Home / Sosial / Syahrini Adalah Kita Semua di Indonesia
Syahrini Adalah Kita

Syahrini Adalah Kita Semua di Indonesia

SYAHRINI ADALAH KITA. Ya, betul, kita: Anda dan saya. (Sebuah otokritik). Beberapa waktu lalu, gaya Syharini yang selfie di atas monumen yang oleh sebagian orang dianggap sakral menuai polemik. Ia dinilai telah bertindak diluar batas kesopanan, di negeri orang.

Saya juga kesal. Tapi lalu tersenyum sendiri. Bukankah gambaran Syahrini adalah gambaran kita juga? Ya, betul: Anda dan saya!

Berapa banyak diantara kita yang memiliki mobil bagus tapi masih menanyakan bensin premium saat masuk pompa bensin?

Atau, Tas, baju dan sepatu terpaksa memakai yang KW karena tak mampu membeli merk yang asli? Maunya terlihat kaya dan tak peduli meski di rumah masih memakai tabung gas 3 kilo, tabung yang seharusnya diperuntukkan bagi kaum tak mampu?

Kita juga yang di era Bantuan Langsung Tunai dibagikan, beramai-ramai merayu pak RT agar namanya masuk daftar sebagai ‘orang miskin’ yang layak dibantu??

Itu wajah kita bukan? Ya, betul, Anda dan saya. Yang saat mengendarai mobil dengan seenaknya menyalakan sirine atau rotator meski Anda sama sekali bukan petugas?

Yang membuang beraneka sampah keluar mobil tanpa rasa bersalah, dan membuang struk tol di pintu gerbang, seolah mobilnya bakal tercemar bila sampah seupil itu terbawa pulang?

Anda, yang memakai motor tapi tetap melawan arus, masuk jalur busway atau berjajar di luar garis batas saat berada di lampu merah?

Itu kita bukan? Ya, betul Anda dan saya.

Yang menggerutu subsidi semakin langka, hidup seolah-olah semakin sulit, tanpa melakukan perubahan apa-apa pada diri sendiri. Itu wajah kita bukan?

Sebentar, saya kok mendengar suara gaduh di ujung jalan. Suara seorang nenek: “apa-apaan ini? Berani-beraninya kamu?? Mobil saya mau kamu derek??” Ia marah bukan main, hingga jadi tontonan warga. “Kamu tau siapa saya??? Ha??”

Sungguh, bila ini hanya adegan film arahan sutradara Erwin Arnada, sahabat baik saya, ingin rasanya saya mendramatisir adegan ini dengan dialog:

“kowe, inlander! Verdomme! Tau apa kamu?? Sudah badanmu cungkring, kurang gizi, Governoor generaal itu mijn beste vriend tau?? Ikk telefoon sekarang juga, tau rasa kamu!”

Itu wajah kita bukan?? Ya, betul: Anda dan saya. Yang kalau jelas bersalah lalu mencari-cari koneksi “ke atas” agar terbebas dari hukuman?

Dan, sungguh, nenek ini telah sukses membuat lembaga pemerintah dan petugas negara yang seharusnya dihormati dan disegani, turun berok menjadi tumpukan sampah tak berguna: useless.

Pajak yang kita bayarkan pun sukses buat menggaji pejabat yang tidak saja impoten tetapi juga peltu: nempel metu (keluar). Garang di depan lalu ejakulasi dini, terus lemaaaas!
Ampyuuun di-jeee….. (Wibisono G)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …