Home / Politik / Saat Jokowi Maju sebagai Walikota Solo Periode 2
Saat Jokowi Maju Sebagai Walikota Solo Periode 2

Saat Jokowi Maju sebagai Walikota Solo Periode 2

Saat Jokowi Maju sebagai Walikota Solo Periode 2. Para pengamat politik nasional dulu pasti pernah bertanya-tanya kenapa Jokowi di periode ke-2 pemilihan walikota sampai bisa menang super telak di atas 90%. Sebab, menurut teori politik modern manapun, sekuat-kuatnya pengaruh sebuah partai politik di suatu daerah, bahkan mau pakai cara vulgar menyebar uang dari atas helikopter, tingkat keterpilihannya tidak akan setinggi itu. Memang pasti akan menang, tapi untuk sampai mendapatkan angka 90%, masih tetap saja kurang.

Kenapa bisa demikian? Sebagai warga kelahiran asli Kota Solo, saya ingin memberikan sebuah jawaban, yang mungkin sudah banyak orang sadari. Betul. Yang “dijual” Jokowi saat maju periode kedua adalah namanya sendiri. Tidak semata-mata mengandalkan nama besar PDI-P lagi. Tapi, izinkan diri saya bercerita tentang sesuatu, izinkan saya bercerita tentang apa saja yang terjadi selama lima tahun pertama tersebut.

Agar lebih bisa mengerti alam pemikiran kami, kenyataan perasaan warga Solo pada umumnya, saya ingin cerita dulu tentang beban sejarah di pundak kami. Yang telah lama menghantui. Yang tidak kasat mata. Namun terasa ada. Secara singkat, dahulu di Nusantara ini berdiam banyak kerajaan-kerajaan, dan adanya yang namanya Kerajaan Mataram Islam. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya konflik yang terjadi, kerajaan Mataram Islam pecah jadi empat, ada dua anak kerajaan terletak di Jogja dan ada dua anak kerajaan terletak di Solo. Mau tidak mau, warga Solo sering menjadikan warga Jogja sebagai cermin, karena memang “saudara kandung” dari ibu yang bernama Kerajaan Mataram Islam.

Tapi sayangnya kami dengan Jogja adalah saudara kembar yang tidak seperti buah pinang yang dibelah menjadi dua. Ketika kami bercermin pada Jogja, kami merasa tertinggal segalanya. Orang Jogja sangat bangga dengan Sri Sultan Hamengku Buwono ke-9. Orang Jogja sangat bangga dengan Malioboro. Orang Jogja sangat bangga dengan Pantai Selatannya. Bangga akan banyak hal lainnya.

Jogja terus melaju, semakin modern sambil tetap berbudaya, sedangkan Solo seolah diam di tempat. Lalu Jokowi datang dan mengembalikan kebanggaan dan kegembiraan kami semua.

***

Puluhan tahun Jogja punya Malioboro, Bandung punya Dago, dan tentu saja Jakarta punya Monas, tapi puluhan tahun Solo tidak punya apa-apa. Kami, orang Solo, tidak punya apa-apa, sesuatu yang ikonik, lalu Jokowi membuat gebrakan. Bikin Galabo di tahun 2008, lalu bikin Ngarsopuro di tahun 2009. Malah dua. Jokowi memang edan tenan. Sebagai penulis profesional, sebagai pekerja kreatif, saya jadi tahu betapa mahalnya ide. Memikirkan ide gebrakan yang berbiaya murah tapi menghasilkan banyak uang sambil menaikkan citra Kota Solo itu sulit lho. Galabo untuk makanan, sedangkan Ngarsopuro untuk dagangan.

Akhirnya orang Solo mulai punya rasa percaya diri lagi. Setiap ada orang luar kota main ke Solo, kini ada destinasi wisata yang tidak biasa lagi, yakni Galabo dan Ngarsopuro. Kalau zaman dulu, pra Walikota Jokowi, umumnya orang Solo itu suka bingung bila didatangi tamu dari luar kota. Masa’ orang Jakarta main ke Kota Solo dibawanya ke Solo Grand Mall? Biar tidak malu, para tamu luar kota biasanya dibawa ke Boyolali, ke Klaten, atau ke Karanganyar, misalnya. Saya tidak peduli mau dibantah politisi manapun. Yang penting kan kehidupan riilnya. Yang penting kan manfaatnya sudah kami rasakan.

Sejak Jokowi memimpin Kota Solo, kami mulai memiliki banyak kebanggaan, karena Jokowi memang mencetak banyak prestasi yang membanggakan. Kami tidak minder lagi pada orang lain. Kami tidak minder lagi pada orang orang Jogja, orang Bandung, bahkan orang Jakarta sekalipun. Saya lihat sendiri, saya alami sendiri, mulai dari tukang becak di pinggir jalan sampai karyawan kantoran mulai bangga pada kotanya sendiri.

Tiap tahun beliau membuat kami tersenyum. Tiap tahun beliau membuat gebrakan. Kota Solo tidak hanya berbenah secara infrastruktur, tapi juga berbenah secara sistem. Selain gebrakan sistem online dan bersih-bersih di dinas pendidikan Kotamadya Surakarta yang kemarin saya bahas di tulisan minggu lalu, gebrakan lainnya adalah soal pelayanan KTP. Dulu waktu KTP masih kertas lho ya. Di zaman pra Jokowi, untuk proses pelayanan KTP saja bisa makan dua minggu, tapi setelah Jokowi menjabat, untuk proses pelayanan KTP cuma butuh satu jam. Cerita soal ini cukup populer di kalangan kami.

Konon Jokowi pernah rapat dengan puluhan lurah. Ketika Jokowi menginginkan proses pelayanan KTP hanya satu jam saja, ada beberapa lurah yang menginterupsi dengan alasan tidak mungkin, besoknya beberapa lurah itu dicopot Jokowi. Lalu ketika Jokowi rapat lagi dengan lima camat, ada satu kepala kecamatan yang minta Jokowi lebih rasional, yakni bukan 1 jam tapi 3 hari, besoknya camat itu langsung dicopot. Jokowi orangnya memang terlihat lucu dan kurang pintar, tapi sebenarnya Jokowi galak untuk urusan rakyat dan sudah tahu kalau puluhan tahun proses pelayanan KTP itu bisa lama karena “masalah kue” saja.

Jokowi percaya pegawai negeri Kota Solo itu pintar-pintar kok. Jadi optimis pasti bisa. Sistem macet karena sengaja ada yang memacetkannya. Ketika yang niat bikin macet-macet itu dicopot, sistem itu langsung bisa berjalan lancar. Seperti prediksinya, ketika birokrasi diperbaiki, sistem yang tampak mustahil menjadi sistem yang bisa dilakukan. Tak lupa Jokowi memberikan ancaman ke para petugas di bawah, retribusi pelayanan KTP harus sesuai perda, yakni Rp. 5.000,00 saja. Ingat, mau lurah, mau camat, terbukti bisa dicopot, apalagi petugas biasa.

Jokowi memberikan kami kebanggaan dan kegembiraan. Itulah sebabnya kami dulu gemar membahas “Kota Solo” di obrolan-obrolan ringan. Nyaris setiap hari. Ngobrolin dengan rasa bangga dan gembira. Sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Kami mendadak jadi peduli pada situasi kota, kami mendadak jadi antusias mengikuti perkembangan kota, karena kami tahu sosok yang bernama Joko Widodo serius bekerja menata kota.

Dan sebagai pribadi, kami juga tahu Jokowi juga luar biasa. Baru pertama kalinya bagi kami dapat walikota yang tidak mau ambil slip gaji. Baru pertama kali bagi kami dapat walikota yang mau-maunya pakai mobil dinas bekas pejabat sebelumnya. Jokowi itu wong edan di jaman edan. Mayoritas orang itu kalau naik ke tampuk kekuasaan, mau Walikota, mau Bupati, mau anggota DPR, rata-rata hal yang diminta pertama kali adalah mobil dinas yang baru. Rata-rata berjuang di rapat anggaran untuk bisa mendapatkan mobil lebih mewah dari pejabat sebelumnya demi kepuasan ego.

Solo memang tidak mendadak semaju Jakarta. Solo memang tidak lantas semakmur Bandung. Tapi kami warga Solo realistis saja. Bergerak maju sudah membuat kami warga Solo sangat puas. Angka keterpilihan 90% untuk pasangan Jokowi – Rudy adalah angka yang fantastis tapi memang sangat layak. Setelah puluhan tahun kami seperti kota mati, lalu kota menjadi bergerak maju, menjadi kota yang hidup, itu sudah prestasi besar bagi kami. Jokowi tetaplah manusia biasa. Tidak lantas setelah Jokowi jadi walikota, Kota Solo langsung di lima tahun pertama sudah mampu menyaingi Kota Jakarta, lalu di periode kedua Solo langsung bisa mengalahkan kemajuan Kota New York.

Kami, warga Solo, sudah sangat-sangat-sangat berterima kasih pada Jokowi, karena telah mau menghidupkan lagi Kotamadya Surakarta. Telah membuat kami bisa bangga lagi jadi penduduk. Telah membuat kami bisa gembira lagi hidup di Kota Solo. Presentase keterpilihan 90% memang adalah angka yang fantastis untuk ukuran demokrasi langsung, tapi angka tersebut jadi wajar adanya bila ada faktor cinta. (Febriando D)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa. Hal yang sulit dipahami adalah tidak pernah kubu oposisi memberikan …