Home / Denny Siregar / Sekolah Negeri Bersyariah
Sekolah Negeri Bersyariah

Sekolah Negeri Bersyariah

“Ini sekolah negeri apaan ? Masak siswi wajib berjilbab ??”

Begitu protes seorang teman beberapa tahun lalu saat memasukkan anaknya sekolah. Anaknya diterima disekolah negeri. Dan ia mendapat surat bahwa siswi disekolah itu wajib berjilbab bagi yang muslim.

“Saya masukkan anak saya ke sekolah negeri, bukan pesantren..” begitu ceritanya kepadaku. Dan ia tidak main-main. Ia datang ke sekolah anaknya dan “mengancam” akan mengadukan kasus kewajiban itu ke Dinas Pendidikan bahkan akan memviralkannya melalui media.

Dan “ancamannya” berhasil. Pihak sekolah ketakutan. Akhirnya keputusan wajib berjilbab bagi siswi dibatalkan. Temanku termasuk orang yang berani bersuara, tetapi bayangkan berapa banyak orang tua siswa yang seperti temanku itu ? Sedikit sekali.

Kebanyakan orang tua siswa akhirnya harus mematuhi peraturan sekolah yang tidak masuk akal itu. Alasan terbesar mereka takut anaknya nanti dapat nilai jelek dari sekolah. Ketakutan memang dari sanksi akademis karena itu seperti “kewajiban” yang tidak bisa ditawar sebab peraturan sekolah. Selebihnya adalah sanksi sosial, karena kalau tidak berjilbab jadi minoritas.

Padahal tidak ada aturan yang mewajibkan siswi harus berjilbab di sekolah negeri. Adanya permendikbud tahun 2014 yang mengatur tatacara pakaian khas muslimah yang ingin memakai jilbab. Bukan semua siswi wajib berjilbab.

Entah apa yang mendasari kepala sekolah dan guru di sekolah negeri yang tiba-tiba punya gagasan menjadikan “sekolah negeri bersyariah”.

Seakan-akan dengan kekuasaan mereka, mereka berhak mengatur “siapa yang muslim dan bukan” pada siswa dan siswinya. Dan konsep itu mereka paksakan lewat pakaian, bukan lewat pengajaran tentang budi pekerti, ahlak dan toleransi dalam beragama.

Masalahnya, orang tua juga banyak diam ketika ada peraturan janggal seperti itu. Diamnya orang tua membuat sekolah lebih leluasa menancapkan pengaruh mereka ke siswanya. Padahal sekarang kita punya senjata ampuh yaitu media sosial untuk melawan gerakan pemaksaan “wajib berpakaian muslim” di sekolah-sekolah negeri.

Dan untungnya ada juga orang tua yang berani memviralkan sekolah yang memaksa murid berjilbab di sekolah negeri.

Di SDN Karangtengah III, Wonosari, Gunungkidul, Yogya, muncul surat yang mewajibkan seluruh siswa berbusana muslim. Semua, tanpa kecuali. Dalam artian, yang beragama non muslim pun wajib menggunakan pakaian muslim.

Surat edaran dari kepala sekolah ini memicu perdebatan dan akhirnya Kepala Disdikpora Gunug Kidul mengatakan bahwa “surat itu sudah direvisi..”

Bayangkan kalau tidak ada orangtua yang berani memviralkan surat itu, maka situasi itu akan menjadi pembenaran yang terus meluas keberadaannya.

Dan satu saat, jika kita tidak bersuara keras sekarang, maka bisa saja ada kewajiban dari Dinas Pendidikan yang sudah dikuasai kelompok fundamentalis supaya “wajib” menggunakan pakaian muslim di seluruh sekolah negeri tanpa terkecuali.

Mau begitu ? Jika tidak, segera bersuaralah. Awasi sekolah dimana anak kita belajar.

Lawan semua pemaksaan aksesori agama di sekolah pemerintah. Sekolah negeri milik negara, dibiayai negara, dari uang pajak semua umat beragama. Kita sebagai orang tua punya hak menentukan siapa anak kita. Bukan mereka.

Jangan sampai 5 tahun lagi muncul peraturan di sekolah negeri, bahwa “Semua siswa wajib bercelana cingkrang, kalau tidak orangtuanya masuk neraka..”

Dan anak lelaki kita pun terpaksa harus bercingkrang ria karena kalau tidak cingkrang, “kamu kafir..” kata guru dan teman-temannya.

Seruput kopi dulu ahhh..

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

kota misteri

Jakarta Kota Misteri

Sejak ditinggalkan Ahok, Jakarta mendadak menjadi kota misteri.. Misteri berawal dari Balaikota yang dulunya sangat …