Home / Denny Siregar / Sepotong Cerita Dalam Perjalanan
Sepotong Cerita Dalam Perjalanan

Sepotong Cerita Dalam Perjalanan

Seorang teman sedang sakit keras..

Aku menjenguknya. Dan kulihat tubuhnya kurus dengan wajah yang tampak jauh lebih tua.

Dia bercerita banyak. Tentang bisnisnya yang jatuh. Tentang hutang-hutangnya. Dan tentang kekhawatirannya akan masa depan dirinya dan keluarganya.

Temanku dulu kaya. Dia sebenarnya punya bisnis yang mapan, hanya semakin sukses dia, semakin bernafsu pula ia ingin mengembangkan. Ia mulai berhutang. Hutangnya jauh lebih besar dari kebutuhan. Akhirnya gaya hidupnya yang lebih terdepan. Hingga saat jatuh tempo ia gelagapan.

Akhirnya ia berhutang lagi untuk menutupi hutangnya. Bunganya sangat besar. Ia berfikir, “Nanti ada proyek miliaran, semua akan kubayar..”. Tetapi apa yang diimpikan semua gagal. Akhirnya ia terjerat dengan konsep gali lubang tutup lubang. Terus, sampai tidak terasa bahwa kewajibannya jauh lebih besar dari pendapatan.

Akhirnya tubuhnya menyerah. Tidak kuat menanggung beban.

Aku selalu ingat nasihat ayahku. “Nak, yang terpenting dalam hidup ini adalah kemerdekaan. Jauhkan urusan-urusan materi sebagai ukuran. Karena semakin besar ukuranmu, maka semakin panjang pula anganmu. Dan ingatlah, angan-angan panjang adalah setengah dari ketuaan..”

Aku tidak paham makna perkataannya dulu. Tetapi semakin jauh aku berjalan, aku mulai mendapatkan pesan. Bahwa sesungguhnya perjalanan hidup kita banyak dibentuk dari keputusan yang berdasarkan nafsu. Kita terjebak dalam mimpi panjang dan sulit keluar.

Kenapa ? Karena kita selalu ingin diukur dan mengukur. Kita berebut rasa hormat dan pujian. Dan itu semua terwujud dalam bentuk kekayaan.

Tapi tidak pernah kita memakai ukuran Tuhan. Padahal Tuhan sendiri sudah berpesan, “Ukuran manusia bagiKu adalah amal..” Dan banyaknya amal bagi kita bukan kesuksesan, karena tidak ada yang bisa ditunjukkan kepada orang sekitar.

Sulit berbicara begini pada temanku untuk melepaskan semua beban yang dia sandang. Ranselnya penuh dengan rasa kebanggaan bahwa ia masih mampu menyelesaikan semua masalah cukup dengan sekali ketukan. Dan lagi lagi, ia berbicara tentang proyek miliaran yang memenuhi angan.

Kutinggalkan dia dengan banyak pelajaran. Aku mungkin bukan orang kaya, tetapi aku orang merdeka. Kusederhanakan keinginan dan berjalan dengan stabil dan ringan. Aku sudah muak dengan ukuran yang dibuat oleh manusia tentang kesuksesan.

Bagiku, kemampuan mensyukuri segala sesuatu itu adalah kesuksesan besar. Dan aku hidup dengan rasa tenang tanpa harus dikejar dengan tujuan-tujuan untuk diukur dan mengukur orang.

Seperti secangkir kopi. Ia bahkan tidak penting berada dimana ia ditempatkan. Baginya yang penting, ia selalu bisa memberikan kenikmatan.

“Kekayaan terbesar manusia sejatinya adalah rasa cukup..” Imam Ali as.

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

kota misteri

Jakarta Kota Misteri

Sejak ditinggalkan Ahok, Jakarta mendadak menjadi kota misteri.. Misteri berawal dari Balaikota yang dulunya sangat …