Home / Sosial / Tentang Meja Sembahyangan Itu
Meja Sembahyangan

Tentang Meja Sembahyangan Itu

Ini sebuah cerita tentang bagaimana sebuah hati saling bertaut. Tidak harus antar manusia, tapi manusia dengan benda mati. Tentang barang2 lama, yang oleh si pemilik aslinya sudah dianggap usang, terbuang, dan tidak penting lagi, hingga berakhir di tempat rongsokan. Bahkan di antaranya adalah barang2 yang pada mulanya dianggap bernilai spiritual tinggi, digunakan untuk berdoa, dalam konteks tertentu digunakan untuk mengenang leluhur mereka. Sebuah meja sembahyangan, yang dulu bagi komunitas Tionghoa adalah salah satu furniture terpenting (dan juga pasti terbaik) yang harus ada di rumah mereka.

Saya ingin bercerita, mulai dari bagaimana saya bisa memilikinya. Suatu proses yang rumit, butuh waktu panjang, tapi berakhir dengan tidak terduga. Saya pertama kali melihat barang ini, sekira tahun 2006 beberapa saat setelah Jogja mengalami gempa, di sebuah bakul antik di dekat rumah saya di Kotagede.

Saat kawasan tua ini porak poranda dilanda gempa, hingga nyaris banyak rumah tua dengan joglo2 antiknya tumbang, bahkan hancur karena saling menimbun. Kenapa demikian, karena rumah2 mereka sudah berpadu dengan tembok2 bata double (pasangan bata utuh), namun tanpa kerangka besi. Sehingga ketika rubuh, betul2 lebur, mumur, hancur!

Ketika saya pertama kali melihatnya, si Bakul punya barang dagangan tiga meja sembahyangan. Harganya pun menurut saya sangat mahal (tentu untuk ukuran saya). Saya tanya yang terbaik, dia sebut di angka belasan juta. Saya jawab: oh ora ketuk aku (gak nyampe saya).

Beberapa tahun kemudian, saya dolan lagi, dan tersisa satu yang saya taksir itu. Dia tawarkan kepada saya dengan harga nyaris setengahnya dari harga tawaran semua. Saya masih tetap nyengir kemahalan. Demikian terus peristiwa itu terjadi hingga tahun ke tujuh, tahun 2013. Si bakul bilang: “Wis mas, bayaren sak karepmu, barang kuwi pengen melu kowe. Aku wis selak sepet pitung tahun ra payu2.”

Saya baru sadar selama tujuh tahun itu, nyaris setiap tahun saya kunjungi, saya hanya melihat dan tak pernah menawar meja sembahyangan itu sekalipun. Lalu saya ke ATM, menguras uang tabungan saya yang tak pernah seberapa itu. Saya berikan, dan sialan tanpa dilihat jumlahnya langsung diterima oleh si bakul sahabat saya itu. “Kurang pora?”, tanya saya. Dijawab, “Wis pokoke gek ndang diangkut! Ndak selak owah pikiranku”. Gih segera dibawa, daripada saya berubah pikiran.

Saya merasa sangat kejam, karena saya nyaris membayar 1/6 dari harga yang ditawarkan semula. Seperenam! Dan berpindahlah meja setinggi 2,5 meter itu ke Gallery Buku saya. Menjadi ikon terpenting, furniture terbaik yang saya miliki. Saya percaya, yang dikatakan sahabat saya itu betul: Ia telah memilih saya untuk saya miliki!

Padahal keinginan saya memiliki juga dengan dasar yang sederhana. Saya punya beberapa pernik khas masyarakat Tionghoa, dan saya ingin meletakkannya di situ. Saya pernah membeli tiga patung Dewa Keberuntungan, saat saya dolan ke Bangkok. Dulu ketiga patung dewa ini dapat ditemukan hampir di setiap rumah Cina dan banyak toko-toko milik masyarakat Cina di altar kecil dengan segelas air, sebuah persembahan seperti jeruk , terutama selama Tahun Baru Cina.

Secara tradisional ,susunan mereka adalah dari kanan ke kiri, sehingga Fu ada di sebelah kanan (lambang keberuntungan), Lu di tengah (lambang kemakmuran), dan Shou di paling kiri (simbol keabadian). Dan kemudian saat saya nglencer ke Singapura, membeli replika patung Pixiu atau Pi Yao yang awalnya dikenal sebagai Bi Xie yang berguna “untuk mengusir roh-roh jahat”.

Ia dianggap sebuah mitos makhluk legendaris China sebagai pelindung yang sangat kuat para praktisi Feng Shui. Bentuknya .menyerupai singa bersayap, yang dianggap masyarakat Cina sebagai makhluk keberuntungan yang memiliki kekuatan mistis yang mampu menggambar Cai Qi dari segala arah. Barulah kemudian, saat satu persatu sahabat saya berkunjung, bercerita bahwa meja ini memiliki penunggu, seorang yang konon yang sangat ramah, tapi suka membaca. Suka menyapa siapa saja, yang mengunjungi perpustakaan saya.

Hingga sahabat saya menuliskannya, tapi sekaligus mengkritik saya. Betapa saya “sangat mengabaikannya”, membuatnya hanya sebagai pajangan mati. Hingga menjelang Imlek ini saya sadar, lalu pergi ke Pajeksan membeli sesuatu yang membuatnya sedikit lebih hidup: sepasang lampion, dua lilin merah, dan sebungkus hio. Hingga seorang sahabat saya kemarin berkunjung, lalu mengejek saya “Kowe saiki nggawe klentheng nang omahmu to!”.

Tak apa, sebagai orang yang mintip2 agnostik, saya sadar rumah saya terlalu sarat dengan simbol2 banyak agama, seperti meja sembahyangan itu: dari mulai Budha, Durga, Ganesha, Yesus Kristus, bahkan Marlim dan Samin. Saya senang akhirnya bisa menuliskannya, walau (amat, sangat) terlambat Selamat Imlek. (Mangoenprasodjo AS)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Tirani Konsumerisme

Kebebasan Radikal vs Tirani-Tirani Bagian 2

Spiritualitas Kebebasan Radikal vs Tirani-tirani (2). Tirani Konsumerisme. Selamat malam semua, sesuai dengan janji saya …