Home / Denny Siregar / Ribut-Ribut Sekolah Favorit
sekolah favorit

Ribut-Ribut Sekolah Favorit

Temanku ribut terus beberapa hari ini..

Ini karena anaknya yang baru lulus sekolah, harus rela tidak bisa masuk sekolah favorit yang terletak ditengah kota. Sedangkan dia tinggal di pinggiran, dimana sekolah negerinya “tidak terkenal”.

“Sistem zonasi ini tidak adil !” Begitu dia bicara. “Masak yang pintar harus masuk sekolah tidak terkenal..” Dan dia terus merepet dengan kencangnya seperti oplet yang dikejar sesama karena takut tidak kebagian penumpang didepan.

Ah, saya jadi berpikir ulang tentang konsep “adil” karena itu jadi bersifat subjektif, tergantung sudut pandang siapa yang berkata dan yang punya kepentingan. Tidak adil menurutnya, mungkin malah adil menurut orang lain.

Ya, buat orang tua dan siswa yang merasa tidak pintar, tentu senang dikumpulkan dengan anak-anak pintar. Mereka bisa termotivasi dan berbagi ilmu. Sistem zonasi ini menjadikan sekolah tidak lagi favorit dan eksklusif, dimana yang pintar hanya kumpul dengan yang pintar dan yang kaya hanya ketemu dengan sesama kaya.

Sekolah favorit bagi sebagian orang tua dan siswa adalah sebuah identitas, kebanggaan yang bisa dipamerkan. Apalagi kalau ketemu saudara atau rekanan dan ditanya, “Si A sekolah dimana ? Anakku keterima di sekolah X..” Dengan hidung kembang kempis orang tuanya menjawab, “Di Sekolah Y, itu sekolahnya anak-anak pejabat..”

Identitas mewah ini menjadi rebutan, sehingga tidak jarang terjadi “jual beli bangku” yang mensejahterakan kepala sekolah, guru dan juga makelar. Kalau sudah begini, berapapun bisa keluar yang penting gengsi tercapai.

Tapi sistem zonasi ini membalikkan budaya yang sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Sekarang siapapun bisa bersekolah di sekolah favorit, tidak memandang “anak siapa”.

Jadi, mana yang adil dan mana yang tidak adil ?

Ada niatan pemerintah untuk membangun “keadilan sosial” dalam sistem pendidikan. Itupun tetap dengan beberapa syarat, seperti tidak semua bisa masuk sekolah itu hanya karena “rumahnya dekat” saja. Ada nilai ujian yang juga berpengaruh disana, ada jalur prestasinya juga. Tapi prioritas tetap pada zonasi yang terdekat.

Apa sistem zonasi itu sempurna ?

Tentu tidaklah. Masih banyak celah kalau mau sedikit “curang”. Misalnya, si anak dipindahkan ke lokasi sekolah favorit terdekat biar masuk zonasi. Masalah lain, ada sekolah terletak di pemukiman sepi dan ada yang padat. Masih banyak kekurangan.

Tetapi kekurangan tentu bisa diperbaiki, yang penting konsepnya dulu diterima. Seperti kata pepatah, “Menjadikan kampret pintar, tidak bisa dalam waktu semalam”. Yang penting ada niatan bagus dengan beberapa catatan.

Paling penting sebenarnya adalah mental, baik mental orangtua maupun siswa. Mengubah budaya berfikir bahwa ada sekolah yang favorit dan yang tidak itu gak mudah. Bahwa sekolah itu bukan akhir segalanya.

Saya punya teman yang dari SD sampe SMA di sekolah favorit, gedenya juga gak jadi apa-apa. Malah seorang teman yang sekolahnya sama sekali tidak terkenal, malah jadi orang terkenal dan berguna. Takdir itu yang menentukan orangnya, bukan karena sekolah dimana.

So, hadapilah kenyataan bahwa negeri ini sudah berubah. Seorang Jokowi yang bukan dari turunan ningrat, apalagi militer dan dulu kecilnya susah, sekarang jadi Presiden. Lha, kalau Tuhan mau gitu, si manusia ini mau apa ?

Tapi perubahan itu pasti berproses. Kelak 5 tahun lagi tidak ada yang sibuk dengan label sekolah favorit, karena sudah terbiasa. Semua itu hanya masalah waktu saja.

Yang paling penting bukan itu sebenarnya. Saya kalau masukkan anak sekolah selalu sibuk melihat siapa “guru agamanya”. Kalau sekolahnya sudah mewajibkan jilbab utk siswi meski itu sekolah negeri, saya paling depan protesnya. Anak itu tugasnya belajar, bukan sibuk dengan simbol-simbol eksklusifitas dan malah terkurung dengan pemahaman sempit tentang agama.

Oke ya, temanku. Biar jangan cerewet lagi kapan-kapan gua ditraktir kopi.

“Kan gua selalu traktir elu, kapan giliran gua ditraktirnya ?”

Loh kan adil. Yang gajinya lebih besar harus selalu traktir yang pas-pasan. Hihi..

Seruput dulu ahhh..

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

kota misteri

Jakarta Kota Misteri

Sejak ditinggalkan Ahok, Jakarta mendadak menjadi kota misteri.. Misteri berawal dari Balaikota yang dulunya sangat …