Home / Internasional / Negara Turki di Bawah Pemerintahan Erdogan
Turki di Bawah Erdogan

Negara Turki di Bawah Pemerintahan Erdogan

Turki di Bawah Pemerintahan Erdogan. Kalau Indonesia , pasar valas bereaksi positip terhadap kebijakan kenaikan suku bunga BI, dan rupiah terkoreksi menguat. Berbeda dengan Turki yang awal bulan ini setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ingin mengendalikan pengaturan suku bunga. Bank sentral Turki pada hari Rabu mengumumkan kenaikan suku bunga darurat menjadi 16,5% dari 13,5%. bandingkan suku bunga BI sebesar 4,25%. Nilai tukar lira Turki anjlok hingga 20% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun. Inflasi sudah berada di level dua digit atau 11% ( bandingkan dengan Indonesia sebesar 3,4% inflasi ) dan depresiasi mata uang mendorong kenaikan harga. Ini bukan lagi fluktuasi mata uang tetapi sudah masuk krisis mata uang. Turki seakan memutar jarum jam sebelum Erdogan berkuasa. Dimana lira akan jadi mata uang sampah karena hiperinflasi. Apa penyebabnya ?

Saya masih tingat tahun 2008 saya di ajak teman untuk melakukan investasi di Turki untuk membuka lahan perkebunan. Sebelum saya memasuki pembicaraan lebih serius, saya minta pendapat dari consultant for global strategy yang punya reputasi tinggi. Setelah saya membaca laporan itu,saya terhenyak. Betapa tidak. Hampir tidak percaya begitu buruknya masa depan ekonomi Turki. Atas dasar itu saya memutuskan mundur dari rencana investasi itu. Namun selang 2 tahun kemudian teman dari China menanamkan uangnya di Turki dengan menggandeng mitra local. Belakangan dia sendiri merasakan betapa keadaan tidak stabil. Semakin kokoh kekuatan Erdorgan, korupsi semakin sistematis. Sepertinya rezim Erdorgan sengaja membangun kekuatan dari system korup, yang pada waktu bersamaan menjadikan agama serta subsidi sebagai cara membujuk rakyat untuk terus melegitimasi kekuasaannya.

Pertumbuhan ekonomi selama ini terkesan fake growth karena di picu oleh utang dan banjirnya likuiditas akibat suku Bunga AS yang rendah. Rasio Debt2GDP Turki sudah mencapai 37%. Rasio DSR mendekati 70%. Rasio ini sudah mengindikasikan Turki di ambang insolvent. Nasip Turki akan menyusul anggota EU yang gagal bayar. November 2015 ketegangan Turki-Rusia memanas karena pesawat SU-24 milik Rusia ditembaki oleh militer Turki hingga terbakar dan jatuh di perbatasan Turki dan Suriah, Turki mengklaim bahwa Rusia telah dengan sadar memasuki wilayah mereka. Karena serangan tersebut 1 pilot Rusia bernama Oleg Peshkov tewas setelah melontarkan diri dan akhirnya ditembaki oleh militer Turki yang berada di Suriah.

Keadan ini semakin membuat Turki tergantung dengan Negara Eropa dan AS untuk melepaskannya dari krisis ekonomi. Namun AS tidak memberikan bantuan yang significant, bahkan Turki di keluarkan dari Negara yang tergantung dari kebijakan moneter AS. Amerika sudah tidak tertarik dengan gaya Erdogan yang terkesan dictator. Gulen yang dianggap musuh Erdogan kini ada di bawah perlindungan pemerintah AS. Erdorgan tetap membujuk AS. Caranya menjalin rekonsiliasi dengan Israel. Rekonsiliasi terjadi namun Israel tidak sepenuhnya ikut dengan syarat yang di tetapkan dan ini memancing sentiment negative dari koalisi Erdorgan. Erdorgan melancarkan permainan dua kaki sambil berharap Amerika atau Rusia terpengaruh atas maneuver politik regionalnya. Caranya ?

Erdorgan berusaha melirik ke Rusia dengan permintaan maaf secara pribadi ke pada Rusia atas insiden penembakan pesawat tempur Rusia di Syiriah. Namun di sikapi dingin oleh Rusia karena masih berharap permintaan secara resmi atas nama Turki dan Turki belum bersikap. Saya bertemu lagi dengan consultant strategy global yang dulu pernah memberikan saya nasehat. Menurutnya kalau ingin selamat , Erdogan harus menerima kenyataan agar keluar dari oligarki kekuasaan yang ada di AS. China yang koalisi dengan Rusia sudah lebih proaktif membantu Turki melalui pinjaman miliaran dollar. Apa alasan mengapa Turki harus memilih aliansi dengan Rusia dan China..?

Alasan pertama, dukungan elite politik Turki yang selama ini setia kepada Erdogan nampak melemah dan memilih menjadi oposisi diam karena sikap rezim Erdogan yang terkesan diktator, mengabaikan hak hak demokrasi, terutama terjadi ketegangan antara pemerintah dengan kelompok kurdi. Juga dampak buruk dari kebijakan rekonsiliasi dengan Israel. Isyu kerjasama bisnis Israel dan Turki untuk memasok gas lewat jalur pipa gas sepanjang 550 KM menuju kota pelabuhan Mersin, Turki itu terletak di Selatan negara tersebut dan di pesisir pantai Timur Laut Mediterania. Rencana ini juga belum nampak kemajuan berarti. Gas masih tergantung dengan Rusia.

Alasan kedua, ketidakstabilan politik dalam negeri ini juga datang di saat ekonomi Turki sedang memburuk. Pertumbuhan ekonomi melambat, korupsi merajalela dan investasi asing mengering. Belum lagi sangsi Rusia telah menyulitkan Turki karena 55% gas alam di suplai oleh Rusia. Berdampak penerimaan devisa menurun drastis. Karena 20% penerimaan sector pariwisata berasal dari Rusia. Sebagian besar jasa kontraktor Turki mendapatkan pekerjaan proyek APBN Rusia yang bernilai miliaran dollar. Pembeli utama produk pertanian Turki adalah Rusia.

Erdogan butuh perbaikan ekonomi Turki sebagai alat melanggengkan kekuasaanya. Karena kalau ekonomi terus turun maka rakyat yang tadi di belakang dia akan berbalik menjatuhkannya. dan di sini Rusia dapat memainkan peran yang sangat penting untuk menyelamatkan Erdogan. Alasan Ketiga, Erdogan menyadari bahwa campur tangan Rusia di Syria mendukung rezim Assad jauh lebih efektif secara politik dan rencana Turki menjatuhkan Presiden Bashar al-Assad praktis gagal. Erdogan mungkin juga ingin menemukan cara untuk menenangkan situasi di Syria dan mengurangi risiko ketidakstabilan Suriah mengarah ke Turki. Dan ini perlu Rusia membantunya.

Alasan Keempat, Erdogan harus menjaga diri dari perubahan kebijakan politik AS terhadap Turki yang kemungkinan tidak menyukai kebijakan Erdogan dalam membangun demokrasi di Turki. Kalau ini terjadi tentu tidak menguntungkan partai Erdogan. Sikap kepada Rusia adalah posisi tawar yang strategis dengan AS. Alasan Kelima, walaupun upaya untuk rekonsiliasi dengan Moskow telah di lakukan, Guncangan tabrakan “Brexit” mungkin sebagai pemicu Erdogan harus menemukan cara untuk melindungi diri terhadap dampak dari ketidakstabilan Eropa. Karenanya peningkatan hubungan dengan Rusia dapat membantu Turki keluar dari krisis domestik maupun regional. Bagi Rusia ,ini kesempatan untuk menggunakan bantuan Turki dalam upaya menstabilkan Suriah dan menemukan solusi kemenangan politik di Suriah pada khususnya dan Timur tengah pada umumnya.

Mungkinkah ini disadari oleh Erdogan? Sebaiknya Erdogan belajar dari Jokowi bagaimana memainkan kartu AS, Rusia, dan China. (Bandaro EJ)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Solusi Palestina

Opsi Solusi Palestina atas Konflik dengan Israel

Solusi Palestina. Secara umum, ada dua jenis opsi yang ditawarkan para pemikir dan pengkaji Timteng …