Home / Internasional / Tragedi Paris Hingga Surabaya: Bicara Teroris
Tragedi Paris Hingga Surabaya Teroris ISIS

Tragedi Paris Hingga Surabaya: Bicara Teroris

TRAGEDI PARIS HINGGA SURABAYA. Jangan pernah lupakan apa yang terjadi pada 14 November 2015 di Paris. Insiden terorisme di sebuah Hall konser, 132 orang tewas dan puluhan warga disandera. Siapa pelakunya? Tidak lain adalah para alumni ‘jihad’ Suriah asal Perancis yang sebelumnya bergabung dengan teroris ISIS dan dideportasi Suriah.

Para teroris ini awalnya disponsori sendiri oleh Rezim Perancis Francois Hollande, USA dan rezim-rezim Teluk dengan menyediakan kamp-kamp pelatihan untuk mereka di Jordania, Turki, Qatar dll lalu melepasnya di Suriah guna menggulingkan Assad.

Pada 28 November 2014, setahun sebelum tragedi ini Presiden Suriah Bashar al Assad sudah pernah memperingatkan Perancis:

“Persentase terbesar dari para teroris Eropa yang datang ke negeri kami berasal dari Perancis. Dan kalian punya beberapa insiden terorisme di Perancis. Terorisme di Eropa tidak lagi tertidur, mereka telah dibangkitkan (oleh pemerintahnya sendiri).”

Kalau NKRI ingin belajar menanggulangi terorisme, belajarlah dari Presiden Suriah saat ia memperingatkan negara-negara yang lalai menindak para radikalis di negaranya sendiri dan membiarkan (bahkan mensponsori) mereka untuk berangkat mengacau ke Suriah:

“Terorisme bukanlah sebuah kartu yang bisa anda mainkan dan anda masukan kembali ke dalam kantong. Seperti kalajengking, ia akan menyengat setiap saat.”

Mungkin Ketua Pansus RUU Terorisme Muhammad Syafi’i asal Gerindra yang sudah 2 tahun menahan RUU ini perlu belajar dari tragedi Paris, dimana negara hanya bisa menyaksikan ratusan warganya dibantai para alumni jihad Suriah. Di Indonesia, ada ratusan alumni ‘jihad’ Suriah (nama-nama mereka sudah dikantongi BNPT) yang tak bisa ditindak sama sekali karena Polri tak punya payung hukum. Selama ini Polri hanya berpegang pada UU No 15 Tahun 2003 yang sangat lemah, hanya bisa menindak teroris bila sudah terjadi teror dan memakan korban jiwa, sementara RUU Anti Terorisme terus ditahan padahal RUU ini memuat dasar hukum yang bisa mempidanakan para WNI yang ikut gerakan terorisme di luar negeri.

Tapi sepertinya si pemalas ini santai saja melihat puluhan nyawa WNI tak berdosa terus berjatuhan, sementara 500 alumni ISIS yang pulang ke Indonesia membawa paham gila lengkap dengan ilmu dan pengalaman teror di Suriah terlindungi berkat lambannya pengesahan RUU ini sehingga memberi nafas pada para teroris untuk terus berpikir cara melampiaskan ghirah jihad mereka dengan terus menumpahkan darah-darah yang mereka kafirkan.

Ingat kata Presiden Suriah yang sudah 7 tahun memerangi Mega-Terorisme di negaranya:

“Para teroris hanya memiliki satu pesan. Yang mana dari ideologi gelap yang mereka bawa, bagi mereka siapapun yang tidak berpikir seperti mereka tidak layak untuk hidup.”

Saya hanya berharap semoga tragedi Paris tak menimpamu atau keluargamu pak! (Mottaqin AZO)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Solusi Palestina

Opsi Solusi Palestina atas Konflik dengan Israel

Solusi Palestina. Secara umum, ada dua jenis opsi yang ditawarkan para pemikir dan pengkaji Timteng …