Home / Politik / Yang Bukan Penyair Tidak Ambil Bagian
Yang Bukan Penyair Tidak Ambil Bagian

Yang Bukan Penyair Tidak Ambil Bagian

Yang Bukan Penyair Tidak Ambil Bagian. Puisi Gusmus yang dikutip Ganjar dipersoalkan. Repot kalau berurusan dengan orang fanatik berlebihan. Saya sudah mengatakan, puisi tak bisa didekati dengan etika, norma sosial, agama. Dia berbeda jalur. Tidak ada pelecehan dalam puisi. Mau berkata jorok, menghina Tuhan, mengkritik agama dan pemerintah. Puisi bebas bas bas. Otakmu tidak cukup untuk memahami ini. Serahkan pada ahlinya.

Ada sebagian yang masih penyair-penyairan ikut menghakimi dan sok jadi hakim moral. Jadi penyair sungguhan saja belum. Puisi-puisinya religius, moralis, klise. Orang semacam ini penguasaan linguistik elementer saja belum, mau loncat ke sastra. Otakmu tidak akan kuat. Sudah, jadi orang biasa saja. Serahkan pada ahlinya. Tugasmu beli buku karya mereka, mengagumi keindahannya. Bukan berhayal sedang jadi mereka.

Saya kadang setuju dengan Chairil, “yang bukan penyair (mestinya) tidak ambil bagian.” Karena kalau semua orang sok paham puisi, sok jadi penyair, sok jadi hakim moral pula, kacau dunia. Penyair itu harusnya jadi profesi. Kau nulis satu-dua puisi (atau buku tak jelas) lalu berlagak jadi penyair?

Puisi memang milik siapa saja, ini kredo Rendra sebagai perlawanan terhadap kredo Chairil tadi. Namun maksudnya, bukan semua orang merasa jadi pujangga. Norak. Penyair itu pekerjaan seumur hidup. Siang-malam. Total. Bukan penyair jadi-jadian seperti banyak orang itu. Puisi memang harus membumi. Tukang becak, penjual sayur, banci pasar, germo, lonte, semua orang boleh menggemari puisi, merayakan puisi.

Namun harus tahu diri.

Ibu-ibu rumah tangga, guru, pekerja lepas, pengangguran, coret-coret di kertas atau ngetik di handphone, bikin satu-dua puisi, lalu jadi penyair. Atau orang yang tak tahu-menahu soal sastra tiba-tiba jadi hakim sastra di medsos, kritikoz. Mereka menganggap sastra itu sama dengan logika umum. Jika A=A, maka A bukan non-A. Itu tidak berlaku di sana. Begitu juga dengan moral. Jauh panggang dari api.

Maka kisruh soal puisi ini, mulai Sukmawati Soekarno, Gusmus yang dikutip Ganjar, adalah karena orang yang tak paham sastra ikut ambil bagian. Dalam puisi itu orang mau pakai diksi, vagina, kontol, jembut, klentit, menghujat Tuhan, melecehkan pemerintah, aparat hukum, merendahkan agama, tidak ada masalah. Kaitannya hanya dengan estetika. Puisi jelek yang menggunakan diksi tadi kelasnya ya tong sampah. Namun sebrutal apapun, puisi tak boleh dipolisikan. Kalau dikritik, dicemooh, dimaki, karena mutunya, itu sangat biasa.

Kalau kau masih jaim, merasa risih dengan diksi tadi, atau merasa terhina saat membaca puisi yang menghujat Tuhan, kau bukan penyair. Tahu diri. Duduk di pojokan. Biarkan ahlinya yang bicara. Jangan pula merasa beriman, kegelisahnmu itu bukti kedangkalan iman dan ilmu agamamu. Kau tidak berhak mendemo puisi di jalan bak orang gila.

Jika masih ngotot ingin jadi penyair ya belajar, menyimak, membuka diri, pahami esensinya. Bukan menghujat dan sok moralis. Di masjid, di rumahmu, di kalanganmu silakan begitu. Di dunia luar kau bukan siapa-siapa. Berhenti bertingkah paham sastra, apalagi merasa jadi penyair. Kau menghina profesi ini. Kelasmu belum sampai ke sana.

Minggir. Tahu diri. Duduk di pojokan. Yang bukan penyair tidak ambil bagian. (Elkayeni K)

About Anti Media

Kami mencoba membebaskan pikiran Anda. Tapi kami hanya menunjukkan pintunya. Anda sendiri yang harus berjalan melaluinya.

Check Also

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa

Oposisi Tidak Menjanjikan Apa Apa. Hal yang sulit dipahami adalah tidak pernah kubu oposisi memberikan …