Home / Muhammad Zazuli / Tuhan Antropomorfik dan Tuhan Non Antropomorfik
Tuhan Antropomorfik

Tuhan Antropomorfik dan Tuhan Non Antropomorfik

Selama puluhan ribu tahun ada banyak konsep yang berkembang mengenai Tuhan. Tapi tulisan saya ini hanya akan menyoroti konsep Tuhan yang bersifat antropomorfik dan yang bersifat non-antropomorfik. Antropomorfisme adalah pandangan atau konsep mengenai Tuhan yang memiliki sifat, perilaku dan tindakan yang mirip dengan manusia. Secara etimologi Antropomorfisme adalah atribusi karakteristik manusia ke makhluk bukan manusia.

Istilah antropomorfisme berasal dari bahasa Yunani anthrōpos yang berarti manusia dan morphē yang berarti bentuk. Antropomorfisme diyakini telah ada sejak 40.000 tahun yang lalu dimana dewa-dewa Mesir Kuno digambarkan memiliki tabiat layaknya manusia. Disini saya akan mencoba menuliskan mengenai pandangan beberapa agama yang berhubungan dengan konsep antropomorfisme Tuhan ini.

Agama Abrahamic yang berasal dari Timur Tengah (Yahudi, Kristen, Islam) pada umumnya menganut konsep antrpomorfisme ini dimana Tuhan seringkali dikisahkan memiliki sifat dan perilaku seperti manusia misal konsep mengenai Tuhan yang berpihak, Tuhan yang bisa marah, cemburu, menghukum dan sebagainya.

Dalam Perjanjian Lama yang diyakini oleh umat Yahudi & Kristen amarah dan murka Tuhan bahkan ditunjukkan melalui petir, kilat, halilintar, bara api, angin, badai dan hujan batu. Agama asli bangsa Eropa seperti Hellenisme pada masyarakat Yunani-Romawi kuno, agama Nordic pada bangsa-bangsa Skandinavia dan lainnya juga menganut konsep mengenai Tuhan yang bersifat antropomorfik.

Namun pada titik tertentu ada pula agama yang menganut antropomorfisme ini juga mengajarkan konsep yang bersifat non antropomorfik. Misalnya pada ajaran Islam terutama aliran spiritualisme Islam atau tasawuf terdapat dalil mengenai Tuhan yang bersifat Mukhalafatulil Hawaditsi yang artinya Tuhan Maha Berbeda dengan makhluk.

Hal ini berarti semua penggambaran umum yang biasa dibahas mengenai Tuhan yang berpihak, bisa marah, bisa membenci, cemburu dan menghukum tadi sebenarnya tidaklah 100% bermakna harfiah seperti itu. Penggambaran tadi bisa jadi hanya merupakan cara agar lebih mudah dipahami oleh orang awam saja dan belum merupakan bentuk pengajaran yang tertinggi atau yang sesungguhnya.

Hal ini juga mirip dengan agama Hindu. Secara umum agama Hindu juga menganut konsep tentang Tuhan yang bersifat antropomorfik dimana Tuhan bisa marah, menghukum, cemburu, berperang bahkan jatuh cinta. Tradisi, dongeng dan mitos dalam berbagai kisah agama Hindu juga menggambarkan bahwa Tri Murti (Tiga Dewa Utama Hindu : Brahma, Wisnu, Syiwa) juga bersifat antropomorfik, begitu juga dengan dewa-dewa yang berada di bawah tingkatan Tri Murti.

Meski demikian di kalangan kaum spiritual Hindu terutama dari jalan dan tradisi mistik Yoga sebenarnya juga menganut konsep non Antropomorfik dimana Tuhan disebut sebagai Maha Acintya (Yang Maha Tak Terbayangkan) dan Shunya (Kosong namun menjadi sumber dari segalanya). Saat seorang sadhaka (penganut jalan rohani) berhasil mencapai Moksa maka sesungguhnya dia sendiripun sudah menjadi non antropomorfik alias bersatunya Atman (Roh Suci) dengan Brahman (Tuhan) yang bersifat un-antropomorfik.

Dualisme yang sama juga terdapat dalam ajaran Taoisme. Meski kitab suci Tao yaitu Tao Tee Ching mengajarkan konsep tentang Tuhan yang non antropomorfik ( “ Tao -Tuhan- yang bisa dimengerti bukanlah Tao yang sejati. Nama yang bisa diberikan bukanlah Nama-Nya yang sejati. Dialah Asal dari Langit dan Bumi, Induk dari seluruh alam semesta. “ ) Meski demikian dalam kenyataannya tradisi, mitos dan dongeng bangsa Cina berkisah mengenai Tuhan atau Dewa yang bersifat antropomorfik pula.

Agama tradisional bangsa China bahkan memuja Dewa Perang (Kwan Kong). Meski demikian corak asli Taoisme sesungguhnya adalah bersifat antropomorfik dimana Tao yang sejati sama sekali tidak memiliki sifat, perilaku dan tindakan yang mirip dengan manusia.

Berbeda dengan agama Buddha. Aliran Mahayana dan Vajrayana menganut konsep banyak dewa sedangkan aliran Theravada tidak banyak membahas mengenai dewa-dewa. Agama Buddha sebenarnya bahkan tidak membahas tentang Tuhan sebagaimana pengertian yang ada pada kalangan penganut agama-agama Abrahamic. Dalam agama Buddha yang diutamakan adalah mencapat Kesadaran Murni. Buddha sendiri memiliki arti kata sebagai “Sang Sadar” atau “Dia Yang Telah Tercerahkan”.

Dan apabila seseorang sudah mencapai tingkatan spiritual Buddha maka dengan sendirinya dia akan semakin menjadi non Antropomorfik dimana tidak ada lagi sifat, perilaku dan tindakannya yang akan sama dengan manusia pada umumnya lagi (tidak lagi berpihak, marah, membenci, cemburu, menghukum dsb) meski masih memiliki badan jasmani manusia.

Begitu juga dengan agama Jawa. Meski secara umum Kejawen tidak dianggap sebagai sebuah agama melainkan hanya sebagai aliran kepercayaan saja, namun secara pribadi saya menganggap Kejawen adalah sebuah agama lokal, agama pribumi atau agama asli Nusantara.

Walaupun dalam perkembangannya spiritualisme Jawa ini banyak dipengaruhi oleh unsur dan konsep dari agama Hindu, Buddha dan Islam namun bagaimanapun ada pandangan hidup dan konsep spiritual yang khas Jawa dan berbeda sama sekali dengan agama Hindu, Buddha dan Islam.

Dalam agama Jawa Tuhan juga tidak bersifat Antropomorfik. Tuhan dipahami sebagai Sumber Hidup (Sang Urip) yang juga tidak berpihak, tidak marah, tidak cemburu dan tidak menghukum. Bahkan dikatakan dalam sebuah kitab Jawa ”Bahwasanya semua sifat hidup itu berasal dari Tuhan, ialah Sang Sumber Hidup yang segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Sesungguhnya Hidup Sejati itu Tunggal, yang abadi keadaan-Nya, meliputi seluruh alam seisinya.”

Pada gilirannya, konsep agama yang bersifat antropomorfik biasanya akan cenderung mudah disalahgunakan oleh pengikutnya misalnya dalam kasus politisasi agama. Dengan konsep Tuhan yang antropomorfik ini maka orang akan bisa menggunakan dalih untuk membela kepentingannya ataupun untuk keuntungan kelompok maupun pribadi. Misalnya akan ada dalih mengenai “benci atas nama Tuhan”, “perang atas nama Tuhan”, “memusuhi atas nama Tuhan” dan sebagainya.

Sejarah penuh dengan berbagai kisah kelam dan tragedi dimana umat manusia saling menumpahkan darah sesamanya dengan alasan Antropomorfisme Tuhan ini. Dalam konteks ini orang akan bisa berkata “Engkau adalah musuh Tuhan, engkau telah membuat Tuhan murka dan Tuhan pasti akan menghukummu dan biarlah aku yang akan menjadi tangan dan wakil Tuhan untuk menghukummu.” Dan begitulah semua konflik agama itu terjadi selama ribuan tahun sepanjang sejarah umat manusia.

Perang agama biasanya terjadi pada agama yang sama-sama menganut antropomorfisme dimana kedua belah pihak sama-sama bersaing dan merasa sedang “memperjuangkan” Tuhan.

Sebagai penutup saya hanya akan memberikan sebuah pertanyaan sederhana namun sesungguhnya memiliki makna yang sangat tidak sederhana untuk dipikirkan yaitu : “ Jadi apakah Tuhan itu sebenarnya bersifat Antropomorfik ataukah Non Antropomorfik” ? Silakan direnungkan…..

Salam Waras
Salam Sadar
Salam Semesta
Salam Persaudaraan

Semoga seluruh makhluk berbahagia, Semoga setiap insan sadar akan Sifat Sejatinya.

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.