ilegal Israel di Palestina.

Tidak proporsional itu adalah ketika menghina seorang tokoh NU karena sebuah kunjungan ke Israel, sementara para idola mereka sendiri sudah tidur seranjang dengan Israel dan menghasilkan anak-anak haram bernama Jabhat Nushrah, FSA dan ISIS yang mengacau di Suriah untuk menggulingkan satu-satunya Pemerintahan Arab yang tak bersedia menandatangani perjanjian damai dengan Israel.

Di akhir, saya ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi saudara-saudara semua, yang NU, Syi’ah, Muhammadiyah dll yang masih menganggap Israel sebagai musuh walau berbeda metode perlawanan. Ini momen yang tepat untuk memohon maaf kalau ada tulisan saya yang menyinggung. Dan mohon THR juga kalau ada tulisan saya yang bermanfaat. Nulis itu capek lho. 😁. Wassalam.. (Mottaqin AZO)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Mengapa Daesh Tidak Pernah Menyerang Israel

Mengapa Daesh Tidak Pernah Menyerang Israel?

Mengapa Daesh Tidak Pernah Menyerang Israel? Pertanyaan yang sebenarnya sedikit ‘keliru’. Lebih tepatnya, mengapa mereka …